Finding Perfect Wife

Finding Perfect Wife
Eps. 50 Tertarik Pada Afsha



“Ada apa ? Kenapa sampai kau tak mengenalkan dia padaku ?” tanya dr. Pasha menatap dr.Ammar dengan serius.


Karena tak hanya dr. Ammar saja yang membujang lama tapi dirinya juga sudah lama single yang dikarenakan profesinya sebagai dokter bedah membuatnya tak punya banyak waktu untuk berkencan dengan seorang wanita manapun.


dr. Ammar menarik temannya itu menuju ke tepi dan bicara empat mata karena tak ingin ada orang lain yang mendengar percakapan mereka.


“Ada apa kau sampai menarikku ke sini ?” dr. Pasha menarik tangannya setelah mereka berada di area yang cukup sepi di tengahnya hingar-bingar percakapan tamu yang hadir.


“Afsha itu pelayan di sini.”


“Apa masalahnya dengan statusnya sebagai seorang pelayan ?Aku fine saja dengan itu.”


dr. Ammar mendapatkan respon yang tak sesuai dengan harapannya dari temannya itu yang membuatnya mencari alasan lagi agar temannya itu tak mendekati Afsha.


“Dengar dia itu sebenarnya putri dari Abizar Cailey, pengusaha terkenal dari kota Doha.”


“Benarkah ?” dr. Pasha semakin tersenyum lebar saja mendengar penjelasan itu. “Wah, bagus itu malahan.”


dr. Ammar kembali mendapatkan respon tak sesuai dengan yang ia harapan dan kembali mencari alasan lagi.


“Hey, dia itu pengidap skizofrenia.”


“Oh ?” dr. Pasha urutkan tadinya mendengarkan penyakit yang di derita Afsha. “Menurut ku setiap orang kaya memang mempunyai kekurangan salah satunya penyakit serius seperti itu.” jawabnya malah tertawa lebar yang membuat dr. Ammar kembali memutar otaknya.


“Tidak, kau tidak boleh menyukainya apalagi sampai menikah dengan Afsha.” ucap


dr. Ammar lagi, menolak tegas.


“Hey, apa masalahnya denganmu ?”


“Ya, Afsha itu kekasih ku.” bisik dr. Ammar di telinga dr. Pasha lirih dan terpaksa berbohong.


“What's ?” pekik dr. Pasha tak percaya mendengar pernyataan teman dekatnya itu.


“Oh jadi kau selama ini punya kekasih dan merahasiakannya dariku ?” dr. Pasha malah merutuknya. “Selamat jika begitu kau tak lagi single. Tapi carikan gadis untuk ku. Mungkin ada temannya Afsha yang pantas bersanding denganku.” lanjutnya benar-benar menyerah.


“Ya, mengenai hal itu aku akan mendiskusikannya nanti dengan Afsha.”


Setelah percakapan mereka berakhir, dr. Pasha mari bergabung dengan teman yang lainnya. Sementara dr. Ammar baru sadar apa yang barusan dilakukannya.


“Kenapa aku sampai mengaku sebagai kekasih Afsha agar


dr. Pasha tidak mendekatinya ?” tanyanya pada diri sendiri. “Harusnya kan aku biarkan saja dia menjadi kekasih dari teman dekatku.”


Ia masih merasa aneh saja dengan dirinya yang lepas kendali kali ini tanpa sebab yang jelas juga tak bisa dijelaskan kenapa.


“Mungkin aku hanya ingin menjaganya disisiku sebagai bahan bully-an ku saja. Jika dia sampai menjadi kekasih terlebih istrinya dr. Pasha, aku tak bisa mem-bullynya lagi.” gumamnya mencari alasan yang pas untuk pembenaran kesalahan sendiri.


Acara makan itu berlangsung sampai siang hari. Meskipun acara sudah selesai dan semua tamu sudah pulang tetapi


dr. Pasha masih di sana untuk bicara sejenak dengan dr. Ammar. Namun ia kembali dipertemukan dengan Afsha.


“Sebaiknya kau bawa ini ke dalam.” ucap Kak Cala berberes mengambil wadah kotor dan memberikannya pada Afsha.


“Ya, kak.”


dr. Pasha dari kejauhan kembali menatap Afsha. Ia semakin mengagumi gadis itu setelah mendengar cerita dari dr. Ammar.


“Dia dari keluarga terpandang tapi mau menjadi pembantu di sini dan rajin bekerja. Sebelum janur kuning melengkung menurut ku sah saja jika aku mendekatinya.” batinnya tak bisa membohongi hatinya.


Langsung saja pria itu berjalan menghampiri Afsha yang masuk ke rumah, mengikutinya.


“Dimana dr. Pasha ?” tanya


dr. Ammar yang masuk sebentar ke dalam untuk berganti baju dan kembali lagi ke balkon, namun temannya itu ada di kursi.