
“Ibu, tapi aku ingin masuk ke kamarku sebentar saja.” ucap Afsha menolak dan berat kembali keluar.
“Ayolah, sebentar saja.” ibu malah menarik dan memaksa Afsha berjalan Kembali menuju ke ruang tamu.
Ck
Gadis itu hanya bisa berdecak saja. Sungguh ia benar-benar malas berurusan dengan dr. Ammar.
Mereka berdua sampai di ruang tamu. Ibu duduk di samping ayah dan Afsha terpaksa duduk di samping dr. Ammar karena hanya tempat duduk di sana yang tersisa di ruang tamu kecilnya.
“Kenapa kau tak memberitahuku lebih dulu jika ingin mengantar pulang Afsha, dr. Ammar ?” ucap Abizar menatap pria yang duduk berseberangan dengannya.
“Aku ini memberikan surprise pada anda, tuan.” jawabnya tersenyum kecil.
Sedangkan Afsha yang duduk di sampingnya hanya diam saja tak berkomentar.
“Surprise apa ? Kau lelaki memang pandai bersilat lidah. Mengusir ku paksa tapi mengaku memberi surprise.” batin Afsha kesal entah apa tujuan sebenarnya pria itu memaksanya pulang.
Mereka bertiga kemudian mengobrol hanya Afsha saja yang diam sendiri tadi dan hanya mendengarkan pembicaraan mereka saja dengan malas.
“Afsha ada apa dengan mu ?” ucap ayah tiba-tiba baru menyadari putrinya yang dari tadi diam bahkan wajahnya pun terlihat cemberut. “Apa kalian sedang bertengkar ?” tersenyum kecil melihatnya.
Afsha menautkan kedua alisnya beralih menatap dr. Ammar, “Ya ayah dia membuatku kes--”
dr. Ammar segera memotong ucapan Afhsa. “Tidak tuan sebenarnya itu hanya salah paham saja. Afsha meminta sesuatu hanya saja aku tak menurutinya jadi dia sedikit marah padaku.” jelasnya untuk menyangkal dugaan pria itu.
“Benar kan sayang ?” pria itu malah memegang tangan Afsha. “Aku minta maaf pada mu dan lain kali aku akan menuruti permintaanmu.” lanjutnya sembari tersenyum lebar.
Dalam hati Afsha Sebenarnya masih marah dan muak pada pria itu namun ia ingat pada status palsu hubungan mereka dan terpaksa mengganggu dan secepat kilat merubah raut mukanya dari kesal menjadi tersenyum lebar.
“Ya, sayang.” jawab Afsha mengucapkan kata sayang penuh dengan penekanan bahkan terdengar seperti sebuah ancaman.
Ayah dan ibu malah saling menatap kemudian tertawa melihat tingkah mereka berdua.
Mereka melanjutkan obrolan lagi sampai satu jam ke depan hingga dr. Ammar pun minta izin untuk pulang.
“Baik, hati-hati di jalan dan kabari aku juga sudah sampai rumah.” ucap Afsha dengan dingin saat mengantarkan dr. Ammar sampai ke depan rumah.
“Tunggu sebentar dr. Ammar.” ucap Abizar saat melihat dr. Ammar berjalan menuju ke mobil.
dr. Ammar berhenti kemudian berbalik menatap Abizar.
“Ya, tuan Abizar ?” ucapnya dengan sopan.
Abizar segera menghampiri pria itu kembali dan tatapannya terlihat serius yang membuat dr. Ammar jadi serius.
“Ini masalah tentang reward karena sudah menemukan putriku.” ucapnya memulai pembicaraan karena sebelumnya dia menyebutkan di surat kabar dan media lainnya jika barang siapa yang menemukan putrinya maka akan mendapatkan uang cash sebesar 20 juta Riyal.
“Ya, tuan Abizar ?” balas dr. Ammar sembari mengerutkan keningnya karena ia saat itu tak membaca mengenai reward apa yang akan diterimanya dan hanya membaca info kehilangan itu secara garis besar.
“Aku ucapkan banyak terima kasih sekali padamu karena sudah menemukan dan merawat putri itu di tempat mu. Untuk reward nya apa aku kirim sekarang saja ? Boleh aku minta nomor rekening mu ?”
“Maaf aku tak mengerti maksud tuan dan anda sepertinya tak perlu memberikan reward atau apapun itu namanya padaku.” jawab dr. Ammar kembali menautkan kedua alisnya.
“Tolong aku tak bisa menarik apa yang sudah ku ucapkan dan aku harus memberikan reward sebesar 20 juta riyal itu padamu sekarang juga.” desaknya.
dr. Ammar syok mendengar nominal reward yang barusan ditolaknya dan ternyata cukup besar, cukup untuk tabungan modal usaha.
“Sayang sekali aku sudah menolaknya tadi.” batinnya dalam hati menyesal kenapa tidak bertanya dulu dan langsung menolaknya saja.
“Tuan Abizar, anda sungguh tak perlu sungkan padaku. Aku melakukannya dengan ikhlas. Tolong jangan hargai aku dengan sejumlah nominal uang.” jawabnya tegas meskipun lain di hati lain di bibir.
Agak lama Abizar terdiam karena penolakan tersebut tapi tak mungkin juga ada yang memaksanya.
“Baiklah dr. Ammar aku ucapkan sekali lagi terima kasih banyak untukmu.” ucap Abizar pada akhirnya setelah berpikir dan mempunyai rencananya sendiri untuk tetap memberikan rewardnya itu dalam bentuk yang lain, suatu saat hari nanti.
“Sama-sama tuan Abizar.” pria itu pun kemudian kembali berpamitan dan segera masuk ke mobilnya yang langsung meluncur di jalanan menuju ke rumahnya.
“Padahal biaya obat, biaya baju dan biaya hidup Afsha Selamat tinggal di sana bisa tercover oleh reward tadi. Tapi ya sudahlah.” gumamnya masih menyayangkan reward yang seharusnya ia terima.
Pria itu menarik nafas panjang dan berat menatap jalanan yang cukup panjang untuk sampai ke rumahnya.