Finding Perfect Wife

Finding Perfect Wife
Eps. 33 Mencari Informasi Tentang Hana



“Hiss...” dr. Ammar seketika mundur dan menyentuh pipinya yang terasa memar.


Ia tak tahu siapa gadis yang kali ini ia hadapi. Apakah dia lelaki ? Ataukah orang tua ? Hal itu cukup membuatnya stres. Bahkan melakukan tes simple saja ia kesulitan.


“Bagaimana aku bisa mengetesnya jika begini ?” gumamnya dalam hati sembari melihat Hana yang saat ini diam dan duduk dengan memberikan tatapan tajam padanya. “Bagaimana caranya menghadapi orang yang susah diajak kompromi ?” dr. Ammar memutar otak dan berpikir keras.


Ia bingung apakah harus memberikan suntikan obat tidur padanya atau mencoba bernegosiasi dengannya.


“Jika aku menginjeksikan obat tidur padanya percuma saja aku tak mengetahui siapa dia.”


dr. Ammar mencoba mencari ide lain sambil menarik nafas dengan kasar dan duduk di samping Hana untuk melakukan pendekatan padanya.


“Hana, aku tak bermaksud mencari masalah dengan mu. Aku hanya ingin mengenalmu saja.” dr. Ammar mencoba membuang egonya dan memperlakukan gadis itu murni sebagai pasiennya bukan pelayannya.


Mendengar perkataan lembut


dr. Ammar yang sudah tidak membentak dirinya seperti tadi ia pun menjadi melunak padanya.


“Hai Ammar usia kita sama jadi apa yang ingin kau tahu diriku ?” ucapnya mensejajarkan dirinya dengan pria itu.


Gleg


dr. Ammar menelan salivanya dengan susah payah sekaligus menahan tawa bisa-bisanya gadis itu menyamakan usianya dengan dirinya.


“Apa kau kenal dengan gadis lainnya juga ada dalam tubuh ini ?” tanyanya penasaran.


“Tentu saja aku tahu.” jawabnya sedikit meninggi nadanya.


“Siapa saja yang kau kenal dan mendiami tubuh ini ?”


“Safa, Rasyid dan Afsha.” jawabnya singkat yang membuat pria itu terlihat syok begitu mendengarnya. Baru kali ini


“Lalu dari tiga nama yang kau sebutkan siapa pemilik asli tubuh ini ?” tanya dr. Ammar karena ia menjadi sanksi dengan nama yang biasa ia panggil.


“Aku, akulah yang berkuasa di sini dan tentunya sebagai pemilik asli tubuh ini.”


dr. Ammar sanksi dengan penjelasan tersebut karena kesehariannya bukan karakter ini yang muncul tapi karakter menyebalkan dengan sikap cerobohnya yang tak ada habisnya.


“Maksud ku siapa di antara kalian yang paling lama berdiam di tubuh ini ?”


“Aku.” Hana kembali mengulangi perkataannya dan kali ini dia terlihat marah. Ia tak suka mendengar pertanyaan yang diulang-ulang. Dan detik itu juga Hana kembali emosi bahkan sampai mendorong dr. Ammar dan membuat pria itu jatuh ke lantai.


“Hiss...” pria itu bangkit berdiri sembari menyentuh pantainya yang nyeri karena didorong keras oleh Hana.


“Berarti kau hanyalah bayangan dalam tubuh itu.”


Sontak perkataan itu membuat Hana semakin naik pitam dan mengamuk.


“Diam kau !” sentak dr. Ammar dengan suara menggelegar hingga pelayan lainnya yang berada di sebelah kamar Hana. Dan ia memang sengaja melakukannya. Karena ia mengingat sebelum gadis itu pingsan ia membentaknya.


Hana seketika terlihat gemetar sambil menutup kedua telinganya dan tak lama setelahnya ia kembali pingsan dan dr. Ammar dengan sikap segera menangkap tubuhnya sebelum jatuh.


“Kau benar-benar gadis super merepotkan.” dr. Ammar membaringkan gadis itu ke tempat tidur. “Semoga setelah ini adalah pemilik asli tubuh ini yang bangun.


30 menit kemudian gadis itu membuka mata dan segera duduk saat melihat tuannya ada di sana.


“Tu-tuan apa yang terjadi padamu ?” tanyanya saat melihat lebam di wajah dr. Ammar sembari menelan saliva takut jika itu adalah perbuatannya di saat tubuh lain menguasai dirinya.


“Tanyakan pada dirimu sendiri.”


Hana yang kini sudah berganti menjadi Afsha tak berani menatap pria yang ada di hadapannya ataupun menjawab pertanyaannya.