
Afsha merasa tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bahkan ia pun sampai mengucap matanya berulang kali mengira penglihatannya salah.
“A-ayah...” ucapnya dengan suara bergetar karena yang ada di depannya bukan ilusi. “I-ibu...” ucapnya lagi masih dengan suara yang bergetar.
Gadis itu terlihat syok berat. Ia tak tahu kenapa bisa ketemu ayahnya di sini secara kebetulan seperti ini.
Ibunya Afsha sudah merindukan sosok putrinya karena selama berbunan-bunda tak bertemu segera berlari menghampiri Afsha masih diam mematung.
“Afsha, ini benar kau nak.” ucap wanita itu tersenyum lebar mengelus pipi Afsha lalu memeluknya dengan erat.
“Lalu dimana dr. Ammar ?Bukankah pria itu tadi bilang padaku akan mencarikan ku minuman ? Tapi sampai sekarang pun dia belum kembali.” batin Afsha males menatap di sekitar mencari sosok dr. Ammar.
“Afsha apa kau tak rindu pada ibumu ?” tanya wanita itu karena putrinya hanya diam saja tak merespon ucapannya sama sekali.
“Ibu...” Afsha pun memeluk ibunya dan sebenarnya ia sangat rindu sekali pada wanita itu dan masih mencari keberadaan dr. Ammar.
Tanpa Afsha ketahui, pria yang dicarinya saat ini berada tak jauh darinya. Ya, dr. Ammar berada 10 meter dari tempatnya berada saat ini.
Pria itu sudah membawa minuman untuk Afsha namun ia terpaksa menghentikan langkahnya saat melihat tuhan Abizar beserta istrinya muncul menemui Afsha.
“Untung saja dia tak tahu aku ada di sini.” gumam dr. Ammar berada di balik kerumunan orang yang sedang menggelar tikar piknik dan ikut duduk di sana sambil tetap mengawasi Afsha dari kejauhan.
Abizar yang sangat terkejut dan tak percaya dengan apa yang dilihatnya sampai termenung terpaku menatap sosok Afsha.
“Afsha, putriku. Kemana saja kau nak selama ini ?” Abizar segera menghampiri Afsha dan ikut memeluknya.
Namun Afsha Sebentar lihat gemetar karena ia takut ayahnya akan mengajaknya pulang dan secara langsung dia harus menikah dengan pria pilihan ayahnya itu.
“Aku...” Afsha bingung dan masih merangkai kata untuk menjawabnya.
“Apa kau tidak tahu betapa susahnya kami yang telah mencarimu kemana-mana ?” tambah Abizar tersenyum lebar.
Setelah beberapa saat kemudian mereka berdua melepaskan pelukan dan mengajak Afsha duduk, untuk mengobrol.
“Sekarang ayo ikut ayah pulang.” di tengah obrolan seperti yang ditakutkannya, ayahnya akhirnya mengajaknya untuk pulang.
“Aku tidak mau pulang ayah. Aku tidak mau menikah dulu terlebih dengan lelaki yang tidak kau kenal putra dari temanmu itu.” tolaknya tegas.
“Ayah tidak akan memaksamu menikah dengan siapapun sekarang, jadi pulanglah.” ucap Abizar lagi berhasil meyakinkan putrinya dan membuatnya berhenti berontak.
“Afsha ikutlah dengan kami pulang.” ucap ibunya Afsha ikut membujuk.
“Tapi aku...” Afsha bingung tidak mungkin dia menjelaskan bekerja sebagai pelayan di rumah orang akan marah seperti apa nanti orang tuanya pada dirinya ?
Tepat di saat ia bingung, dr. Ammar datang.
“Kau lama sekali aku menunggumu baru datang.” ucap Afsha saat pria itu menyerahkan dua kaleng minuman dingin padanya.
“Maaf, kau tahu di sini ramai dan antri.” jawabnya sekenanya saja. “Afsha mereka...” menatap orang tua Afsha dan pura-pura tidak kenal pada mereka.
Tentu saja itu sudah mereka bertiga pikirkan sebelumnya untuk merahasiakan hal tersebut dari Afsha. Jika sampai Afsha tahu maka tamat sudah dr.Ammar.
“Mereka orang tua ku.” ucapnya menjelaskan singkat.
dr. Ammar hanya mengangguk saja. Ia bahkan memperkenalkan dirinya di depan orang tuanya Afsha agar gadis itu tidak berpikiran aneh-aneh padanya.
“Tuan dan nyonya Cailey perkenalkan aku dr. Ammar.” ia memperkenalkan diri sambil menjabat tangan kedua orang tua Afsha. “Aku tema--”
Belum sempat dia itu menyelesaikan ucapannya, Afsha segera menginjak kakinya dengan keras yang membuatnya terdiam seketika.
“Ayah, ibu dia tunanganku.”
Tak hanya Ayah dan Ibunya Afsha saja yang melongo mendengarnya, tetapi dr. Ammar juga.
“Sejak kapan aku menjadi kekasih mu ? Sembarangan saja kau !” protes dr. Ammar lirih dengan berbisik.
“Please, tolong aku. Anggap saja ini permintaan kedua ku untuk berpura-pura sebagai tunanganku. Aku takut ayah ku akan menjodohkanku kembali dengan pria lain.” balas Afsha berbisik lirih.
dr. Ammar pun bisa berkutik karena sudah terikat janji dan terpaksa dia pun harus mau dan rela berpura-pura menjadi tunangan palsu Afsha.
“Apa ? Kalian berdua tunangan ?!” pekik Ayah dan Ibunya Afsha bergantian.
Kini ganti mereka berdua yang melongo untuk yang kedua kalinya. Sungguh mereka tak menyangka saja pada hubungan kedua insan itu.