
Di suatu sore yang sepi dr.Ammar baru pulang dari rumah sakit. Ia menghentikan mobilnya di depan rumah setelah bertemu dengan salah satu temannya.
“Ammar aku tak menyangka bertemu denganmu di sini.” ucap seorang lelaki dari sebuah mobil yang juga ikut berhenti di samping mobil dr. Ammar.
“Hey, Husein lama tak bertemu denganmu, bagaimana kabarmu ?” dr. Ammar langsung mengenali wajah teman lamanya di bangku kuliah dulu. Jika ia memilih jurusan psikiater maka temannya itu memilih jurusan dokter gigi.
“Aku baik seperti yang kau lihat. Aku baru datang dan ingin ke rumah ibu. Kebetulan sekali bertemu dengan mu.”
“Kau masih seperti dulu, tidak kurus atau gemuk.” dr. Ammar memperhatikan penampilan temannya itu yang hampir tak ada perubahan sama sekali meskipun sudah 5 tahun lebih mereka tak bertemu.
“Kau juga sama. Hanya saja kau terlihat lebih tampan dari sebelumnya. Apa kau sudah menikah ?”
Pertanyaan itu seperti momok bagi dr. Ammar karena sampai detik ini ia tak punya waktu untuk mencari pasangan hidup.
“Jika aku menikah pasti aku akan mengundang mu.” jawabnya tersenyum kecut. “Lalu bagaimana denganmu ?”
“Aku--” tiba-tiba ponsel Husain berdering dan ia pun segera mengangkatnya. “Maaf Ammar aku tak bisa berlama-lama di sini karena istri ku memintaku untuk cepat datang ke rumah ibu.”
Setelah berkata demikian Husein berpamitan dan terlihat terburu-buru.
“Ya, salam buat keluargamu di rumah.” timpal dr. Ammar saat mobil Husein kembali melaju.
“haah...bahkan Husain saja sudah menikah.” pria itu Hanya bisa menarik nafas kasar dan merasa iri dalam hati dengan teman yang sudah menikah lebih dulu daripada dirinya juga tanpa memberinya kabar.
“Kenapa tuan lama sekali tidak masuk ?” Afsha angkat gerbang rumah setelah mendengar suara mobil berhenti di sana, namun sudah 10 menit lebih tuanya itu belum masuk ke rumah juga.
dr. Ammar sendiri terlihat melamun meratapi nasibnya sebagai bujang lapuk.
Tepat di saat Afsha keluar seorang lelaki asing mendekat ke arah mobil lalu denhan cepat menarik tas selempang yang dipakai oleh dr. Ammar saat itu.
“Tuan, awas !” teriak Afsha setibanya di luar pagar.
dr. Ammar segera tersadar dari lamunannya begitu juga baru menyadari tasnya telah raib.
“Sial, tas ku di curi.” Ia pun segera membuka pintu mobil untuk mengejarnya, namun ia melihat Afsha sudah berlari lebih dulu jauh di depannya.
“Hey, pencuri berhenti kau !” Afsha terus berlari dan mengejar pencuri itu hingga jarak mereka saat ini hanya berjarak satu meter saja. “Kubilang berhenti.”
Pencuri tadi menoleh ke belakang dan terus berlari, “Sial ! Gadis ini kenapa mengejar ku ?”
“Dasar kau !” Afsha mempercepat larinya hingga akhirnya dia bisa meraih baju bagian belakang pencuri tadi dan membuatnya berhenti. “Serahkan tas itu ! Itu milik tuan ku !” merebut tas itu dari pencuri.
Detik berikutnya terjadi perebutan tas antara pencuri dan Afsha yang saling tarik menarik.
“Serahkan pada ku.” pencuri tadi merebut kembali tas dari tangan Afsha.
Karena Afsha merebut kembali tas itu dan berhasil merebutnya, pencuri tadi marah lalu mengeluarkan pisau kecil.
Entah kenapa kali ini Afsha terlihat shock melihat benda tajam tersebut.
“Pergi kau dari sini !” ucap Afsha setelah memukul pencuri tersebut, membuatnya babak belur dan membawa kembali tas dr. Ammar. Namun tiba-tiba ia merasa kepalanya pusing.
“Safa !” teriak dr. Ammar yang berlari mengejarnya dan sampai di sana tepat di saat gadis itu pingsan.