
Satu bulan berlalu dan obat Afsha sudah habis. Gadis itu mengambil ponselnya dengan malas pagi hari setelah bangun tidur.
kring
dr. Ammar pun membuka matanya karena mendengar ponselnya berdering.
“Siapa pagi-pagi begini sudah meneleponku ?” gumamnya dengan malas duduk.
Ia lalu meraih ponsel yang ia letakkan di meja.
“Afsha ?! Kenapa sepagi ini dia menelepon ku ? Apakah dia benar-benar merindukan aku ?”
Pria itu tersenyum kecil melihat siapa penelepon nya. Dan langsung saja ia mengangkatnya.
“Halo, Afsha ada apa ?” jawabnya duduk kembali di tempat tidur dan bersandar ke dinding.
“Obat ku habis tapi lebih baik kau mengirimnya saja daripada kemari. Aku tahu kau sibuk dan tak ingin mengganggu kesibukanmu itu.” ucap Afsha to the point saja.
“Ya, aku akan mengirimnya untukmu.”
“Kirim yang banyak sekalian jangan satu botol saja biar kau sendiri tidak kerepotan karena terus mendapatkan telepon dariku seperti ini.”
dr. Ammar hanya menyanggupi saja permintaan dapat di situ tapi jauh dilubuk hatinya ia sama sekali tersetuju dengan itu. Ia akan mengirimkan satu botol seperti biasanya.
Sengaja ia begitu agar dia punya alasan untuk bisa selalu bertemu dengan gadis itu.
Setelah panggilan berakhir, dr. Ammar bersiap untuk berangkat kerja seperti biasanya.
Sebelum berangkat ia mengambil satu botol obat untuk Afsha dan membawanya tanpa membungkusnya.
“Ammar, kenapa kau akhir-akhir ini sering bangun kesiangan dan berangkat kerja terlalu mepet ?” tanya nyonya Fatima.
“Tapi yang penting aku tidak terlambat ibu. Aku sedikit lelah akhir-akhir ini karena pasien bertambah banyak saja, ibu tahu itu.” balas dr.Ammar menjelaskan pada ibunya yang berdiri di depan pintu kamarnya.
Sebenarnya kedatangan ibunya kali ini bukan untuk menanyakan hal itu tapi menanyakan hal lainnya yang mengganggu pikirannya selama ini.
“Ammar, kau sudah melewati umur untuk menikah. Tapi bahkan sampai saat ini pun kau belum punya kekasih. Ibu tak ingin kau menjadi perjaka tua karena kesibukanmu itu.” itulah tujuan aslinya Nyonya Fatima.
dr. Ammar biasanya terlihat bingung saat ibunya menuntutnya untuk segera menikah seperti itu namun kali ini dia ternyata tenang sekali.
“Ibu tenang saja aku sudah punya kekasih.”
“Yang benar ? Siapa namanya ? Dan seperti apa dia ? Dimana rumahnya ! Siapa orang tuanya ?” tanya wanita itu terkejut dan saking penasarannya langsung melontarkan pertanyaan bertubi-tubi.
dr. Ammar melirik jam yang melingkar di tangannya. Sudah 10 menit mereka berbicara dan jika dia menjelaskan panjang lebar maka sudah dipastikan dia akan terlambat sampai ke rumah sakit.
“Ibu sudah mengenal gadis itu dan aku akan membawanya kembali jika ada waktu senggang.” jawabnya singkat tanpa menjelaskan satupun dari banyaknya pertanyaan ibunya tadi. “Bu, maaf aku hampir terlambat.”
dr. Ammar pun segera pergi setelah berpamitan dan bergegas ke mobil.
“Siapa yang dimaksud dengan kekasihnya yang ku kenal itu ? Selama ini Iya tak pernah mengenalkanku pada seorang gadis pun ?!” Nyonya Fatima sampai mengerutkan keningnya memikirkan siapa sebenarnya gadis tersebut selepas kepergian putranya.
**
Di Rumah Sakit tak sampai setengah hari pria itu membuka prakteknya.
Seperti biasa, ia memanggil asistennya untuk memberitahukan pada pasiennya jika praktek akan tutup dalam 2 jam ke depan.
“Aneh sekali, dua bulan ini dr. Ammar sering mengosongkan waktunya karena urusan mendadak. Sebenarnya urusan apa yang sangat mendadak sekali itu dan sampai membuat seorang dr. Ammar yang workaholic sampai meninggalkan kerjanya ?” gumam Yusuf 2 jam kemudian setelah menutup tempat praktek.
dr. Ammar sudah duduk manis di mobilnya dan melajukan kendaraannya itu menuju ke rumah Afsha.