
“Oups !” dr. Ammar segera menangkap Safa yang jatuh karena pingsan. “Dalam beberapa hari ini aku sudah berapa kali menangkap tubuhmu ?” desaunya sembari menghitung jarinya.
Pria itu pun membaringkan Safa ke tempat tidur. Kali ini ia tak menunggu gadis itu sadar dan memutuskan untuk meninggalkannya saja karena ia sendiri juga lelah dengan pekerjaannya seharian ini.
“Dia pasti lupa untuk minum obat.” dr. Ammar kemudian mencari secarik kertas dan menuliskan di sana aturan pakai obatnya serta efek sampingnya agar Afsha tidak lupa meminumnya.
Obat dari dr. Ammar memang mempunyai efek pusing sekali di awal minum dan rasa pusing itu akan berangsur-angsur hilang bersamaan dengan hilangnya kepribadian semu seseorang pengidap skizofrenia.
“Selamat malam, aku mau tidur dulu.” pria itu pergi dari sana setelah menaruh obat di meja dekat tempat tidur Afsha, kembali ke kamarnya.
“It's tiring day.” dr. Ammar segera memejamkan matanya setelah berbaring di tempat tidur. Ia tak mau memikirkan masalah yang ada demi mendapatkan tidur yang berkualitas.
Pagi harinya Afsha bangun. Ia menatap ke sekitar. “Apa semalam aku berganti kepribadian lagi ?” gumamnya merasa tak ingat apa yang terjadi pada dirinya semalam dan sudah kembali ke kepribadian utama.
“Apa ini ?” ia mendapati obat dari dr. Ammar ada di sampingnya plus ada tambahan aturan pakai. “Pasti ini kerjaan dr. Ammar.” ia membiarkan saja betul itu tetap ada di sana berlalu begitu saja.
“Afsha cepat bantu mencuci karpet ini.” suara kak Zaitun dari luar terdengar melengking hingga membuat Afsha setengah berlari menuju ke teras depan.
“Ya, kak.” balas Afsha sembari berteriak dan tak lama kemudian ia tiba di teras.
Kak Zaitun sedang menyabun karpet sembari memegang selang di tangan kirinya.
“Biar aku yang menyemprot karpet dengan selang.” Afsha mengambil selang dari tangan Kak Zaitun dan boleh menyemprot karpet untuk membilas sabun.
dr. Ammar sengaja melewati kamar Afsha. Iseng ia pun masuk kesana.
“Hey Safa... Afsha kau sudah minum obatnya belum ?” tanyanya tanpa menatap ke sekitar.
Tak ada jawaban dan barulah pria itu memperhatikan sekitarnya.
“Dia tak ada di sini rupanya.”di saat dr. Ammar akan berbalik tatapannya tertuju pada botol obat yang masih ada di meja. “Gadis itu minumnya atau tidak ?”
“Gadis itu kenapa dia tidak mau minum obatnya padahal aku sudah menuliskan aturan pakainya.” merasa kesal karena menolak kebaikannya. “Atau mungkin dia meremehkan kemampuanku sehingga tak mau meminum obat dariku ?” ia pun jadi berpikiran negatif karenanya.
“Aku akan membuatmu minum obat ini.” ia pun keluar dari kamar Afsha dan menemukan gadis itu ada di teras.
“Afsha kau sudah minum obat dariku ?” tanyanya menghampiri Afsha.
Gadis itu seketika terkejut dengan kedatangan tuannya yang mendadak.
“Su-sudah tuan.” jawabnya terbatas karena berbohong.
“Bagus jangan lupa aku akan segera memotong gajimu. setiap satu butir pilih yang kau minum maka aku akan memotongnya seharga satu pil itu.” ucapnya kemudian setelah berlalu dari sana.
“Kenapa pria ini selalu saja mengancam juga mempermainkan diriku ?” Afsha merasa kesal dan dia pun berniat membalas perbuatan tuannya tersebut.
“Argh !” dr. Ammar Bentar ya karena di situ mengarahkan selalu padanya dan membuat bajunya basah.
“Oh ma-maaf tuan, aku tak sengaja selang itu barusan jatuh.” ucapnya sembari tersenyum dalam hati berhasil mengerjainya.
dr. Ammar merasa kesel karena ia yakin hal itu bukanlah ketidaksengajaan. “Ingat Aku akan segera memotong gajimu sejumlah obat yang kau minum.” gertaknya.
Afsha menelan salivanya dengan susah payah. “Percuma saja jika obat itu tak ku minum tapi aku harus membayarnya.” Ia merasa rugi dan hanya membuang uang saja sehingga dia sangat membutuhkan uang saat ini untuk hidupnya.
“Hiss.” Afsha pun berlari masuk ke kamar dan segera meminum obatnya.
“Ck.” dr. Ammar yakin sekali jika di situ mau minum obat darinya. kemudian setelah berlalu kan harus segera mengganti bajunya yang basah.
Afsha mengambil satu butir obat dan meminumnya. Namun ia seketika merasakan kepalanya berat sekali.