
Nyonya Fatima berjalan menuju ke kamar putranya dan melihat pintu kamar itu terbuka.
“Ammar.” panggilnya masuk ke kamar lalu menetap ke sekitar. “Dimana dia ?” mendapati kamar yang kosong tak berpenghuni. “Apa mungkin dia sudah berangkat ?” maka wanita itu pun memutuskan untuk keluar saja dari sana.
Tepat di saat dia berada di luar kamar, ia bertemu dengan dr.Ammar yang akan masuk ke kamar.
“Ibu, ada apa mencari ku ?” tanyanya sembari mengambil kunci mobil dan tas kerjanya dari meja kamar.
“Ada yang ingin ibu tanyakan padamu.”
“Ya, ibu ?” pria itu sampai menerapkan pentingnya pagi-pagi begini ibunya mencarinya, tak seperti biasanya dan ada apa gerangan ibunya sampai menunggunya di kamar.
“Kenapa kau memberi pelayan itu obat mu ?”
dr. Ammar seketika terkejut mendengar pertanyaan tersebut. “Bagaimana bisa Ibu mengetahui hal itu ?” batinnya sambil berpikir untuk menjawab pertanyaannya. “Apa ibu dari sana melihatnya ?”
“Ya, tentu saja. Kenapa kau memberinya obat syaraf ?” tanyanya dengan menuntut.
“Itu sebabnya aku meminta ibu jangan menghukum dia di ruangan itu karena gadis itu mengidap skizofrenia dengan empat kepribadian.”
“Oh benarkah ?” kali ini Nyonya Fatima yang terkejut mendengar jawaban dari putranya.
“Aku khawatir jika Ibu membuatnya tertekan seperti itu maka penyakitnya akan semakin bertambah parah.”
“ck.” wanita itu malah berdetak. “Kasihan sekali dia. sudah miskin mengidap gangguan mental disorder seperti itu. Sungguh kasihan sekali dia dan lebih kasihan lagi nanti pria yang akan menjadi suaminya.”
Nyonya Fatima sampai berdecak kembali sembari menggelengkan kepalanya.
“Apa ?” wanita itu kembali terkejut mendengar penjelasan dari putranya. Selama ini ia tak pernah melihat secara langsung pengidap skizofrenia apalagi yang sampai mempunyai kepribadian ganda yang membuatnya takut.
“Aku berangkat dulu Ibu.” dr.Ammar melihat wajah ibunya yang terlihat bingung dan ingin mengajukan pertanyaan lagi namun ia sudah sampai di mobil tepat di saat bibir wanita itu bergumam.
“Ammar !” pekiknya baru sadar jika putranya itu berhasil menakuti dirinya juga sudah memberikan perintah padanya.
Ya, wanita itu kembali lagi ke ruangan tempat menghukum Afsha setelah kepergian dr. Ammar.
“Apa aku harus mengeluarkannya sekarang ?” gumamnya ragu sembari melihatnya dari balik jendela. “Jika pun dia harus keluar sekarang mereka setidaknya biar Ammar saja yang mengeluarkannya.”wanita itu benar-benar takut akan seperti apa Afsha nanti saat berganti kepribadian.
Nyonya Fatima kabur dari sana secepat mungkin karena tak mau sampai bertemu dengan kepribadian menakutkan yang diceritakan oleh putranya.
Sementara itu di Doha, keluarga Afsha masih terus melakukan pencarian putrinya yang hilang hingga saat ini. Bahkan fokus pencarian kali ini berpusat di kota As Sani mengingat sebelumnya ditemukan transaksi penarikan ATM di daerah itu.
Pihak kepolisian tak hanya menyisir tempat itu saja namun kembali menyebar foto berikut berita tentang menghilangnya Afsha di media cetak.
“Aku harap ada yang menemukan putriku segera. Sudah hampir dua bulan ia hilang, bagaimana kondisinya sekarang ?” ucap lirih Abizar Cailey, ayahnya Afsha keluar dari kantor kepolisian setelah menanyakan hasil penyelidikan yang belum juga menemukan putrinya.
dr. Ammar duduk sejenak di jam istirahat di ruangan lain biasa ia beristirahat. Di sana ada banyak koran dan bacaan. Iseng pria itu mengambil sebuah koran hari ini dan membacanya.
“Waktu istirahat ku masih banyak jadi tak ada salahnya aku membaca sebentar informasi hari ini.” pria itu terus membalik halaman membaca informasi hangat yang sedang terjadi saat ini.
Pandangannya tiba-tiba terhenti saat membaca berita kehilangan dengan menampilkan foto seorang gadis yang sangat dikenalnya.
“Afsha ?!” pekiknya terkejut melihat foto pelayan di rumahnya terpampang dalam daftar pencarian.