Finding Perfect Wife

Finding Perfect Wife
Eps. 76 Mencuri First Kiss



“Afsha !” dr. Ammar menangkap gadis itu dalam pelukannya.


Entah kenapa baru kali ini ia merasa nyaman saat memeluk seseorang.


Perasaan apa ini ? Bahkan pria itu pun tak tahu apa itu yang jelas saat ini ia hanya ingin memeluknya.


dr. Ammar bisa merasakan tubuh Afsha yang hangat dalam pelukannya.


“Afsha.” gumamnya lagi lalu melihat gadis itu masih memejamkan matanya.


Baru kali ini ia melihat gadis itu sedekat ini.


“Bulu mata mu ternyata lentik dan panjang.” batinnya lalu beralih menatap hidungnya yang mancung. “Kau cantik jika dilihat dari dekat.” gumamnya barulah menyadari kecantikan Afsha yang selama ini terbenam.


“Bibir mu...” tiba-tiba bibir merah tebal itu serasa mengundangnya untuk mencicipinya. “Apa yang kupikirkan ini.”


Pria itu memukul kepalanya sendiri saat ia akan mencium bibir merah tebal Afsha yang menggoda dan membuatnya cukup susah menelan salivanya.


“Afsha cepatlah bangun.” dr. Ammar pun tak tahan untuk tidak menyentuh bibir merah Afsha yang terasa lembut. “Atau aku semakin tidak waras saja.” menghela nafas panjang.


Daripada terus menatap intens wajah Afsha dan kembali melakukan sesuatu di luar kebiasaannya, maka ia pun memilih untuk memeluk kembali gadis itu.


“Begini lebih baik.” ia menyandarkan Afsha di bahunya.


Karena lama belum siuman juga, ia pun mengungkapkan isi hatinya agar dadanya yang sesak terasa ringan.


“Afsha... setelah kepergianmu aku merasa kesepian di sana. Kembali sendiri lagi seperti biasanya.” ucapnya sembari menatap intens Afsha yang masih memejamkan matanya.


“Aku tahu kau kesal padaku karena aku sering mengganggu mu. Tapi jujur saja aku sendiri juga tidak tahu kenapa aku suka sekali mengganggu mu, dan itu tak pernah kulakukan pada orang lain sebelumnya.” tambahnya menjelaskan.


“Melihat mu kembali seperti ini membuatku sedih. Seandainya saja kau tinggal bersama aku lagi pasti kau akan segera sembuh.”


Untuk beberapa saat dia pun terdiam karena tak ada kata lagi yang bisa dia ucapkan.


Beberapa menit setelahnya Afsha dalam keadaan setengah sadar tiba-tiba menarik tubuhnya dan meracau.


“Aku kesal dengan mu, dan aku akan memberimu pelajaran.” ucapnya menatap dr. Ammar yang tampak syok karena khawatir gadis itu mendengar apa yang diucapkan tadi.


“Kau siapa ?” ucap dr. Ammar.


Namun Afsha tak menanggapinya dan terlihat masih marah. Lebih parahnya lagi ia langsung mencium bibir dr. Ammar.


Bahkan pria itu pun sampai memejamkan mata. “Apakah seperti ini rasanya first kiss ?” Ia meminta maaf dalam hati lalu menyambut ciuman Afsha dan bisa merasakan bibirnya yang halus juga lembut.


tac


dr. Ammar mendengar suara derap langkah kaki menuju ke kamar.


bugh


Refleks saja ia mendorong tubuh Afsha menjauh dari dirinya serta membantingnya ke tempat tidur


klak


Tepat di saat pintu terbuka, Afsha pun membuka mata setelah di banting.


“Ayah !” Afsha segera duduk setelah sadar.


“Kau sudah sadar akhirnya.” ucap Abizar tersenyum kecil lalu duduk di samping dr. Ammar.


“Ada apa dengan ku ?” tanya Afsha bingung saat melihat ibunya juga masuk dan mengerubungi dirinya.


“dr. Ammar, kenapa kau ada disini ?” ucapnya terkejut melihat pria yang menangkapnya dengan wajah bertemu merah mentah karena apa.


“Jadi dia tadi dalam kondisi tak sadar saat mencium ku ?” batin dr. Ammar sedikit ada rasa penyesalan entah kenapa.


“Syukurlah kau sudah sadar. Ingat kau jangan benar sekali-sekali minum obat mu yang lama. Kau harus minum obat dariku agar penyakitmu sembuh total.” ucap pria itu mencoba menjelaskan.


“Jadi karena hal ini pria itu ada di sini.” batin Afsha akhirnya mengerti alasan kenapa pria yang tak ingin di temuinya itu ada di kamarnya.


“Tuan Abizar, kondisi Afsha sudah stabil. Jika begitu aku permisi pulang sebelum kemalaman sampai rumah.” pria itu pun apa cepat berpamitan agar bisa segera keluar dari sana.


“dr. Ammar kenapa terburu-buru, apa tidak ingin duduk sebentar atau mengobrol dulu dengan Afsha ?” tawar Abizar mengikuti pria itu berjalan keluar kamar menuju ke ruang tamu.


“Aku ada pasien di rumah, tuan. Jadi maaf aku tak bisa berlama-lama di sini.” ucapnya bohong untuk menghindari Afsha.


Karena jujur perasaannya menjadi tak menentu saat melihat gadis itu setelah ia mencuri first kiss nya meskipun dalam keadaan tidak sadar.


“Ya, baiklah dr. Ammar. Terima kasih sudah membantu dan hati-hati di jalan.” Abizar tak bisa menahannya dan mengantarnya sampai ke depan pintu.


“Kenapa pria itu pergi seolah menghindari ku ?” gumam Afsha setelah mendingan suara deru mobil di luar.