
Nyonya Fatima dan Tuan Abizar saling tatap untuk beberapa saat dan baru berhenti bersikap saat ibunya Afsha datang.
“Kalian...” ucap ibunya Afsha juga mengenal sosok wanita yang pertama ke rumahnya.
Afsha fan dr. Ammar pun saling bersitatap.
“Apakah mereka bertiga sudah kenal sebelumnya?”
Tak ada yang merespon hingga tiga orang tadi kemudian duduk.
“Ammar, kenapa kau tak bilang padaku jika kau melamar putrinya orang ini.” ucap Nyonya Fatima. Menatap tajam pada tuan Abizar.
dr. Ammar menautkan kedua alisnya. Ternyata dugaannya benar jika ibunya mengenal Ayah Afsha.
“Sebenarnya apa hubungan ibu dengan tuan Abizar?” tanya dr. Ammar penasaran.
Seketika wajah Nyonya Fatima berubah masam. Terlihat kekesalan di sana tanpa perlu diceritakan.
“Tanya saja sendiri padanya!”jawabnya. Nyonya Fatima lalu membuang pandangan menatap ke tempat kosong.
Afsha lalu beralih menatap ayahnya, “Ayah, sebenarnya ada apa ini ?”
Tapi Abizar pun diam seribu bahasa tak ingin menceritakan hal itu. Ia tak menyangka saja bisa bertemu kembali dengan mantan kekasihnya dulu yang ia tinggalkan karena menikahi Sarah, istrinya saat ini.
“Fatima, masalah itu sudah berlalu puluhan tahun yang lalu. kuharap kau tak menyangkut pautkan hubungan kalian dulu dengan putra kita sekarang.” Nyonya Sarah, tiba-tiba angkat bicara di saat semuanya diam.
Hal itu semakin menambah rasa penasaran pada Afsha dan dr. Ammar, ada hubungan apa di antara mereka bertiga.
“Semoga saja hubungan mereka tidak buruk di masa lalu.” batin dr.Ammar.
Ia berharap ibunya tak punya masalah dengan keluarga Afsha melihat sorot mata dan raut wajah ibunya yang sangat marah kali ini.
Fatima masih diam saja menahan semua amarahnya tapi kini ia tak bisa membendung amarahnya.
“Tidak! Aku tidak akan melanjutkan pernikahan ini. Pernikahan ini batal!” hardiknya tegas lalu menatap tajam ke arah Abizar dan Sarah.
“Fatima! Kau tak bisa membatalkan pernikahan ini begitu saja. Kau tak boleh menghubungkan masalah anak kita dengan masalah kita dulu. Asal kau tahu saja, bukan aku yang menghianati dirimu saat itu tetapi kau yang mengkhianati aku. Sehingga aku memilih menikah dengan Sarah. Semua itu sudah berlalu!” balas tuan Abizar tak kalah dengan nada tinggi.
Ia tak terima saja jika pernikahan itu sampai batal. Karena cukup sulit menjalin hubungan baru untuk putrinya, terlebih dengan kondisi sakitnya seperti itu. Hanya dr. Ammar saja yang bisa merawatnya juga menerimanya
“Ibu, apa maksud ibu membatalkan pernikahan ini secara sepihak?” dr. Ammar segera berdiri.
Ia menatap tajam ibunya dengan menuntut. Menuntut penjelasan sejelas-jelasnya juga menuntut tidak ikut campur tangan pada masalahnya, masalah yang berkenaan dengan hati.
“Pernikahan ini batal! Jika sana ibu tahu dari awal dia adalah putrinya maka aku tak akan menyetujuinya. Ayo kita pulang sekarang! kurasa tak ada yang perlu dibicarakan lagi di sini. Semuanya udah jelas dan aku tak perlu mengulangi kembali.”hardik Fatima.
Ia pun keluar begitu saja dari rumah tanpa berpamitan dan langsung masuk ke mobil.
Sedangkan dr. Ammar masih ada di sana bersama keluarga Afsha.
“dr. Ammar, aku harap kau tak akan membatalkan pernikahan ini.” ucap Abizar. Berharap pria itu ada di pihaknya.
“Ya, Tuan. Aku tak akan membatalkan pernikahan ini. Aku akan bicara baik-baik dengan ibuku dulu untuk memenangkannya . Maaf aku permisi pulang.” pamitnya.
Ia pun segera keluar dari rumah dan masuk ke mobil menghampiri ibunya yang sudah duduk menunggunya.
“Afsha, biar saja mereka pulang. Tak usah di kejar ataupun di antar.” larang Abizar.
Afsha yang sudah berada di pintu dan akan keluar terpaksa mengurungkan niatnya dan masuk kembali ke rumah.
Ia hanya bisa menatap mobil itu berlalu dari rumahnya dengan perasaan tak menentu bagaimana kelanjutan pernikahannya dengan pria itu.