
Dr. Ammar kemudian segera mengangkat teleponnya setelah mengetahui siapa peneleponnya.
“Halo Afsha, ada apa kau menelepon ku ?” ucapnya setelah tersambung.
“Kau bilang padaku untuk rutin minum obat mu dan sekarang ini obat ku habis.” jelas Afsha singkat sembari duduk di sofa.
“Aku masih ada rumah sakit. Bagaimana ya.” dr. Ammar berada diantara dilema antara harus melayani pasiennya yang masih panjang atau pergi ke rumah Afsha.
Pria itu pun berpikir cepat, “Bagaimana jika aku kirimkan paketmu hari ini ?”
Afsha terdengar mendesau panjang mendengar jawaban pria itu.
“Ya, terserah kau saja kalau begitu.” balas Afsha kemudian langsung menutup panggilannya.
Dalam hati sebenarnya dia kecewa karena sebenarnya ia ingin bertemu dengan pria itu.
“Dasar tidak peka.” Afsha membanting ponselnya ke sofa lalu pergi begitu saja meninggalkan ponselnya di sana yang terus berdering namun ia biarkan saja.
Ck
Decak dr. Ammar kesal setelah menghubungi Afsha berulang kali namun tak diangkat.
“Masih saja dia marah padaku tanpa sebab.” ia menarik nafas panjang menara ponselnya ke meja.
“Apa mungkin aku harus ke sana lagi ?” gumam dr. Ammar sembari tersenyum tipis.
Karena pria itu sebenarnya juga merasa ingin bertemu sekali dengan Afsha. Sudah sebulan lebih mereka tidak bertemu.
“Yusuf kemari sebentar.” ucapnya memanggil asistennya.
“Ya, dr. Ammar.” Yusuf segera menemui pria itu.
dr. Ammar kemudian menyampaikan Jika dia akan melayani tiga pasien lagi dan setelah itu berpesan padanya untuk menutup prakteknya hari ini karena ada urusan mendesak.
“Baik, dr. Ammar.”
Yusuf kemudian memanggil pasien berikutnya serta memberitahukan pada mereka jika praktek akan ditutup hari ini.
“Aku berangkat sekarang.” dr. Ammar segera keluar dari ruangannya setelah memeriksa pasien ketiga sembari membawa obat untuk Afsha.
Ada lima botol obat di sana.
“Aku bawa satu botol saja.” ucapnya kemudian menaruh kembali 4 botol yang dipegangnya, entah apa alasannya.
Pria itu meninggalkan rumah sakit mengendarai mobilnya menuju ke rumah Afsga.
dr. Ammar mempercepat laju mobilnya agar segera tiba di sana.
Klak
Dua jam kemudian pria itu tiba di rumah Afsha. Ia segera mengetuk pintu.
“Ya, mencari siapa ?” kali ini bukan Fatma yang membukakan pintu ruang tamu tapi Afhsa sendiri.
“Mencari mu.” jawab dr. Ammar tersenyum kecil setelah mengetahui siapa yang membuka pintunya.
Namun tidak dengan Afsha, dia terlihat sebal tanpa sebab pada pria itu dan hanya menautkan kedua alisnya saja merespon senyuman dr. Ammar.
“Kau tidak mempersilahkan aku masuk ?”
Afsha yang terlihat lain di hati lain di luar pun menjawabnya dengan datar, “Oh, ya masuklah.”
Mereka berdua kemudian duduk bersebelahan di ruang tamu.
“Bagaimana kabar mu ?” tanya Afsha menatap intens pria di sampingnya.
“Kabar ku baik, sepertinya kau juga baik.” balas dr. Ammar menatap intens gadis yang di rindukannya itu. “Ini obat mu.”
Pria itu mengeluarkan satu botol obat dan memberikannya satu butir pada Afsha.
“Minumlah ini.”
“Aku bisa meminumnya sendiri.” Afsha menolak saat pria itu akan menaruh obat di bibirnya.
“Menurutlah pada ku.” desaknya sembari memaksa sehingga Afsha pun menurut saja dan membuka bibirnya.
“Aneh sekali kenapa pria ini menjadi perhatian padaku ?” batin Afsha sambil meminum segelas air menatap aneh pada dr. Ammar.
“Afsha ada yang ingin kusampaikan padamu.” ucapnya tiba-tiba terlihat serius.
“Ya, katakan saja.”
“Aku tak tahu apa kau juga merasakan hal yang sama denganku atau tidak. Selama sebulan lebih ini aku baru menyadari jika ternyata aku ada rasa padamu.” tentu saja itu ia ucapkan dengan susah payah dan juga berpeluh saat mengutarakan perasaannya.
“Apa...?” Afsha sendiri seketika syok dan terkejut mendengar apa yang barusan diucapkan oleh pria itu.
Ia sama sekali tak menyangka pria kasar itu bisa mengucapkan sesuatu yang lembut seperti ini.