Finding Perfect Wife

Finding Perfect Wife
Eps. 28 Sebuah Timpukan



Dengan Rasyid yang kali ini mengambil alih tubuh Afsha, maka ia pun memeriksa semua jendela yang ada di sana apakah sudah terkunci atau belum.


Setelah memastikan keadaan di sana aman dan semua jendela hingga terkunci maka ia pun segera berbaring di tempat tidur.


Ya, Rasyid adalah kepribadian Afsha yang lain. Dia seorang anak lelaki berusia 10 tahun yang kesehariannya cengeng dan penakut. Entah sampai berapa lama anak itu mengambil alih tubuh Afsha tanpa adanya obat yang membuatnya bisa mendiami tubuh itu lebih lama.


“Oh....aku masih ada disini.” Rasyid tak percaya dia masih ada di tubuh ini. Biasanya tak sampai 24 jam ia sudah terdesak dari tubuh itu. “Berarti dia kehabisan obatnya.” tersenyum tipis kemudian melompat dari tempat tidur.


Empat kepribadian dalam tubuh Afsha sadar dan mengenal satu sama lain kepribadian yang ada yang berdiam dalam satu tubuh yang sama.


“Aku senang sekali bisa berada lama dalam tubuh ini.” tersenyum kecil penuh kemenangan.


“Afsha cepat bangun.” panggil kak Fajar dari luar karena sudah waktunya jam kerja bagi Afsha.


Rasyid yang tidak tahu kerja apa yang dimaksud oleh wanita yang mengetuk pintu kamarnya, segera membukanya.


“Setelah sarapan pagi nanti bantu aku untuk memotong semua tanaman di kebun depan juga di belakang.” Kak Fajar menyerahkan gunting potong pada gadis yang baru banget dan belum membersihkan diri tersebut.


“Ya, nyonya.” jawabnya sopan.


Kak Fajar merasa aneh saja dengan panggilan Afsha yang ditujukan pada dirinya barusan. “Apa kau panas ?” ia menyentuh dahi Afsha. “Normal. Jadi kau pasti sedikit pusing setelah kejadian kemarin.”


Kak Fajar mengetahui kejadian semalam dari Kak Cala yang menceritakan hal itu padanya.


“Nyonya tunggu, aku tidak tahu kamar mandi di sini, dapur juga kebun yang kau maksud.” Rasyid menarik baju kak Fajar sebelum Wanita itu pergi meninggalkannya.


“Ck, kau ini aneh sekali pagi ini. Jangan panggil aku nyonya, panggil kak Fajar saja seperti biasanya.” decaknya sedikit kesal mengira Afsha mengajaknya bercanda.


Kak Fajar kemudian mengantar Afsha menuju ke kamar mandi juga ke dapur sekalian ke kebun agar tak ada pertanyaan lagi untuknya. “Apa kencur itu memukul kepalanya sedemikian keras sehingga dia sangat aneh sekali pagi ini, ck...”


“30 menit lagi aku tunggu kau di kebun depan, Afsha.” ucap Kak Fajar mengingatkan lagi di depan dapur.


“Aku Rasyid bukan Afsha.”


“Apa, kau bilang siapa nama mu tadi ?”


“Oh tidak, aku hanya salah ucap saja kak Fajar.” ucap Rasyid segera mengoreksi ucapannya agar wanita itu tak curiga badannya sehingga terpaksa ia menerus saja dipanggil dengan nama Afsha.


Setelah Kak Fajar pergi maka Rasyid pun segera menyantap sarapan paginya dan setelah membersihkan diri dia segera menuju ke kebun depan.


“Afsha kau ini jangan meloncat-loncat seperti itu seperti anak kecil saja.” gerutu kak Fajar pada Afsha. Bukannya gadis itu bekerja dengan baik malah bermain-main dan sering melompat dari pohon turun ke bawah.


“Aku kan memang anak kecil dan waktu itu hanya untuk bermain bukan bekerja.” gumamnya tak memperdulikan ucapan kak Fajar setelah mengetahui Afsha bekerja di sana sebagai seorang pelayan dan malah memanjat pohon lebih tinggi.


dr. Ammar masuk ke mobil dan tanpa sengaja menetap ke pohon di sampingnya dimana di sana ada Afsha.


“Hey Safa turun kau dari sana !” teriaknya dari dalam mobil sambil menatap ke atas.


“Dia kan pria semalam yang me membuatku takut dan menangis. Akan ku beri pelajaran dia.”


Rasyid Terus yang tipis kemudian mengambil beberapa buah jeruk di sana yang masih muda lalu melemparnya ke arah kepala dr. Ammar.


“Sialan kau !” dr. Ammar mengadu menyentuh kepalanya yang terkena lemparan jeruk dan menatap tajam Safa.