
Afsha masih menatap pria yang duduk di sampingnya dengan perasaan yang campur aduk.
Dia rindu sekali pada pria itu. Tapi apakah rasa rindu mendalam seperti itu bisa disebut rasa suka pada seseorang ?
“Bagaimana jawaban mu ?” tanya dr. Ammar karena gadis itu masih belum meresponnya juga.
“Aku-aku tidak tahu dan tidak bisa mendefinisikan rasa yang ada pada diriku padamu.” Afsha menunduk tak berani menatap mata dr. Ammar.
“Apakah yang kau rasakan seperti ini ?” dr. Ammar menjabarkan apa yang dirasakan Afsha seperti apa yang dirasakannya sebelumnya.
“Apa ? Bagaimana kau bisa mengetahuinya ?” tanyanya terkejut.
Pria itu benar-benar menebaknya dengan tepat rasa yang campur aduk di hatinya.
“Awalnya aku juga berpikiran sama denganmu akhirnya aku menyadari jika itu adalah rasa suka. Bukan rasa suka biasa namun rasa suka ingin memiliki.” terang dr. Ammar panjang lebar.
gleg
“Jadi... jadi aku, apakah aku jatuh cinta padanya?” batinnya menelan salivanya dengan berat.
Afsha terlihat syok mendengar fakta tersebut. Dia menatap intens dr. Ammar dengan gemetar. Bagaimana bisa dia jatuh hati pada pria kasar seperti dia?
Ia kembali menundukkan kepalanya namun kali ini dr. Ammar memegang tangan Afsha yang terasa dingin, sedingin es di kutub utara.
“Apakah kau mau menjadi kekasih ku sungguhan ?” ucap pria itu akhirnya untuk memecah kesunyian.
deg
Detak jantung Afsha semakin berdegup kencang di buatnya hingga ia pun tak bisa berkata-kata.
dr. Ammar sendiri pun sebenarnya sudah bisa mengerti jawabannya walaupun gadis itu belum mengucapkannya.
Ia hanya butuh sebuah bukti untuk meyakinkannya.
“Afsha kau mencuri sesuatu dariku beberapa waktu yang lalu, sekarang aku akan mengambilnya kembali.”
Afsha menurunkan kedua alisnya karena ia benar-benar tak mengerti apa yang dibicarakan oleh pria itu.
dr. Ammar menyentuh pipi Afsha lalu mendekatkan wajahnya
“Kau mengambil first kiss ku satu bulan yang lalu.” ucapnya lembut.
Pria itu kemudian mendaratkan ciuman di bibir Afsha.
“Oh, Tuhan apa ini ?” batin Afsha memejamkan mata.
Ia merasakan bibir pria itu menyapu bibirnya dengan lembut.
“Perasaan apa ini ? Kenapa aku seperti pernah merasakan kelembutan bibir ini ? Tapi kapan ? Apakah aku merasakannya dalam mimpi ?” batin Afsha merasa ciuman itu sangat menenangkan untuknya.
Bahkan dia pun akhirnya merespon ciuman itu. Dan mereka berdua larut dalam ciuman itu.
“haah...” mereka melepaskan tautan bibir mereka saat mereka kesusahan bernafas.
“Apa barusan yang kulakukan ?” batin Afsha terkejut pada dirinya kenapa ia tak hanya saja membiarkan pria itu mencium bibirnya malahan ia membalas ciumannya, tak bisa mengontrol dirinya.
“Aku...” Afsha seketika menunduk sembari menyentuh bibirnya dengan malu. Baginya ini first kissnya.
“Tak perlu kau jawab aku sudah menerima jawaban mu dari balasan ciuman mu tadi.” ucap dr. Ammar. “Sekarang kita adalah kekasih nyata bukan kekasih pura-pura.” tegasnya lagi lalu menatap Afsha dengan lembut.
Anehnya gadis itu mengangguk saja tanpa sadar.
“Tidak, tidak ini tidak benar. Aku bukan ke--”
“dr. Ammar kapan kau kemari ?” ucap Abizar tiba-tiba memotong ucapan Afsha lalu duduk.
Sontak saja Afsha langsung menggeser tempat duduknya menjauh, sejauh mungkin dari dr. Ammar.
“Apa yang kalian bahas ?” ucap Abizar lagi melihat kedua insan itu bertemu merah pipinya, apalagi Afsha.
“Tidak ada, ayah. Kami hanya membahas masalah obat saja.” jawab Afsha bohong.
Namun Abizar bisa mengetahui itu, “Sepertinya mereka berdua sudah berbaikan dan aku mengganggu mereka.”
Mereka bertiga kemudian kembali mengobrol. Terlihat dr. Ammar sangat tenang dan tampak berseri-seri.