
dr. Ammar kembali membawa obat anti alergi yang dibelinya di apotek karena ya tak membawa obat jenis seperti itu saat ini.
“Afsha cepat minum ini.” dr. Ammar menyerahkan obat yang dibelinya.
Afsha menerima obat itu dan segera meminumnya.
Beberapa saat setelahnya terlihat obat itu mulai bereaksi dan bintik-bintik merah di seluruh tubuh Afsha mulai berkurang sedikit demi sedikit.
“Nanti malam minum lagi obatnya mungkin besok alergi ini akan sembuh.”
Afsha kali ini mengangguk dan tampak patuh pada pria itu.
“Syukurlah jika sudah tak apa.” ucap ibunya Afsha merasa lega.
Beberapa saat setelahnya, dr. Ammar berpamitan karena jika dia berada lebih lama lagi di sana akan sampai di rumah pada malam hari.
“Hati-hati di jalan.” ucap ibunya Afsha ikut mengantar pria itu sampai di depan rumah bersama Afsha.
“Ya, nyonya.” jawab dr. Ammar.
Wanita itu kemudian masuk ke rumah dan tinggallah dr. Ammar saja dan Afsha di sana.
Di dalam rumah tadi mereka tak membahas masalah kak Cala sama dengan berbagai pertimbangan. Kurang pantas jika mereka membahasnya karena ada ibunya Afsha di sana.
“Lalu tadi kau bilang padaku ada masalah dengan jus yang ku minum. Apa kau yakin ada sesuatu di sana ?” tanya Afsha mendekat.
“Menurut ku begitu. Pasti mereka mencampurkan obat tidur di minuman itu.” timpal dr. Ammar menjelaskan.
“Tapi apa mungkin mereka melakukannya padaku ? Sedangkan dulu hubungan kami baik bahkan sampai sekarang.” kilah Afsha tak percaya dengan tuduhan tak berdasar tanpa bukti itu.
“Entah, aku tak yakin apa motif mereka memberimu obat. Tapi yang jelas mereka mencampurkannya ke minuman mu tadi. Kau tenang saja aku akan mengurusnya.” balas dr. Ammar degan tenang seperti biasanya.
Meskipun pria itu sebenarnya tak terima para pelayan di sana melakukan hal seperti itu pada Afsha.
“Aku pulang dulu.” pamit dr. Ammar.
Ia segera melaju mobilnya setelah Afsha melambaikan tangan padanya.
Di mobil dr. Ammar kembali memikirkan hal tersebut.
“Tapi jika memang benar salah satu pelayan di rumah adalah pelakunya, apa berani mereka bertindak senekat itu sendiri tanpa ada seseorang yang menyuruhnya ?” gumam dr. Ammar.
Ia memikirkan siapa dalang sebenarnya di balik peristiwa itu.
“Atau mungkin itu atas suruhan ibunya ?” pekiknya tiba-tiba terpikirkan pada wanita itu.
Sebelum-sebelumnya memang ibunya itu kurang begitu menyetujui hubungannya dengan Afsha jadi kemungkinan besar wanita itulah yang menjadi dalang dibalik semua ini.
buru-buru pria itu masuk ke rumah dan tanpa berganti baju lebih dulu ia menuju ke ruang pelayan.
“Sore dr. Ammar.” sapa empat pelayan yang saat itu sedang berkumpul.
Mereka saling menatap kenapa tiba-tiba saja tuannya itu mendatangi mereka dengan tatapan serius.
“Diantara kalian berempat siapa yang tadi memberikan jus kiwi pada Afsha ?”tanya dr. Ammar langsung tanpa basa-basi.
Karena baginya waktu sangatlah berarti.
Keempat pelayan yang ada di sana kembali saling bersitatap. Langsung takut dengan pertanyaan pria itu yang mendadak.
Terutama kak Cala yang tampak pucat pasi seketika.
“Sa-saya, tuan.” aku wanita itu tampak cuma sekali bercampur gelap gugup.
“Baiklah, kalian bertiga pergi dari sini kecuali Bi Cala.” ucapnya kini terlihat makin serius.
Langsung saja tiga pelayan yang tak disebut namanya segera pergi dari sana dengan perasaan lega, Meskipun mereka bertiga mengkhawatirkan kak Cala.
Tinggallah kak Cala sendiri yang kini menunduk dengan rasa cemas dan ketakutan luar biasa.
“Bi, tak ada orang lain di sini selain kita berdua. Aku harap bibi mau berkata jujur padaku. Apa benar kau mencampurkan obat tidur pada jus kiwi untuk Afsha tadi ?” tanyanya dengan tegas.
Hening, tak ada jawaban.
“Bi, Katakan yang sejujurnya atau aku akan bertindak.” ucapnya terdengar mengancam.
Kak Cala seketika ketakutan sendiri baru kali ini dr. Ammar semarah ini.
“I-iya tuan, aku mencampurkan obat tidur pada jus kiwi itu.” jawabnya dengan seluruh tubuh yang bergetar takut.
Suara tabrakan meja saat itu seketika terdengar yang membuat jantung wanita itu seakan copot mendengarnya.
“Katakan apa alasan mu melakukan itu pada Afsha. Apa kau tahu dia mengidap suatu penyakit jika terkena bahan yang kau berikan itu akan memicu penyakit namanya kambuh ?!” ucapnya mengintimidasi.
“Ma-maaf, tuan.”
“Katakan, apa kau melakukannya sendiri atau ada yang menyuruh mu ?”
“I-I-itu nyonya tuan yang memintaku.”
Seketika dr. Ammar langsung memerah mukanya mendengar jawaban dari pelayan tersebut.