
“Bagaimana kau bisa mengetahuinya dr. Ammar ?” ucap Afsha yo WhatsApp percaya jika pria dihadapannya itu mengetahui identitas aslinya.
“Bahkan aku punya nomor ayah mu.” dr. Ammar menyebutkan nomor yang disimpannya tadi yang membuat Afsha semakin terkejut saja karena nomor yang di sebutkan benar nomor ayahnya. “Apa kau ingin aku menghubunginya sekarang kerja kemarin menjemput putrinya yang kabur dari rumah ?”
Pria itu tersenyum lebar merasa memegang kartu as Afsha yang bisa ia gunakan sebagai senjata pamungkas jika ada sesuatu hal.
“Jangan !” teriak Afsha saat pria itu mulai menekan nomor ayahnya. “Tidak jangan hubungi dia.” bahkan Afsha pun sampai merebut masa itu dari tangan
dr. Ammar karena saking takutnya dijemput oleh ayahnya.
Hal itu semakin menguatkan dugaan pria tersebut jika Afsha memanglah kabur dari rumah.
“Kembalikan ponselku jika begitu. Aku tak akan menghubunginya.” dr. Ammar mengeluarkan tangannya meminta ponsel itu kembali.
“Janji kau jangan meneleponnya dulu sebelum aku siap.” Afsha menegaskan kembali sebelum menyerahkan ponsel milik pria itu.
“Tentu saja. Kembalikan ponsel ku.” Afsha pun mengembalikan ponsel itu.
“Ibu...” dr. Ammar oleh ke belakang saat mendengar suara langkah kaki menuju ke tempatnya berada.
Ia pun kemudian kembali menatap Afsha sebelum ibunya itu tiba di sana.
“Kau mau keluar dari ruangan ini tidak ?” tanya dr. Ammar yang langsung diangguki oleh Afsha. “Kau pura-pura gila atau marah seperti Safa biasanya marah.”
Afsha tak mengerti kenapa dia harus berpura-pura seperti itu. “Kenapa ?” menatap dr. Ammar dengan menuntut.
Pria itu kembali menoleh ke belakang dan hanya kurang beberapa langkah saja ibunya akan tiba di sana.
“Jangan banyak tanya. Sekarang kau berakting seperti yang kukatakan tadi sampai ibuku melihatmu sendiri.” jawabnya cepat karena ini ibunya berada tiga langkah di belakangnya. “Sekarang.”
Afsha pun mau tak mau menuruti permintaan dari pria di hadapannya itu begitu melihat Nyonya Fatima berdiri di hadapannya.
“Hai kau unta wanita berpunuk dua ! Aku lapar dan keluarkan aku dari sini !” ucap Afsha dengan nada tinggi juga penuh tekanan di setiap kalimatnya sembari menatap tajam ada nyonya rumah.
“Am-Ammar... apa dia sering seperti ini ?” tanya wanita itu ketakutan menatap Afsha yang marah padanya tanpa sebab.
“Ya, itu karena dia tertekan. Jika dia merasa nyaman dan tenang maka dia akan kembali seperti semula dalam waktu cepat.” balas dr. Ammar sedikit berbohong sambil mengedipkan mata pada Afsha.
“Apa maksud nya kedipan mata itu ?” Afsha menangkap kode itu tapi tidak tahu maksudnya dan dia mengira harus kembali berakting.
“Unta tua bawa aku ke Gurun Gobi jika kau masih mau makan rumput.” ucap Afsha yang membuat Nyonya Fatima ketakutan hingga bersembunyi di belakang putranya.
“Keluarkan saja dia bu.”
Nyonya Fatima segera membuka pintu ruangan tersebut.
“Keluarlah sekarang Afsha.” bukan Nyonya Fatima yang bilang tapi dr. Ammar.
Afsha kemudian berjalan keluar dan kembali melihat pria itu mengirimkan kode padanya.
“Apa ?” gumamnya tanpa bersuara menatap dr. Ammar.
“Bersikap biasa, normal.” balas pria itu dengan bergumam tanpa bersuara.
Afsha mencoba membaca gerakan bibir pria tersebut namun tak mengerti. “Baiklah aku akan marah kembali.” ia mengangguk dan kembali berakting karena menurutnya artinya itu.
“Unta tua duduk, aku mau naik !” Afsha menghampiri Nyonya Fatima bahkan sampai membuat wanita itu berjongkok di depannya.
“Ammar bagaimana ini ?” wanita itu terlihat panik.
Tepat di saat Afsha akan naik ke punggung nyonya Fatima
dr. Ammar, ia menarik Afsha seraya berbisik tanpa sepengetahuan ibunya, “Bersikap normal.”
Afsha pun segera mundur dan
dr. Ammar kini yang berakting.
“Afsha tenangkan diri mu, kau sudah tidak dikurung lagi. Tenang.”
Afsha pun mengikuti permainan pria tersebut dan ia bersikap lembut seperti biasanya.
“Oh, Nyonya Fatima kenapa anda berjongkok di depanku ?”
Wanita itu pun berdiri menatap Afsha, “Untung kau sudah sadar kembali.” ucapnya lega dan segera buru-buru pergi dari sana.
“Terimakasih dokter sudah membantuku.” ucap Afsha setelah Nyonya Fatima tak kelihatan lagi.
“Tak ada yang gratis dan tentu saja kau harus menggantinya dengan sesuatu.” balas pria itu tersenyum menyeringai yang membuat Afsha bergidik.