
de. Ammar masih menatap ke sekitar jadi sesuatu yang bisa ia jadikan alasan untuk Afsha agar bisa keluar dari rumahnya.
“Masalah.” ucapnya tiba-tiba. “Ya, aku pelu masalah.” celetuknya menganggukkan kepala menatap sebuah vas bunga besar yang ada di sudut ruangan.
Pria itu tersenyum dengan menganggukkan kepalanya kembali sebelum pergi dari ruang tengah.
Malam harinya dr.Ammar ada di ruang tengah. Ia duduk santai di sofa coklat tua yang ada di ruangan itu sembari membaca koran.
“Enaknya duduk sambil ngeteh.” gumamnya karena ia merasakan tenggorokannya kering.
Tepat di saat ia selesai membaca satu koran seorang pelayan lewat di depannya.
“Bi Amla...” ucapnya memanggil pelayan yang membuat wanita itu seketika berhenti.
“Ada apa tuan Ammar ? Apakah anda butuh sesuatu atau yang lainnya ?” tanyanya sopan.
“Tolong panggilkan Afsha saja.” jawabnya singkat.
Pelayan itu bertanya-tanya dalam hati, “Kenapa dr. Ammar memanggil Afsha ?”
Tanpa bertanya ia mengganggu dan segera menuju ke ruangan Afsha.
“Afsha, tuan memanggil mu.” ucapnya setelah sampai di kamar gadis itu dan masuk ke ruangannya.
“Aku ?” tanya Afsha sembari menunjuk dirinya menatap kak Amla. “Ada apa kak ?” tanyanya segera duduk.
“Aku tidak tahu, Afsha. Tuan bilang hanya minta aku memanggilmu saja.”jawabnya menjelaskan meskipun Kak Amla sendiri sebenarnya penasaran sekali.
Hmm
Afsha bedehem kecil. Tanpa bertanya lagi Ia pun segera keluar dari kamarnya dan menuju ke ruang tengah.
“Aku penasaran, kenapa tuan Ammar memanggilnya.” batin Kak Amla mengikuti Afsha berjalan tanpa sepengetahuan Afsha.
Sesampainya di ruang tengah, Afsha segera menghampiri
dr. Ammar yang duduk bersandar di sofa.
“Ada apa kau memanggil ku ?” ucapnya berdiri tepat di hadapan pria tersebut.
Masih dalam posisi duduk dan memegang koran yang terbuka, pria itu kemudian menatap Afsha.
“Ya.” jawab Afsha singkat tanpa bertanya karena ia sudah hafal takaran minuman pria itu, kemudian segera masuk ke dapur untuk membuatkannya.
“Aneh sekali padahal tuan bisa meminta aku membuatkan teh untuknya, namun kenapa ia malah menyuruh Afsha ?” batin Kak Amla yang ada di ruangan lain dan berpura pulang membersihkan meja untuk mendengarkan percakapan mereka berdua.
Tak lama kemudian Afsha kembali dan menaruh teh yang di bawanya ke meja.
“Aneh sekali, Afsha kenapa bersikap seperti mereka teman saja ?” gumam Kak Amla yang masih mengintip dan melihat dari ruangan sebelah.
“Afsha, teh ini gulanya bukan
tiga setengah sendok, melainkan 4 sendok. Terlalu kemanisan, aku tak mau. Buatkan lagi yang baru.”
Afsha terlihat diam dan melupakan tangannya erat-erat dengan kesal. Dia memang kebanyakan memasukkan gula tadi, tak sengaja sambil membuat minuman untuk dirinya sendiri dan ia lupa berapa sendok sudah yang ia masukkan.
“Tuan dokter Ammar, gula ini sudah tepat seperti yang kau minta.” Afsha bersikeras tak mau membuatkannya lagi.
Ia malah pergi dan berjalan dengan cepat dari sana.
“Kau kira aku pelayanmu apa.” umpatnya kesal.
dr. Ammar tiba-tiba berdiri dan mengikuti gadis itu. Tepat di saat Afsha berada di depan sebuah vas besar bermotif bunga ia menarik gadis itu.
“Kau ini selama masih ada di sini status mu tetaplah pelayan dan kau harus memenuhi semua permintaanku.” ucapnya dengan tersenyum kecil.
“Kau ini ? Lepaskan tangan ku !” ucapnya tak terima lalu tangannya dari dr. Ammar dengan kuat.
Namun tak sengaja ia justru menubruk vas kaca besar di belakangnya.
prang
Vas kaca itu jatuh dan pecah.
“Astaga, Afsha memecahkan vas bunga kesayangan nyonya. Bisa habis dia nanti.” gumam Kak Amla yang masih belum beranjak dari tempatnya mengintip mereka.
“Suara apa itu ?” Nyonya Fatima sampai keluar dari kamarnya dan menuju ke sumber suara berisik.
Ia pun menatap Afsha dengan tajam melihat vas pemberian dari alm ayah mertuanya yang sangat di favoritkannya dan juga dijaganya pecah, terlebih seorang pelayan yang memecahkan.
“Kau- kau memecahkan milikku !” bentak wanita itu menatap Afsha dengan marah.