
Afsha berjalan lebih cepat daripada dr. Ammar dan berada di depan pria itu.
“Hey, tunggu aku !” panggil dr. Ammar sampai mempercepat langkahnya mengejar Afsha.
Tidak lucu bukan jika saat ini mereka sedang berakting sebagai sepasang kekasih namun terlihat jauh seperti itu.
“Afsha, aku sudah bilang padamu selama di acara pernikahan ini kau akan menurut padaku.” ucap pria itu mengingatkan yang membuat Afsha segera berhenti.
“Ya, dr. Ammar.” Afsha berhenti kemudian menunggu pria itu menyamai langkahnya dan baru berjalan kembali.
“Sebenarnya kenapa mengajakku kemari ?” tanya Afsha penasaran karena sama sekali tak ada penjelasan dari pria itu.
“Ini adalah pernikahan x--”
“Hai, Ammar !” belum selesai pria itu bicara dan akan memberitahukan siapa sebenarnya yang menikah, je seseorang menyapanya.
Seorang pria yang ada di acara pesta pernikahan saat itu menghampiri dr. Ammar.
“Hey Mahmud. Aku tak menyangka bertemu dengan di sini.” pria itu balas menyapa temannya sewaktu di bangku sekolah dulu.
“Kau kemari dengan siapa ?” Mahmud beralih menata gadis yang berdiri di samping dr. Ammar.
“Tentu saja dia tunangan ku.” balas pria itu dengan cepat sembari meraih lengan Afsha dan memegang nya.
Sementara Afsha mencoba tersenyum di depan teman dr.Ammar meskipun jujur sebenarnya dia merasa risih pria itu memegang lengannya seperti ini terlebih di depan banyak orang.
“Jangan lupa nanti jika kalian berdua menikah, undang aku.”
“Ya, pasti.” jawab dr. Ammar mengulas senyumnya.
Setelah Mahmud pergi karena istrinya memanggil, maka Afsha pun menarik tangannya.
Mereka percuma kemudian menuju ke meja makan di mana di sana terideng banyak makanan.
“Kapan kita akan pulang ?” tanya Afsha setelah mencicipi beberapa hidangan yang ada di sana dan juga merasa bosan karena sedari tadi harus berpura-pura mesra saat bertemu dengan teman dr. Ammar.
“Sebenarnya apa yang pria ini tunggu ?” Afsha ikut menatap ke arah kursi pelaminan yang kosong entah ke mana pengantinnya.
Afsha pun kembali menatap ke meja hidangan di depannya dan mengambil semangkok minuman es untuk mengusir rasa bosannya.
“Argh.” baru saja ia meminum sesendok es, tiba-tiba dr. Ammar menarik tangannya. “Apalagi ?” decaknya dengan kesal lalu terpaksa menaruh mangkok es tadi kembali ke meja.
“Dengar kita akan pulang dan memberikan ucapan selamat pada mempelai wanita.” bisik dr. Ammar setelah melihat pengantin duduk di kursi pelaminan. “Jangan lupa nanti beraktinglah sebagus mungkin juga terlihat sangat mesra di depan mempelai wanita.”
Afsha hanya mengerutkan keningnya tanda tak mengerti tapi segera mengangguk.
Kali ini Afsha yang menggamit lengan pria itu dan memasang tampang tersenyum.
“Airin selamat atas pernikahanmu dan semoga bahagia selalu.” ucap dr. Ammar menatap pengantin yang merupakan mantan kekasihnya dengan mengumbar senyum lebar.
Terlihat senyum kecut di wajah mempelai wanita saat melihat gadis di samping dr. Ammar.
“Siapa wanita yang datang bersama mu ?” ucap Airin lirih, namun tetap saja bisa mendengarnya dengan jelas.
“Sayang, kapan kita pulang ?” Afsha pun mulai berakting kembali pura-pura menjadi kekasih pria tersebut. “Astaga kau mulai berkeringat pasti kau kelelahan.” ia pun mengeluarkan sapu tangannya kebetulan ia bawa lalu mengusap keringat dr. Ammar.
“Afsha.... kau benar-benar pintar berakting, aku baru mengetahuinya.” pujinya dalam hati dan tak sia-sia usahanya menjadikan gadis itu sebagai kekasih pura-puranya untuk memanas-manasi Airin.
“Kau juga, sayang berkeringat seperti ini.” dr. Ammar bangunkan sapu tangan putih yang selalu ada di saku bajunya lalu mengusap dahi Afsha yang sama sekali tidak berkeringat.
Ia sengaja mengulur waktu sedikit lama dan mengumbar kemesraan mereka di depan Airin.
“Ammar... aku menyesal putus darimu.” batin Airin sejujurnya merasa hatinya perih teriris melihat mantan kekasihnya itu datang bersama gadis lain terlebih lagi mereka tampak mesra.
Setelah puas menggambar kebiasaan mereka maka dr. Ammar pun segera memutuskan untuk kembali ke motornya.
Secara kebetulan saat itu Abizar Cailey mendapatkan undangan pesta pernikahan tersebut karena untuk menghormati teman kerjanya.
“Aku seperti melihat Afsha di sini. “Tuan Abizar kemudian segala berlari untuk mencari putrinya karena mungkin saja ada disana