
Mana mungkin seorang pelayan rendahan tiba-tiba bisa bekerja sebagai pekerja di kantoran ?
Seperti itulah pemikiran tiga pelayan di sana.
Sebelumnya mereka baik pada Afsha dan dekat dengannya. Namun dalam sekejap saja semuanya berubah dan hati mereka berbalik arah.
Dengan kembalinya Afsha yang mengaku sebagai tunangan dr. Ammar membuat rasa iri muncul di hati mereka semua.
“Permisi kak, aku mau kembali dulu. dr. Ammar sudah menunggu di depan.” pamit Afsha pada mereka semua takut jika mengobrol di sana terlalu lama dan berefek pria itu akan marah karena menunggunya lama.
“Ck. Sok ! Baru jadi tunangannya dr. Ammar saja sudah sombong begitu !” umpat kaka Amla dalma hati kesal dengan tingkah Afsha.
Kak Cala keluar dari dapur dan tiba-tiba menghampiri Afsha.
“Afsha tunggu sebentar. Kau baru boleh pergi dari sini setelah meminum minuman yang kubuatkan.” ucapnya.
Ia lalu menyerahkan segelas jus kiwi pada Afsha.
“Ini ?” Afsha mengerutkan keningnya saat menerima gelas berisikan jus kiwi tersebut.
Terbersit pikiran negatif pada pelayan itu karena tiba-tiba saja memberikan minuman tanpa dia minta.
“Tapi sepertinya tak mungkin jika kak Cala mencampurkan sesuatu pada minuman ini.” ia menepis sendiri prasangka buruknya pada wanita tersebut.
“Ayo minumlah Afsha. Jika kau buru-buru maka cepat habiskan saja. Itu jus spesial buatanku untukmu. Anggap saja itu sebagai penyambutan dari ku bagimu.”
Afsha menatap senyum yang terkembang di bibir Kak Cala. Masih seperti senyumnya yang dulu tak mencurigakan sama sekali.
“Terimakasih, kak.” maka Afhsa pun dengan cepat menghabiskan minuman itu bahkan sampai gelas itu kosong dan ia kembalikan lagi pada kak Cala.
“Rasakan Afsha. Mungkin setelah ini kau akan merasakan efeknya. Aku sudah mencapai jus tadi dengan obat tidur.” batin Kak Cala kemudian sembari mengangguk dan tersenyum kecil menanggapi Afsha.
Gugur sudah tugas yang diberikan oleh Nyonya Fatima padanya.
“Aku tinggal menerima rewardnya nanti.” batin wanita itu penuh kemenangan.
Afsha kemudian kembali berpamitan pada mereka semua lalu segera keluar dari sana.
“Lama sekali kau ke toilet kulihat hampir satu jam. Apa saja yang kau lakukan di sana ?” hardik dr. Ammar saat Afsha baru kembali dan membuka pintu.
“Aku bertemu dengan kak Cala dan yang lainnya di sana. mereka mengajakku ngobrol lama jadi tak enak jika aku buru-buru pergi. Selain itu kita juga baru berjumpa kembali setelah lama tak bertemu.” jelas Afsha panjang lebar.
Tak banyak omong pria itu segera melanjutkan mobilnya karena butuh waktu yang tidak sebentar untuk sampai ke rumah Afsha.
“Kenapa aku ya ?” batin Afsha tiba-tiba merasa mengantuk berat dan hebat.
Padahal baru 10 menit mobil itu berjalan dan rasanya ia tak bisa menahan kantuknya itu lagi.
Ia pun tertidur seketika di mobil.
“Afsha... apa saja yang kau bicarakan dengan pelayan di rumahku ? Apa mereka menanyakan statusmu ? Sudah bilang padamu berulang kali jangan banyak bicara dengan mereka untuk menghindari hal yang tidak-tidak.”
Hening, tak ada jawaban.
“Afsha ?” panggilnya karena tak ada respon dari Afsha.
dr. Ammar sampai menoleh ke arah Afsha karena tak ada respon juga meskipun ia memanggilnya.
“Astaga, dia tidur. Baru saja duduk. Tadi pagi padahal bangun siang. Kenapa masih kurang tidur saja ?” gumam pria itu berdecak kesal.
Di sepanjang perjalanan Afsha tidur. Bahkan setelah sampai di rumah pun dia masih tetap tidur.
“Kita sudah sampai rumah.”
Tak ada jawaban.
“Dasar, pemalas. Tukang tidur cepat bangun kita sudah sampai !” bentak dr. Ammar karena geram.
Bahkan gadis itu pun tak kunjung bangun juga meskipun dia berteriak keras.
Terpaksa dr.Ammar pun turun duluan dari mobil kemudian membuka pintu dan membangunkan Afsha.
“Afsha, bangun !” ucapnya sedikit membentak saat membangunkan.
Meskipun dr. Ammar sudah mengguncang keras tubuh Afsha, namun gadis itu tak kunjung bangun juga.
“Afsha. Astaga ! Apa yang terjadi pada mu ?” dr. Ammar kan beda sekali saat membalik muka Afsha ke kiri dan wajah itu merah berbintik-bintik.
Tak hanya wajahnya saja yang menjadi merah namun bagian tangan dan kaki juga sama.