
Afsha masih diam mempertimbangkan akan memberitahu dr. Ammar atau tidak.
“Apa masalahnya dengan ayah mu ?” ulang nya lagi bukan untuk menghakimi melainkan merasa iba saat tadi melihat ekspresi ayahnya Afsha yang benar-benar terlihat sedih dan juga serius mencari putrinya yang hilang.
“Hiss...” Afsha membuang nafas berat dan ia pun akhirnya menceritakan karena ia pikir tak ada salahnya berbagi sedikit cerita hidupnya pada pria tersebut setelah cukup mengenalnya.
“Ayahku memaksaku menikah dengan putra seorang kenalannya yang sama sekali tidak ku ketahui dan aku kabur untuk menghindarinya.” jelasnya kemudian menatap lepas ke depan.
dr. Ammar hanya diam saja mendengar cerita Afsha. Ia tak bisa menyalahkan gadis itu yang terpaksa kabur dari rumah karena paksaan menikah juga tak bisa menyalahkan ayahnya Afsha begitu saja. Karena hampir mirip dengan ibunya yang pernah menjodohkannya jadi iya bisa mengerti apa yang dirasakan oleh Abizar Cailey.
“Lalu kau ada rencana untuk kembali kapan ?” tanya pria itu tiba-tiba begitu saja tanpa berpikir.
Afsha terdiam seketika dengan pertanyaan singkat namun sangat mengena itu.
“Aku tidak tahu.” jawabnya singkat.
“Tidak mungkin bukan kau akan selamanya berada di rumahku dan bekerja sebagai pelayan di sana ?”
Ucapan dari dr. Ammar itu baru pikirkan olehnya namun demikian Afsha juga tak tahu harus ke mana lagi setelah mungkin suatu saat pergi dari rumah pria itu.
“Mungkin aku akan hidup sendiri di kota lain atau mencari pekerjaan.” jawabnya asal saja tanpa berpikir matang.
“Ck.” dr. Ammar hanya berdecak saja menanggapinya dan terus melajukan mobilnya.
Tak lama kemudian mereka tiba di rumah. Afsha turun segera dari mobil untuk membukakan pagar dan menutupnya kembali setelah mobil masuk.
“Bukankah itu Afsha dan dr. Ammar ?” gumam kak Amla yang kebetulan lewat setelah keluar dari dapur dan berjalan sebentar ke teras untuk cari angin. “Kenapa dia keluar bersama
“Kau boleh memiliki baju itu.” ucap dr. Ammar di tengah jalan dan tentu saja senyum seketika terkembang di bibir Afsha.
“Terimaksih.”
“Tapi aku akan memotong gajimu untuk mengganti baju itu.” balasnya sembari tersenyum jahil kemudian terlalu pergi begitu saja meninggalkan Afsha.
“Hey aku tak suka dengan baju ini lebih baik nanti aku kembalikan langsung baju ini padamu.” protes Afsha sebenarnya ingin melepas baju yang dikenakannya saat ini dan melemparnya ke muka pria itu. Namun tak mungkin ia melakukan itu dengan segala banyak pertimbangan yang ada.
“Afsha kau dari mana dengan dr. Ammar ?” tanya Kak Amla setelah Afsha perjalanan menghampirinya dan mengajaknya masuk bersama ke rumah.
“Aku di paksa oleh pria itu untuk menghadiri pesta pernikahan tapi sekarang aku harus menerima gajiku dipotong lagi karena baju sialan ini.” gerutunya masih kesal dan tanpa sadar ia pun berjalan cepat meninggalkan kak Amla.
“Aneh sekali mereka berdua seperti sepasang kekasih sedang bertengkar saja.” gumam kak Amla mengangkat kedua baunya ke atas dengan cuek lalu meneruskan langkahnya masuk ke dalam.
Di dalam kamar, Afsha segera melepas baju tersebut kemudian menaruh baju itu ke kursi yang ada di dekat kamar dr. Ammar baru kembali ke kamarnya.
“Waktunya minum obat.” ia menatap botol obat yang ada di meja dan segera mengambilnya. “Jika saja aku tidak cocok dengan obatnya sudah pasti akan kubuang obat ini.” gerutunya lagi saat mengembalikan botol obat itu.
Ya, setelah mengkonsumsi obat buatan dr. Ammar, Afsha mengalami progres yang signifikan meskipun di awal-awal dia sempat mengalami efek samping yang tidak nyaman. Tapi saat ini tiga kepribadian lain dalam dirinya jarang muncul meskipun dia dalam kondisi tertekan.
“Apa aku sebaiknya menghubungi nomor tuan Abizar Cailey saja ?” dr. Ammar duduk menatap layar ponsel yang sedari tadi dipegangnya.
“Kasihan, dia pasti cemas sekali dengan kaburnya Afsha dari rumah.”
Setelah mempertimbangkan kembali akhirnya pria itu memutuskan untuk menghubungi pria tersebut.