Finding Perfect Wife

Finding Perfect Wife
Eps. 70 Hati Yang Kosong



Di dalam rumah, Afsha sudah berada di kamarnya bersama ibunya yang menemani dirinya.


Ia berbaring tempat tidurnya yang nyaman dan empuk.


“Aku tak menyangka gambar ini begitu lembut dan enak dan lagi semuanya masih tertata rapi seperti sebelumnya.” ucap Afsha sembari menatap ke seisi kamarnya.


Pelayan di rumah Abizar setiap hari membersihkan ruangan Afsha walaupun itu tak ditempati. Bahkan untuk tata letak barang dan benda yang ada di sana tak boleh dipindah atau digeser sedikitpun oleh ibunya Afsha, agar putrinya nanti juga pulang tetap bisa merasa nyaman seperti sebelumnya.


Ibu duduk di samping Afsha. Wanita itu tak henti-hentinya memanjatkan rasa syukur atas kepulangan putrinya yang sudah berbulan-bulan lamanya.


“Apa saja yang kau lakukan selama di rumah dr. Ammar, nak ?” tanya ibu ingin tahu aktivitas putrinya yang tidak diketahui selama dia pergi dari rumah.


“Tak banyak bu yang kulakukan di sana.” Afsha tak mungkin menceritakan aktivitasnya di sana yang bekerja sebagai seorang pelayan untuk menghidupi dirinya sendiri. “Aku disana menjalani perawatan dari dr. Ammar.” jelasnya singkat.


“Apa dia memperlakukanmu dengan baik di sana ?”


“Tentu saja ibu. Mana mungkin tunanganku akan memperlakukan ku dengan buruk di sana ?” balas Afsha kembali berbohong meskipun dalam hati dia sangat mengumpat keras pria itu karena memperlakukannya dengan sangat tidak baik sekali.


Itu semua ia lakukan demi pencitraan pria itu agar tampak sebagai sosok tunangan yang ideal di depan ibu dan ayahnya nanti yang tentu saja akan membuat posisinya aman tak akan dijodohkan kembali dengan pria manapun.


“Aku senang sekali pria itu bersikap baik dan lembut padamu. Aku jadi tak sabar ingin kalian berdua segera menikah.”


“Madha ?!” pekik Afsha sampai terkejut mendengarnya sampai ia ketika duduk.


“Ibu untuk saat ini jangan bahas dulu masalah menikah denganku, tolong. Aku belum siap.”tambahnya berterus terang karena tak mungkin dia akan benar-benar menikah dengan pria itu, pria yang kasar, arogan yang tidak masuk kriterianya sama sekali.


“Ya, nak.” ibunya itu hanya tersenyum kecil saja menanggapinya dengan singkat. Baginya satu Anugerah bisa kembali bertemu dengan putrinya.


Dua jam kemudian ibunya keluar dari kamar Afsha, dan Rafi ganti masuk ke kamarnya.


Afsha menoleh ke arah pintu begitu pintu kamarnya kembali terbuka.


“Rafi ! Kakak !” ucap mereka berdua saling memanggil dan tersenyum lebar.


Ia langsung memeluk kakaknya yang sudah ia rindukan perbulan-bulan lamanya. Terang saja adiknya Afsha itu Setiap hari selalu masuk ke kamar kakaknya meskipun kakaknya itu tak ada di sana dan berharap segera bertemu kakaknya. Ternyata Tuhan mendengar doanya untuk memulangkan kembali kakaknya.


“Kakak... aku rindu sekali pada mu.” ucapnya lagi lalu melepas pelukan kakaknya.


Mereka berdua kemudian berbicara panjang lebar sampai 2 jam lamanya dan setelahnya pintu kamar kembali terbuka untuk yang ketiga kalinya.


“Afni ! Kak Afni !” panggil Afsha dan Rafi bersamaan pada putri kedua keluarga Abizar itu.


Afni mengetahui kabar kepulangan kakaknya dari ibunya dan segera saja setelah ia pulang gadis itu langsung masuk ke kamarnya dan ternyata benar informasi itu.


“Kakak... aku sangat rindu sekali padamu, kak.” ia pun langsung memeluk kakaknya.


Dan suasana kamar Afsha saat itu semakin bertambah ramai dengan kedatangan adiknya.


Hingga sore hari barulah dua adik Afsha itu mengakhiri pembicaraan mereka itu pun terpaksa.


“Afni, Rafi kakakmu baru pulang biarkan dia istirahat dulu masih banyak waktu untuk kalian mengobrol nanti.” ucap ibu yang tiba-tiba masuk kembali ke kamar Afsha.


Mau tak mau dua adik Afsha itu pun keluar dari kamar kakaknya. Dan ibu pun mengikuti dua anaknya itu keluar karena tak ingin menganggu waktu istirahat putrinya.


Malam hari setelah makan malam, Afsha kembali masuk ke kamar secara berbincang dan mengobrol santai cukup lama dengan adiknya.


“Kenapa aku merasa ada yang kurang ?” gumamnya meskipun hatinya merasa senang sekali bisa berkumpul kembali dengan dua adiknya dan keluarganya namun entah kenapa ia merasa hatinya kosong.