
Rasyid hanya tersenyum melihat pria yang semalam membuatnya menangis kini meringis setelah terkena lemparan jeruk pada kepalanya. “Rasain kau.”
dr. Ammar hendak turun dari mobil untuk memberi Gadis itu pelajaran karena telah berani menembaknya dengan buah jeruk.
“Sial !” pria itu mengurungkan niatnya untuk memberi pelajaran setelah melihat jam yang melingkar di tangannya menunjukkan waktu jika ia hampir saja terlambat. “Tunggu saja nanti sore setelah pulang kerja aku akan memberimu pelajaran sebagai balasannya.”
dr. Ammar merutuk perbuatan Safa dan menutup kaca jendela mobil kemudian melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit.
Rasyid kini tengah duduk di sebuah dahan setelah puas memetik beberapa buah jeruk yang matang sekaligus sudah mencicipinya.
“Afsha... cepat turun dari sana dan bantu aku.” teriak Kak Fajar dari bawah sembari menatap ke atas pohon setinggi tiga meter lebih itu.
Rasyid hanya melihatnya saja dan tak merespon sama sekali.
“Kenapa hari ini kau menyebalkan sekali tak seperti hari-hari biasanya ?” rutuk wanita itu lagi yang ini tempat berada di bawah pohon jeruk tersebut.
Karena kesal, Kak Fajar pun menggoyang pohon itu dari bawah. “Afsha turun kau dan bantu aku.” teriaknya dari bawah dengan kesal pada ulah Afsha yang bermalas-malasan dan cenderung kekanak-kanakan.
Kak Fajar biasanya baik namun bagi wanita itu kesabarannya ada batasnya dan kali ini memang Afhsa sudah bertindak di Luar batas.
“Woo...” Rasyid yang belum siap dengan pohon yang mendadak bergoyang cepat hanya meraih dahan sebisanya sebelum ia jatuh dari sana. “krak.”
Sayangnya ia lupa jika meskipun ia adalah anak berusia 10 tahun namun ia mendiami tubuh gadis dewasa yang tentunya dahan kecil yang dipengannga kali ini tak kuat menahan tubuh beratnya.
“bugh.” meskipun jatuh bebas namun Ia tetap menahan tubuhnya dengan berpegangan pada dahan lainnya. Namun sayang sekali, dahan yang barusan ia pegang juga tak kuat menyangga tubuhnya yang membuatnya jatuh dari ketinggian satu meter.
“Afsha !” teriak Kka Fajar segera menghampiri gadis tersebut yang sudah jatuh di atas rerumputan. “Bagaimana keadaan mu ?” diam-diam ia pun merasa bersalah menjadi penyebab hadis itu jatuh.
“Untunglah kau sudah sadar.” kak Fajar merasa lega gadis itu akhirnya membuka mata setelah ia mencium kan kaos kaki kotor ke hidung Afsha.
Afsha segera duduk sambil memegang kepalanya yang terasa pusing sekali dan masih berputar.
“Dimana aku kak Fajar ?” tanyanya sambil menarik nafas panjang yang sedikit meredakan pusingnya.
“Astaga... kumohon kau jangan gegar otak ini memang salahku aku minta maaf padamu.”
Melihat Kak Fajar yang ketakutan Afsha tersenyum tipis. “Aku tidak apa-apa kak hanya sedikit pusing saja.”
Kak Fajar merasa lega mendengar jawaban Afsha yang menenangkan.
“Jika kau tidak berulah maka aku takkan menggoyang pohon seperti tadi.”
Afsha hanya diam saja mencoba mencerna perkataan wanita di depannya itu. “Pasti seseorang telah mengambil alih tubuhku karena seingat ku kemarin aku mengejar pencuri di depan rumah.” batinnya sambil menatap ke sekitar. “Apa yang kita kerjakan di sini ?”
Kak Fajar merasa aneh kembali dengan pertanyaan Afsha yang membuatnya cukup bingung.
“Tentu saja hari ini kau membantuku memotong tanaman yang sudah pada tinggi ini. Apa kau perlu obat pusing ?” kak Fajar mengira gadis itu memerlukan obat karena pusing sampai tak mengingat apa yang mereka kerjakan.
“Tidak kak, aku tidak apa-apa.” Afsha menahan wanita tersebut agar tidak mengambilkannya obat. “Kita lanjutkan pekerjaannya sekarang.”
Afsha mengambil gunting potong yang ada di dekat kakinya dan mulai memanggas pepohonan yang sudah terlihat tidak rapi lagi dengan hati-hati.
“Ini baru Afsha lalu tadi itu dia kenapa ya ? Sikapnya seperti orang lain saja.” Kak Fajar menatap intens Afsha saat ia sibuk memotong ranting dan masih tak mengerti. Ia pun meneruskan pekerjaannya dengan seribu tanya kebingungan dalam hatinya yang tak ia ungkapkan.