Finding Perfect Wife

Finding Perfect Wife
Eps. 78 Saling Merindukan



Satu minggu berlalu. Afsha rutin meminum obat dari dr. Ammar setelah ayahnya hampir setiap hari memeriksa bahkan memarahi dirinya jika dia tak mau minum obat dari dr. Ammar.


Selama satu minggu pula baik Afsha maupun dr. Ammar tidak saling menanyakan kabar satu sama lain.


“Bagaimana kabar pria itu ? Kenapa dia sama sekali tak menghubungi ku menanyakan keadaanku ?” gumam Afsha di kamarnya memikirkan dr. Ammar setelah beberapa waktu yang lalu ia melihat ayahnya memberikan nomornya pada pria itu. “Memang dia pria dingin bahkan lebih dingin daripada beruang kutub yang hidup di Antartika.”


Afsha hanya bisa mengumpat sembari menatap ponselnya.


“Apa iya aku harus menghubunginya dulu ?” celetuk gadis itu lagi mencari nomor pria itu di ponselnya. “Tidak-tidak, aku kesal dengannya kenapa aku harus meneleponnya ?” pekiknya baru menyadari kekhilafannya dan untung saja belum menelepon.


Afsha mendapatkan nomor dr. Ammar dari ayahnya. Abizar sendiri yang memberikan nomor itu tanpa ia perlu memintanya. Bahkan ayahnya itu memaksanya untuk menyimpan nomor dr. Ammar.


Di kamar dr. Ammar.


Satu minggu setelah kejadian itu hampir setiap malam pria itu selalu memimpikan Afsha dalam tidurnya dan membuatnya tidak nyenyak tidur karena kerap membuatnya bangun saat memimpikannya.


Bahkan selama berada di rumah sakit pun pria itu terlihat tak baik kondisinya.


“Hey, dr. Ammar ada apa dengan mu ? Kenapa beberapa hari ini matamu terlihat berkantung ?” tanya dr. Fajar saat mereka berada di tempat parkir dan mau masuk ke rumah sakit.


“Oh ya, mataku berkantung ?” pria itu malah terkejut dan tak tahu sama sekali jika matanya berkantung. “Aku memang tak bisa tidur beberapa malam ini.”


“Ada masalah apa sampai kau tak bisa tidur di malam hari ?” tanya dr. Fajar penasaran.


Mereka berdoa duduk sebentar di kursi yang ada di sudut tempat parkir karena jam kerja masih lama.


“Aku sendiri juga tak tahu ada apa dengan diriku. Belakangan ini aku selalu bermimpi gadis itu dan membuat ku tak nyaman.” jelas dr. Ammar pada teman baiknya yang lain, selain dr. Pasha.


“dr. Ammar ku rasa kau sudah jatuh hati pada gadis yang kau impikan itu di setiap malam mu.”


“A-apa ? Itu tidak mungkin sekali. Aku tidak mungkin jatuh hati padanya.” sangkalnya dengan tegas namun membuat temannya itu justru makin tertawa lebar.


“Jika tak ada hati padanya kau tak mungkin memimpikannya apalagi sampai setiap hari.” jawab dr. Fajar kemudian sekarang berdiri dari tempat duduknya karena tak terasa mereka mengobrol sudah cukup lama di sana dan sudah saatnya untuk masuk kerja.


dr. Ammar ikut berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mengejar temannya itu yang sudah jauh berada di depannya.


Satu bulan berlalu dan dr. Ammar setiap hari masih memimpikan gadis itu malahan dia merindukannya.


“Oh... obat ku habis, bagaimana ini ?” gumam Afsha saat dia mengambil foto obat dan tak ada sebutir obat pun di dalamnya.


Ia mencari stok di lemari barangkali saja ada obatnya.


“Tak ada stok obat disini.” Afsha menutup kembali lemari setelah tak menemukan obat lainnya untuk dirinya.


“Bagaimana ini ?” ia tampak bingung kalau tidak minum obat itu nanti harus mengulangi lagi dari awal ketika meminumnya.


Terpaksa akhirnya dia pun mengambil ponselnya dan menghubungi nomor dr. Ammar.


kring


“Siapa yang menelpon ku ?” gumam pria itu saat duduk di ruangannya di rumah sakit. “Afsha ?!” pekiknya terkejut saat mengetahui siapa peneleponnya.