Finding Perfect Wife

Finding Perfect Wife
Eps. 85 Alergi Bunga



Anehnya Afsha melihat biasa saja dengan kedatangan dr. Ammar dan sama sekali tak terkejut meskipun sebenarnya pria itu berniat memberikan surprise padanya.


“Jadi kau mengirimkan paket padaku lalu juga kemari mencariku ?” tanya Afsha sembari duduk di samping dr. Ammar dengan tatapan menuntut.


dr. Ammar sudah terbiasa dan hafal dengan sikap Afsha seperti itu. Namun meskipun ucapan Afsha barusan terdengar ketus, ia tetap saja tersenyum melihat wajah cantik yang selalu dirindukan nya itu.


“Aku kemari menyerahkan obat ini padamu.” dr. Ammar mengeluarkan satu botol obat dari dalam tasnya.


Afsha menerima botol obat tersebut saat pria itu mengulurkan obat itu padanya.


“Kenapa tidak mengirimkannya via ekspedisi saja ?”


Afsha menautkan kedua alisnya, bingung. Kenapa pria itu memilih sesuatu yang sulit disaat dia memberikan kemudahan padanya.


dr. Ammar tak mau banyak bicara dan pria itu menyerahkan buket mawar merah yang barusan dibelinya. “Terimalah ini.”


Sebuket mawar merah segar itu kini pindah tangan ke Afsha.


Hachi


Afsha langsung bersin saat mencium aroma bunga itu.


“Oh, tidak.” senyum dr. Ammar yang terkembang kini membeku terlebih ini melihat gadis itu mukanya langsung merah. “Afsha kau tak apa-apa kan ? jangan bilang padaku kau alergi bunga.”


“Ya, aku alergi serbuk bunga.” ucapnya lalu menaruh bunga itu ke meja.


Muka dr. Ammar pun seketika tertekuk dan tampak lesu. Niatnya memberikan surprise kata gadis itu tapi ternyata yang mendapatkan surprise jika dia alergi serbuk bunga.


Haah....


Pria itu hanya bisa menarik nafas dengan berat.


Menit berikutnya mereka berdua kembali mengobrol. dr. Ammar membahas seputar tentang hubungan mereka.


“Afsha, aku ingin mengajak mu bertunangan.”


Seketika Afsha langsung diam bahkan wajahnya pun terlihat serius mendengarkan.


“Aku belum siap menikah untuk saat ini.” jawabnya singkat.


“Bukan, kita hanya tunangan saja. Dan masalah pernikahan bisa kita bicarakan nanti.”


“Kurasa kita baru dua bulan jalan tapi kau sudah mengajak ku tunangan.” rupanya ia masih takut untuk melangkah ke jenjang pernikahan karena ia merasa belum puas menikmati masa mudanya, menikmati masa lajangnya. Ia tak siap Jika dalam waktu dekat harus segera mengurus suami juga mengurus anak.


dr. Ammar kali ini tak mau berdebat. Niatnya ingin melihat senyum Afsha juga pujian atau rasa terima kasihnya pada mawar yang telah diberikan namun malah berakhir dengan ketidak sepahaman.


“Aku pamit dulu jika begitu.” lagi-lagi dr. Ammar menghela nafas berat sambil mengusap mukanya.


Pria itu pergi begitu saja karena merasa kecewa. Satu bulan tidak bertemu dengan Afsha, ternyata gadis itu tak hanya dingin padanya tapi juga kerasa kepala seperti biasanya.


“Wait-wait.” Afsha berdiri dari tempat duduknya karena pria itu pergi begitu saja tak seperti biasanya. “Apa dia marah padaku ?”


Afsha pun segera keluar untuk mengejar dr. Ammar yang marah tanpa ia ketahui apa sebabnya.


“Hey, tunggu !” Afsha ngejar sampai ke mobil dr. Ammar dan menarik bajunya agar tak masuk ke mobil.


“Ada apa ? Aku sudah memberikan obatnya padamu.”


Ia berbalik sebelum masuk ke mobil.


“Kenapa kau pergi begitu saja ? Bukankah kau bilang kita ini kekasih ? Tapi kau bahkan tapi seperti teman daripada kekasih bagiku.” ucapnya panjang lebar karena pria itu sama sekali tak menggenggam tangannya atau apalah yang biasa dilakukan oleh sepasang kekasih.


dr. Ammar tak meresponnya dan langsung menarik Afsha masuk ke mobil segera mengunci pintu setelahnya.


“What's ?” Afsha tinggal juga tak tahu apa rencana dr. Ammar.


“Kau tahu aku sebenarnya sangat merindukanmu sampai-sampai aku memilih mengantarkan obat itu sendiri padamu dengan meluangkan waktuku yang padat. Tapi apa balasan mu, kau bahkan mengajak berdebat. Aku malas.”


Afsha baru kali ini melihat pria itu semarah ini. Lalu apa sebenarnya yang dia minta ?


“Kau tahu sendiri kita di kantor dan banyak mata di sana yang mengawasi kita.”


“Oke, dan sekarang kita sudah ada di luar kantor.” dr.Ammar menurunkan tingkat kemarahannya.


Tak hanya itu, dia melihat ke sekitar. Setelah melihat keadaan yang lengang, ia pun menggeser duduknya mendekat dengan Afsha.


“Apa yang kau lakukan ?”


dr. Ammar tiba-tiba memeluk Afsha erat dan lama.


“Biarkanlah begini untuk beberapa saat.”


Afsha menurut saja dan balas memeluk pria itu.


I