
“A-aku tidak sengaja memecahkannya, nyonya. Maafkan aku.” ucap Afsha segera berdiri di samping vas kaca yang sudah pecah.
Ia menatap wanita yang berdiri di samping dr. Ammar dengan gemetar setelah sebelumnya wanita itu pernah menghukumnya.
“Semoga saja aku tak akan kena masalah.” batin Afsha tak berani menatap Nyonya rumah dan bersiap menerima hukuman yang pastinya ada untuk dirinya.
“Kau tahu tidak ? Vas ini sangat berharga bagi ku. Ini adalah pemberian ayah mertuaku yang didapatnya saat liburan ke Swedia tahun 1965.”
Afsha diam menunduk mendengarkan omelan dari rumah. Bahkan dr. Ammar pun ikut diam saja saat ibunya itu sedang marah.
“Maaf nyonya Fatima, aku aku akan menggantinya. Silahkan Nyonya potong gajiku sesuai dengan harga vas itu.” ucap Afsha Nyonya rumah berhenti mengomel.
“Kau bilang mau mengganti dengan bayaranmu ?” ternyata amarahnya belum reda meskipun sudah diam dan berjalan lebih mendekat. “Berapa pun gajimu tak akan bisa mengganti vas ini.” tambahnya dengan nada mulai meninggi.
“Habis sudah aku. Aku tak tahu jika benda ini sangat berharga sekali baginya.” batin Afsha hanya bisa menata pecahan vas di dekatnya lalu beralih menatap dr. Ammar bermaksud meminta bantuan padanya. “Sial, dia tak mau membantuku.” umpatnya dalam hati saat pria itu hanya menatapnya saja.
“Maaf Afsha, Aku tak bisa membantumu kali ini.” batin pria itu kemudian mencoba beralih menatap ke vas yang pecah daripada menatap Afsha.
“Lalu dengan apa aku akan bisa menggantinya nyonya ? Apakah aku harus bekerja seumur hidup di tempat ini ?” ucap Afsha menawarkan opsi yang dia sendiri juga tak yakin bisa menjalaninya atau tidak.
“Tak perlu !” jawab Nyonya Fatima sengit dan tonight semakin kesal mendengar jawaban Afsha. “Kau keluar saja dari sini jangan pernah kembali ke sini.”
Afsha menelan salivanya dengan berat apa yang ditakutkannya terjadi juga. Ia diusir dari rumah itu dan terpaksa harus pulang.
“Tolong nyonya jangan usir aku. Aku berjanji selanjutnya akan berhati-hati dan tak akan merusak barang apapun di sini. Juga anda tak perlu menggajiku selama aku bekerja.” ucapnya memohon berharap wanita itu bersedia mempertimbangkannya dan tak memecatnya.
“Tidak bisa ! Jika Aku mau pekerjaanmu di sini lebih lama lagi mungkin bukan hanya pasku saja yang rusak mungkin barang penting lainnya akan bernasib sama di tanganmu !” ucapnya kemudian sudah pergi meninggalkan Afsha.
“Ingat dalam waktu 24 jam kau sudah harus pergi dari sini. Dan bawa semua barang pergi dari sini !” tambah Nyonya Fatima berbalik kembali menatap Afsha sebelum benar-benar menghilang dari sana.
“Kenapa kau diam saja dan tak mau membantuku ?” ucap Afsha beralih menatap pria di depannya yang belum beranjak dari tempatnya.
“Kau tahu sendiri seperti apa ibuku. Sudahlah tak masalah. aku akan mengantarmu besok ke rumahmu sekaligus bertemu ayah mu.”jawab dr. Ammar dengan santai.
Response Afsha kali ini benar-benar tak seperti yang di harapankannya.
“Terimakasih, tak perlu mengantarku pulang aku bisa sendiri.” jawab Afsha kemudian segera pergi dari sana.
“Hey, kau !” panggil dr. Ammar namun Afsha tak berhenti menanggapi panggilannya. Bahkan pria itu sampai mengejarnya segala.
Bukan karena ia mau meminta maaf pada Afsha. “Hey, lalu pecahan vas ini siapa yang membersihkan nya ?!” teriaknya saat Afsha benar-benar sudah menghilang dari sana.
Karena Tak Mungkin ia membersihkannya sendiri maka ia pun memanggil pelayan lah ya untuk membersihkan pecahan vas tersebut.
Keesokan paginya Afsha berpamitan pada semua pelayanan yang ada di sana.
“Kak Amla, kak Fajar, Kak Amla dan Kak Cala maaf jika aku punya salah ataupun kekurangan pada kalian. Aku pamit sekarang.” ia memeluk satu per satu wanita itu kemudian pergi membawa barang bawaannya.
Ia mencari Nyonya Fatimah untuk berpamitan padanya namun wanita itu tak ada di rumah.
“Sebaiknya aku mereka sekarang dan lebih baik naik taksi saja ke terminal bus.” gumamnya.
Di depan ia bertemu dengan dr. Ammar, namun Iya tak bicara dengannya ataupun menatapnya dan berlalu begitu saja.
“Afsha, tunggu !” dr. Ammar menarik tangan Afsha.