
dr. Ammar berada di jalan menuju ke kota Doha. Kota lumayan jauh dari tempatnya. Setelah menempuh perjalanan selama 2 jam lamanya pria itu pun tiba di sana.
“tok-tokl.” dr. Ammar segera mengetuk pintu setelah turun dari mobil.
Seperti biasa Fatma yang membukakan pintu rumah.
“Ada yang bisa dibantu, tuan ?” ucap pelayan itu setelah membuka pintu dan melihat seorang pria disana.
“Aku mau bertemu dengan tuan Abizar.” ucap dr. Ammar dan pengen itu teringat pada wajahnya yang pernah kembali ke berapa waktu yang bersama nona mudanya.
“Silahkan masuk dulu.” Fatma mempersilahkan masuk dan tak berani menamyakan apa ada janji lagi seperti dulu.
“Tuan, ada tamu. Pria yang dulu pernah kembali bersama nona Afsha.” ucap Fatma berdiri di depan pintu kamar Afsha.
“Ya.”
Abizar segera keluar untuk menemui tamu yang menurutnya pasti adalah dr. Ammar.
“dr. Ammar.” panggil Abizar menyapa pria itu.
“Bagaimana keadaannya, tuan ?” balasnya tak sabar ingin segera menemuinya.
“Dia ada di kamarnya dan masih pingsan.” Abizar pun mengajak pria itu untuk segera menemui Afsha daripada mengobrol lama di ruang tamu.
dr. Ammar sampai di kamar Afsha. Dia menghampiri Gadis itu ya masih terbaring di tempat tidur.
“Afsha.” panggilnya sembari menyentuh tangannya yang terasa dingin.
“Bagaimana kondisinya dokter ?” tanya ibu Afsha yang menunggu di sampingnya.
“Aku akan memeriksanya terlebih dulu nyonya.”
dr. Ammar kemudian mengeluarkan peralatan medis yang di bawahnya dan segera memeriksa kondisi Afsha.
“Apakah selama satu minggu ini penyakitnya kambuh ? Maksud ku apa kepribadian lainnya muncul ?” tanyanya tak hanya pada ibunya Afsha tapi juga pada tuan Abizar.
“Tidak.” jawab mereka berdua serempak.
“Jika kepribadian lainnya tidak muncul, maka itu artinya setelah dia siuman nanti bisa jadi muncul satu kepribadian nya.” begitu indikasi yang dijelaskan dr. Ammar.
“Itu yang terparah, tapi semoga saja tidak sampai muncul kepribadian lainnya.” tambah dr. Ammar saat melihat kecemasan di wajah mereka berdua.
Sebelum-sebelumnya jika Afsha berubah ke kepribadian lainnya, ayahnya pasti akan mengunci gadis itu di kamar sampai dia kembali berubah ke kepribadian utamanya.
“Seandainya saja dia masih tinggal di rumah ku, aku masih bisa merawatnya tapi jika jauh seperti ini apa yang bisa ku lakukan ?” batin dr. Ammar tulus ingin menolong gadis itu kali ini.
dr. Ammar kemudian mengeluarkan jarum suntik dan menyuntik Afsha dengan obat pembuka kesadaran plus obat khusus buatannya untuk penyakit skizofrenia itu.
“Oh... ada dimana aku ?” lima menit kemudian gadis itu menggerakkan ujung jemarinya dan kemudian membuka matanya.
“Kau ?” ucap Afsha terkejut saat melihat kedatangan dr. Ammar.
“Kau masih ingat aku ?” tanyanya untuk mengetes kepribadian siapa yang sadar saat ini.
“Tentu saja aku tahu kau ini tuan dokter menyebalkan.” jawabnya tersenyum kesal karena ternyata berjumpa dengannya lagi.
“Afsha, kami lega kau sudah sadar.” ucap mereka bertiga bersamaan karena yang muncul bukan tiga kepribadian lainnya.
“Kau ini, sudah berapa kali kubilang jangan minum obatmu yang lama. Ada kandungan senyawa yang tidak cocok dengan tubuhmu dan itu bukannya mengobati tapi malah memperparah penyakitmu.” tiba-tiba saja dr. Ammar mengomel panjang lebar memarahi Afsha.
Ayah dan ibu saling berpandangan melihat itu kemudian saling tersenyum.
“Kenapa kau bandel dan tak mau minum obat dariku ?” lanjut pria itu masih mengomel.
Bahkan dia pun mengambil obatnya yang barusan dibuka oleh Abizar.
“Minumlah ini.” ia memberikan obat itu pada Afsha dan mengambil obat lamanya lalu menyimpannya agar tak diminum oleh Afsha.
Afsha masih menolak meminum obat tersebut.
“Ayolah Afhsa, ikuti saja perintah dr. Ammar. Kami yakin dia bisa menyembuhkan sakitmu.” Abizar mendesak.
Terpaksa Afsha pun menelan pil itu.
“Ibu sebaiknya kita tinggalkan mereka berdua. Biar mereka Selesaikan masalah mereka sebelumnya.” bisik Abizar lirih pada istrinya setelah teringat jika mereka berdua masih ada masalah yang menggantung.
Tanpa berpamitan mereka berdua pun pergi dari sana.
dr. Ammar dan Afsha kemudian mengobrol santai. Namun di tengah obrolan mereka tiba-tiba obat itu kembali bereaksi.
“Ohh... kepalaku pusing sekali.” ucap Afsha merasa kepalanya sangat berat sembari memegang kepalanya.
Obat itu kembali bereaksi karena sudah tak diminum satu mingguan dan efeknya kembali seperti awal pertama kali meminumnya.
“Afhsa kau tak apa ?” pekik dr. Ammar khawatir.
Pria itu kemudian menangkap Afsha yang kembali pingsan dalam pelukannya.