
Satu bulan berlalu, sejak kejadian itu nyonya Fatima tak pernah menjelekkan Afhsa lagi di depan dr. Ammar.
Hubungan dr. Ammar dan Afsha pun semakin membaik meski sering ada percekcokan kecil di antara mereka berdua.
Hingga suatu ketika Abizar mempertanyakan kelanjutan hubungan mereka pada dr. Ammar.
“Kapan kira-kira kalian berdua akan menikah ?” tanyanya pada dr. Ammar saat pria itu baru pulang dari suatu tempat bersama Afsha.
dr. Ammar tampak menatap Afsha. Namun Afsha hanya diam saja.
“Masalah itu nanti akan kami bicarakan dulu. Kalau aku kapan saja menikah sudah siap. Tapi Afsha sepertinya belum siap.” jawabnya tanpa termasuk menjatuhkan Afsha.
Sepertinya Abizar mengerti duduk permasalahannya jika putrinya yang menunda pernikahan.
“Afsha kapan sebenarnya kamu ingin menikah ?” tanyanya mumpung ada dr. Ammar.
Afsha masih diam tak menjawab. Ia lalu menatap intens dr. Ammar. Ia membayangkan bagaimana kehidupan pernikahan bersama pria itu. Lalu bagaimana nantinya, mereka akan tinggal di mana. Dan belum Banyak permasalahan lagi yang dipikirkannya termasuk Ibu mertuanya nanti yang tidak menyukainya.
“Aku... aku akan mendiskusikannya nanti ayah dengannya.” Afsha menatap ayahnya kemudian beralih menatap dr. Ammar kembali.
Ia tak ingin ayahnya terus mendesaknya makanya ia berkata begitu. Dan semuanya bisa dikondisikan nanti.
“Haah...” Abizar menarik nafas panjang dengan sikap Afsja.
Ia pun tak mau memaksanya lagi. Setidaknya ternyata itu sudah bertunangan dan tinggal menunggu waktu saja kapan mereka akan menikah.
Satu jam setelahnya dr. Ammar berpamitan. Pria itu ada di mobil setelah ayahnya Afsha kembali masuk ke rumah.
“Pikirkan lagi kapan tepatnya rencana pernikahan kita. Aku siap pindah kesini jika kau meminta.” bisiknya sedikit menggoda.
Sebenarnya bukan tanpa pertimbangan pria itu bicara demikian. Ia rela keluar dari rumahnya demi Afhsa karena ia tahu Afsha mungkin saja tak akan betah jika nanti sudah menikah dan tinggal di rumah bersama ibunya.
“Ah kau ini belum nikah saja sudah memikirkan pindah ke sini. Pikiran mu kotor sekali.” jawab Afsha dengan pipi tersipu.
dr. Ammar kemudian tersenyum simple dan Ia pun segera melanjutkan mobilnya kembali ke rumahnya.
Satu bulan berlalu, Nyonya Fatima beberapa kali meminta dr. Ammar untuk segera meminang Afsha saja dengan alasan ingin segera mendapatkan cucu.
“Ya, ibu aku akan melamarnya saat Afsha sudah siap nanti.” ucap dr. Ammar apa sebenarnya yang merubah pikiran ibunya.
“Apa sebenarnya yang kau khawatirkan ? Menikah kapan pun itu sama saja bagiku namun menurutku lebih cepat lebih baik mengingat Berapa umurku saat ini, meskipun kau masih muda. Aku sungguh tak ingin terlihat sebagai paman dari anak kita daripada ayahnya.” jelasnya panjang kali lebar hingga berbusa.
Sedangkan Afhsa masih diam mengolah kalimat tersebut dan memikirkannya meskipun sebelum-sebelumnya ia juga sudah memikirkannya.
“Ya, baiklah Aku mau menikah denganmu tapi untuk waktu kita pikirkan dulu.” jawab Afsha pada akhirnya.
“Apa-apa yang kau bilang barusan ? Apakah itu benar ?” dr. Ammar lu masih bicara panjang lebar seketika menghentikan bicaranya karena terkejut dengan jawaban barusan.
“Aku tak akan mengulanginya untuk kedua kalinya. Salah sendiri jika kau tak mendengarkannya.”
Afsha tak mau mengulanginya lagi dan sekarang mematikan telepon.
dr. Ammar kali ini tak marah dengan sikap Afsha barusan, malahan ia tersenyum mendengarnya.
Beberapa waktu setelahnya, Afhsa menceritakan beralih itu pada ayah dan juga ibunya. Mereka senang sekali karena putrinya sekarang jadi lebih dewasa dari sebelumnya.
“Jika begitu aturlah waktu kapan yang tepat maka aku akan menemanimu ke rumah Afsha.” ucap Nyonya Fatima pada putranya setelah mengabarkan kabar tersebut.
Beberapa kali setelahnya tampak dr. Ammar dan Afsha berdiskusi hingga akhirnya mereka mencapai kata sepakat menentukan hari yang tepat untuk kedua belah pihak keluarga bertemu, tiga minggu dari sekarang.
Tepat di hari H seperti yang disepakati, dr. Ammar datang ke rumah Afsha bersama ibunya.
Di rumah Afsha, harganya juga sudah bersiap menyambut kedatangan keluarga dari dr. Ammar.
Terdengar suara ketukan pintu di luar rumah Afsha. Dan segera saja pelayan di sana membukakan pintu.
“Silahkan masuk, nyonya dan tuan.” ucap Fatma.
Wanita itu kemudian segera memanggil tuannya telah dua tamunya duduk di ruang tamu.
Segera saja Afsha dan ayahnya juga ibunya bergegas ke ruang tamu.
Nyonya Fatima terlihat senang dan berulang kali tersenyum lebar menatap rumah mewah Afsha yang sebelumnya digadang-gadang sebagai putri dari seorang pengusaha sukses.
Semuanya berubah ketika ia bertemu dengan Abizar.
“Kau...?” pekik tuan Abizar dan Nyonya Fatima bersamaan.