
Pagi harinya dr. Ammar setelah bangun tidur tak masuk ke kamar mandi namun ia pergi ke kamar tempat Afsha dihukum. Dia khawatir saja pada kondisinya yang akan bertambah parah.
“Klak.” pria itu membuka jendela yang ada di sana dari luar karena ia juga tak memegang kunci kamar tersebut yang disimpan rapi oleh ibunya.
dr. Ammar menatap ke seisi ruangan dari jendela mencari sosok Afsha.
“Disana dia rupanya.” pria itu menemukan Afsha ada di samping pintu dengan mata sembab dan bengkak. “Afsha.” panggilnya.
Gadis itu pun menoleh mendengar suara yang memanggilnya. Ia pun berjalan menuju ke jendela.
“Om dokter...kenapa aku ada di sini ?” ucapnya sambil memegang teralis jendela. “Keluarkan aku dari sini, om.” pintanya.
dr. Ammar diam dan tak langsung menjawabnya. Ia mengamati wajah yang ada di depannya itu dan ia yakin Afsha sudah berganti kepribadian.
“Siapa dia ?” mencoba menebak kepribadian yang saat ini berdiam ditubuh Afsha. “Yang jelas dia bukan Afsha.” batinnya melihat gadis itu mengusap air matanya dan tubuh yang masih gemetar ketakutan.
“Kau siapa ?” tanya dr. Ammar daripada salah sebut dan malah marah padanya seperti sebelumnya.
“Aku Rasyid, om. Masa om lupa pada ku ?” jawabnya dengan gaya khas anak kecil yang lugu.
“Rasyid ?” dr. Ammar mencoba mengingat dan merasa pernah berinteraksi dengan kepribadian itu hanya saja dia tak tahu namanya. “Semalam kau bisa tidur tidak ?”
“Aku tidak bisa tidur. Takut dengan suara bising pesawat yang berisik dan baru berhenti satu jam yang lalu.” Rasyid mendekatkan diri ke jendela bahkan mengeluarkan tangannya meraih tangan dr. Ammar yang juga memegang teralis.
dr. Ammar sudah menduga hal itu akan terjadi dan dia pun sudah menyiapkan semuanya.
“Ini sarapan untuk mu.” ia membawakan sarapan pagi untuknya. “Ini obat mu.” pria itu menyerahkan dua obat. Satu obat untuk penyakit alzheimernya satu obat lagi merupakan obat tidur.
Sengaja ia menambahkan obat tidur agar gadis itu bisa tidur panjang jadi tidak terganggu oleh kebisingan di sana yang bisa membuatnya tertekan juga meminimalisir bertambah parahnya penyakit itu.
“Terima kasih om dokter.” Rasyid menerima semua pemberian tadi dan langsung memakannya satu per satu.
“Ingat jangan lupa untuk meminum obatnya pada siang hari juga malam hari.” ingatnya sebelum pergi dari sana.
Tak lama setelah pria itu pergi Rasyid sudah memakan sarapan pagi juga meminum obatnya dan 30 menit kemudian dia pun kembali tertidur tepat di saat Nyonya Fatima datang untuk memeriksanya.
“klak.” wanita itu pun membuka pintu dan mencari Afsha.
“Rupanya dia tidur.” ucapnya setelah masuk ke dalam dan mendapati gadis itu tertidur di dekat jendela. “Kasihan sekali pasti kau barusan tidur.” sebenarnya merasa iba tapi mau gimana lagi harus konsisten pada hukuman yang diberikannya.
Di saat wanita itu akan keluar dari sana pandangannya tiba-tiba tertuju pada sesuatu yang ada di dekat Afsha.
“Botol obat ?” ia pun berhenti dan mengambil botol tersebut kemudian memeriksanya. “Ini kan obat dari Ammar.” ia tahu persis obat buatan putranya sendiri dari kemasan juga merknya. “Kenapa dia memberikan obat ini pada nya ?”
Nyonya Fatima menaruh kembali obat tersebut lalu segera menutup pintu dan menguncinya kembali berjalan dengan cepat ke kamar putranya untuk minta penjelasan padanya.