
Abizar yang tak percaya dengan apa yang barusan diucapkan oleh putrinya menatap mereka berdua secara bergantian.
“Apa benar mereka berdua sudah bertunangan ?” batinya khawatir jika putrinya itu berbohong padanya.
Afsha tahu ayahnya tak mudah percaya begitu saja pada perkataannya.
“Aku harus meyakinkan ayah.” gumamnya lalu kembali berarti di depan kedua orang tuanya.
“Ehm... kau kelihatannya kepanasan. Lihat kulit mu ini terbakar.” ucap Afsha tiba-tiba menarik tangan dr. Ammar mendekat padanya.
Tak hanya itu saja, bahkan dia sampai mengusap pipi dr. Ammar lalu mengajaknya berjalan menuju ke tempat yang teduh.
“Rangkul aku.” ucap Afsha lirih sembari menatap intens pria tersebut yang hanya diam menatap nya dan diam saja saat Afsha menggenggam tangannya.
“What ?” tanyanya tak mengerti balas menatap Afsha dengan intens.
Afsha menggerakkan bibirnya pelan dan perlahan sampai pria itu mengerti maksudnya.
“Merepotkan sekali aku harus berpura-pura sebagai kekasihnya dan bersikap mesra di depan kedua orang tuanya.” keluhnya namun dalam hati.
dr. Ammar pun terpaksa menuruti permintaan Afsha dan ia pun mulai merangkul Afsha.
“Begini ?” ucap pria itu dengan kaku beralih merangkul leher Afsha.
Afsha mengangguk sembari mengedipkan matanya.
Abizar dan istrinya kemudian beralih menatap Afsha dan dr.Ammar.
“Kurasa hubungan mereka aneh terlihat seperti dibuat-buat.” celetuk pria itu mengajak bicara istrinya dan masih merasa ragu.
“Mungkin mereka malu karena ada kita berdua jadinya terlihat seperti itu.” timpal ibunya Afsha yang membuat Abizar kemudian Percaya saja pada ucapan istrinya dan juga mempercayai hubungan putrinya dengan pria yang telah menemukannya itu.
Segera saja mereka berdua menyusul Afsha dan dr. Ammar.
“Hentikan itu sekarang.” ucap Afsha lirih setelah menoleh ke samping dan melihat kedua orang tuanya berjalan menuju ke mereka tepat di saat dr. Ammar sedang bereksplorasi beradegan mesra.
“Ah.” langsung saja pria itu menarik bibirnya menjauh dari mata Afsha saat akan meniup mata gadis itu yang pura-pura kelilipan.
“Tuan Abizar...” dr. Ammar tiba-tiba gugup saat pria itu sudah ada di hadapannya.
Pria yang juga pernah mengalami masa muda itu tahu jika
“Bagaimana jika kita berkeliling dulu melihat Palm Tree Island ?” tanya Abizar.
dr. Ammar dan Afsha saling berpandangan kemudian mengangguk bersamaan.
“Ya.” jawab mereka singkat.
Abizar kemudian berjalan menuju ke pulau terapung buatan itu dan tak melewatkan satu tempat sekalipun disana. Bahkan ia mengajak dr. Ammar dan yang lainnya untuk makan bersama di restoran mahal yang ada di lokasi.
“Jangan sungkan-sungkan dr.Ammar.” ucap Abizar yang sudah memesankan banyak hidangan di meja dengan sengaja sebagai rasa terima kasihnya pada pria itu yang telah menemukan putrinya.
Dua jam setelahnya hari hampir sore dan mereka keluar dari lokasi Palm Tree Island.
“Ayah, kami mau pulang dulu.” ucap Afsha berpamitan.
Tentu saja Abizar langsung menarik tangan Afsha. “Tidak, kau harus pulang bersama kami.”
Afsha tak menarik tangannya dari ayahnya namun ia malah menarik tangan dr. Ammar yang ada di sampingnya dan menatapnya dengan mengiba berharap pria itu bisa membawanya kembali pulang ke rumah.
“Afsha sebaiknya kau pulang saja dengan ayahmu.”ucap dr. Ammar malah tidak mendukungnya.
“Astaga pria ini kenapa malah tidak mau mengajakku pulang ?” batinnya menatap tajam pada
dr. Ammar. Karena tak mengerti juga Maksudnya maka ia pun menginjak kaki dr. Ammar dengan keras.
“Auwh.” barula ia menatap Afsha.
“Bagaimana jika dia pulang bersamaku dulu tuan dan aku akan mengantar ke rumah anda besok.” jawabnya pada akhirnya yang merasa berada di tengah keduanya dan harus memilih namun ia memilih untuk bersikap adil pada mereka berdua.
Afhsa kembali menatapnya tajam namun kali ini ia membiarkan saja dan mengacuhkan tatapan itu bahkan sampai Afsha melepaskan tangannya dengan kasar.
Abizar bingung dan berani menatap istrinya untuk meminta pendapat darinya. “Bagaimana ini bu ?”
Ibunya Afsha kemudian berpikir sejenak sebelum menjawab.
“Jangan memaksanya Ayah daripada nanti dia kabur lagi.” bisik ibu demi kebaikan bersama.
Terpaksa mau tak mau Abizar pun harus merelakan putrinya itu pulang kembali bersama dr. Ammar dan jadinya pulang kembali ke rumah bersama istrinya saja.