
Afsha turun dari mobil dan berjalan dengan malas. Ia berpikir jika mereka akan tersesat karena tak memberitahukan alamat rumahnya pada
dr. Ammar.
“Ternyata aku meremehkan dia.” ucapnya sembari membuang nafas berat.
Tak lama kemudian ia sudah berdiri di samping dr. Ammar.
klak.
Pintu terbuka terlihat bukan nyonya atau tuan rumah yang keluar melainkan pelayan, dan pelayan itu baru.
“Nona ini, aku seperti pernah melihatnya di mana ya ?” batin pelayan wanita berusia 40 tahun lebih itu menatap Afsha.
Afhsa sendiri cuek dan tak bertanya ada pelayan itu yang pastinya dia tak tahu siapa dirinya karena baru pertama kali ini bertemu.
“Maaf, nona dan tuan mencari siapa ?” ucap pelayan wanita tadi.
dr. Ammar sendiri merasa aneh kenapa bisa pelayan di rumah itu tak mengenali nona mudanya sendiri.
“Tentu saja kami mencari tuan Abizar.” jawab dr. Ammar.
“Maaf tuan, jika tak ada janji ketemu sebelumnya anda tak di izinkan bertemu dengan tuan Abizar.”
“Tapi aku sudah ada janji dengan beliau beberapa hari yang lalu dan baru bisa datang kemari.”
dr. Ammar bersi keras, ia Kak ini dari bahayanya mengantar sampai sejauh ini sia-sia saja.
Afsha tak bicara sama sekali dia pun langsung masuk begitu saja ke rumah tanpa bicara pada pelayan.
“Afsha !” panggil dr. Ammar.
“Nona !” panggil pelayan tadi saat melihat gadis itu terus masuk dan tak memperdulikan dua orang itu sama sekali.
Pelayan baru tadi segera mengejar Afsha karena ia takut sekali kena marah apalagi sampai dipecat oleh tuan rumah.
“Dia bilang tidak mau pulang. Tapi Seandainya di sini rupanya dia tak sabar untuk masuk.” umpat dr. Ammar kesal pada Afsha yang antara perkataan dan perbuatannya tidak konsekuen.
“Buat apa masuk ke rumah sendiri harus menunggu izin dari ayah. Ck, pelayan baru itu.” gumam Afsha melihat ke belakang sebentar kemudian terus berjalan menuju ke kamarnya.
Ia rindu dengan kamarnya seperti apa tempat itu setelah lama tidak ia tempati.
klak
“Nona berhenti ! Apa yang kau lakukan di sini ?” ucap pelayan wanita tadi sambil menarik mundur Afsha karena menurutnya kamu itu keterlaluan bahkan sudah melewati batas.
“Aku mau masuk ke kamarku sendiri, please jangan larang-larang aku lagi.” ucap Afsha pada akhirnya karena sedari tadi menahan kesal.
Pelayan tadi bukannya mengerti dengan penjelasan Afsha, ia malah semakin tak percaya padanya.
“Maaf nona tolong jangan paksa aku untuk bertindak kasar padamu.” pelayan tadi memperingatkan, namun Afsha tak menggublesnya dan di sana terjadi sedikit keributan yang terdengar sampai ke belakang.
“Ada ribut apa di luar ?” ucap Abizar yang ada di ruang makan bersama istri dan anaknya.
“Aku juga tidak tahu.” sahut sang istri.
Mereka berapa memutuskan untuk memeriksa langsung ke lokasi.
“Afsha ?!” pekik mereka berdua bersamaan kemudian menghampirinya dan memeluknya yang membuat pelayan tadi melongo melihatnya.
“Kau pulang nak, akhirnya.”
Pelayan tadi semakin terkejut lagi mengetahui jika tamu itu adalah bagian dari keluarga Abizar dan membuatnya seketika gemetar.
“Fatma apa yang kau lakukan pada putri ku ? Kau mengusir nya ?!” ucap Abizar dengan nada tinggi menatap pelayan barunya.
“Ma-ma-maaf tuan. Aku tidak tahu jika noda ini adalah putri anda.” jawabnya sembari menuntut.
“Kau kan bisa tanyakan padanya siapa dia ?” lanjut Abizar dan Fatma hanya mengangguk saja mengakui kesalahannya.
“Kau pulang sendiri nak ?” tanya ibunya setelah melepas pelukannya.
“Tidak bu, aku pulang bersama pria breng... maksud ku tunangan ku.” jawabnya hampir saja keceplosan jangan lupa pada status palsu pertunagan dan mereka.
“Dimana dia ?” Abizar tak melihat sosok pria itu di samping putrinya dan ia pun langsung berjalan ke ruang tamu namun di sana tak ada.
“Astaga kau masih di luar, masuklah dr. Ammar.” ucap pria itu setelah menemukan sosok yang dicarinya ada di teras rumah.
dr. Ammar kemudian masuk ke ruang tamu dan Abizar kembali ke belakang untuk memarahi pelayan barunya karena membiarkan tamu pentingnya ada di luar.
“Kita ke depan dulu jika begitu.” ajak ibunya Afsha kembali ke ruang tamu untuk menemui
dr. Ammar.