
Di rumah, dr. Ammar di sore hari sepulang dari rumah sakit.
Pria itu duduk di tempat tidur bersandar ke dinding seperti biasanya setelah menaruh handuk basah untuk mengusap rambutnya yang basah setelah keramas.
Manik matanya tertuju pada kalender meja yang masih bisa dilihatnya dengan jelas.
“Akhir pekan depan aku sudah berjanji pada ibu akan membawa Afsha kemari. Aku harus mempersiapkan segala sesuatunya mulai dari sekarang.” dr. Ammar tampak berpikir sembari memegang dagunya yang mulai ditumbuhi rambut halus.
Ia lalu teringat tentang status pertunangan mereka.
“Aku harus sudah bertunangan dengannya sebelum kemari menemui ibu.” gumamnya.
Dia pun bermakasud memberitahukan hal itu pada Afsha.
dr. Ammar lalu meraih ponsel berwarna hitam di meja lalu menghubungi nomor Afsha.
kring
Afsha melirik ponselnya di kasur yang berdering tepat saat ia masuk ke kamar akan ganti baju setelah pulang dari kantor.
“Siapa yang menelepon ?”
Sebenarnya Afsha ingin duduk sebentar setelah berganti baju untuk melepas penatnya. Namun akhirnya ia angkat juga telepon itu setelah mengetahui siapa yang menelepon.
“Ya, ada apa meneleponku sore begini ? bukannya jam segini kau baru pulang ?” jawab Afsha sembari duduk.
“Sebelum akhir pekan di minggu depan kita harus sudah bertunangan. Aku ingin tahu kapan waktu luangmu jadi kita bisa pergi bersama untuk membeli cincin tunangan.”
Afsha menarik nafas panjang sambil mencengkram sprei tempat tidurnya dengan erat.
“Kau... kenapa selalu mengambil keputusan sendiri tanpa bertanya dulu padaku ?” protes Afsha kesal bukan main.
Baginya tunangan atau tidak itu Tak ada bedanya toh mereka hanya ke sana saja untuk bertemu ibunya dan menurutnya itu terlalu berlebihan.
“Ini demi kebaikan kita.” timpalnya singkat tak menjabarkan apa alasannya.
dr. Ammar tahu seperti apa ibunya. Dan itu ia lakukan bukan tanpa alasan untuk mengamankan hubungan mereka jika saja ibunya itu tak menyetujui hubungan mereka.
“Tidak, aku tidak mau.” tolak Afsha tegas.
“Tidak, kau tidak bisa dan tidak boleh menolak. Besok pagi aku akan kesana dan menjemput mu.” dr. Ammar juga tegas pada pendiriannya meskipun ia tak bisa menjelaskan alasannya.
dr. Ammar lalu mematikan panggilan karena ia tahu Afsha akan marah padanya. Dan ia tak mau berdebat panjang dengan gadis itu.
“Hey, kau ini malah mematikan telepon saat aku belum selesai bicara.” Afsha sampai berteriak saat ia mendengar bunyi sambungan telepon terputus. “Dasar, kebiasaan kau !” umpatnya benar-benar kesal dengan tatapan mata penuh amarah.
Ia pun kemudian membanting benda pipihnya tersebut ke kasur dengan keras.
“Kenapa aku mau menjalin hubungan dengan pria kasar semacam itu ?!” Afsha mengumpat entah mengumpat siapa, dirinya ataukah dr. Ammar.
Keesokan pagi.
Di hari minggu yang cerah, dr. Ammar sudah terlihat rapi juga harum masuk ke mobil kemudian berlalu pergi dari rumahnya.
“Tumben sekali hari libur seperti ini tuan pergi. Apa ada tugas di rumah sakit di hari libur ?” gumam kak Amla saat melihat dr. Ammar melenggang dari rumah.
Padahal biasanya pria itu tak pernah keluar dari rumah. Dia keluar rumah bisa dihitung dengan jari berapa kali dan itu pun hanya dengan teman kerjanya sesama dokter, dr. Pasha dan lainnya.
Meskipun kesal, Afsha pun rupanya sudah bersiap dan terlihat rapi hari ini.
Meskipun marah, ia pun duduk menunggu di ruang tamu.
Tok-tok
Fatma datang untuk membuka pintu ruang tamu setelah mendengar suara ketukan pintu.
“Biar aku saja yang buka. Bibi bikinkan dua gelas minuman.” ujar Afsha karena yakin yang datang saat itu adalah dr. Ammar.
Bibi Fatma pun menurut saja dan melepaskan handle pintu yang akan ditariknya lalu berbalik dan masuk ke dalam.
Klak
Afsha membuka pintu dan benar saja wajah tampan dr. Ammar menyembul di balik pintu dengan senyum lebar mengembang menambah pesona pria itu.
“Kau sudah siap ?” tanya dr. Ammar.
“Masuklah dulu dan duduk sebentar sebelum kita keluar.”
dr. Ammar lalu masuk ke ruang tamu. Saat duduk, ia menarik Afsha untuk duduk di sampingnya.