
“Auwh....”dr. Ammar merintih kesakitan ketika tubuhnya membentur lantai.
Kedua mata mereka beradu sangat dekat dengan posisi Afsha di atas pria itu dan menghadap padanya.
Deg
“Pergi kau dan turun dari tubuhku.” teriak dr. Afsha sambil mendorong Afsha menjauh dari tubuhnya saat merasakan jantungnya berdetak aneh.
“Ma-maaf”
Afsha kemudian segera turun dari sana dan terlihat sekaligus takut melihat wajah dr. Ammar.
“Kau ini...” dr. Ammar segera berdiri sambil menyentuh bokongnya yang terasa panas. “hiss... selalu saja kau membikin masalah dengan ku. Harusnya dari awal aku tak menerimamu saja dan tak mempedulikan rengengkan iba mu padaku yang meminta pekerjaan.” menatap tajam pada Afsha.
“Ma-maaf.”
“Hanya itukah yang bisa kau ucapkan padaku ?” dr. Afsha menatap tubuh pelayanan di depannya itu gemetar. “Oh...” ia pun mengusap wajahnya dan menurunkan nada bicaranya.
“Jika kok kembali berulang maka aku tak akan segan memecatmu.”
“Jangan tuan kumohon jangan pecat aku.” Afsha rela sampai bersimpuh di kaki pria itu dengan memohon agar tidak memecatnya.
dr. Ammar masih menatap gadis yang bersimpuh di kakinya. Ternyata meskipun ia sangat keras namun ia tak tega juga padanya.
“Ya kau boleh pergi sekarang. Aku mau istirahat.” pria itu menarik kakinya kemudian berbalik dan duduk di tempat tidur.
“Baik tuan, terimakasih.” Tanpa bicara lagi ia pun membawa alat pel dan ember keluar dari kamar dan mengembalikan alat kebersihan itu lalu masuk ke kamar.
“Ouh...susah sekali hidup di luar.” Afsha meluruskan kedua kakinya yang terasa pegal dan juga tangannya yang terasa kaku. “Susahnya menjadi seorang pelayan.” menghela nafas panjang sambil merenung.
Keesokan paginya terlihat dr. Ammar berangkat pagi-pagi sekali ke rumah sakit tak seperti biasanya. Ia bertemu dengan Afsha yang sedang menyapu di teras.
“Mataku rasanya masih berat. Semalam tak bisa tidur karena tubuhku pegal semua.” gumam Afsha sambil mengangkat matanya yang hampir terpejam.
“Hey... hey... apa yang kau sapu ?” dr. Ammar berhenti saat Afsha yang berjalan sempoyongan sambil memegang sapu hampir saja menyapu sepatunya.
Afsha berhenti dan mengambil langkah mundur saat hampir menginjak sepatu hitam di depannya.
“Ini bukan saatnya tidur. Buka mata dan kerja yang benar pelayan malas.” ucapnya dengan nada tinggi yang sontak mengagetkan Afsha yang memang hampir tertidur.
“Oh... baik tuan.” seketika rasa kantuk Afsha hilang entah ke mana mendengar bentakan tersebut.
“Ck... ck....” dr. Ammar pun segera berjalan menuju ke mobilnya karena tak mau membuang waktu lebih lama lagi atau berurusan dengan Afsha.
Pria itu kemudian menuju ke rumah sakit tempatnya bekerja, Rumah Sakit Aspetar yang merupakan rumah sakit besar di daerahnya.
“Pagi dokter, ucap asistennya menyapa dr. Ammar saat pria itu masuk ke ruangan kerjanya.
“Ya, pagi Jasmine.” jawabnya singkat lalu duduk di kursinya melihat setumpuk daftar pasien di meja.
Beberapa menit kemudian pria itu selesai membaca setumpuk data pasien di depannya dan menyerahkan kembali pada asistennya.
“Kau bisa panggil pasiennya sekarang.”
“Baik dokter.” Jasmine kemudian segera memanggil pasien pertama untuk masuk dan menjalani pemeriksaan.
Seorang pasien masuk, seorang pria berusia 20 tahun duduk di depan dr. Ammar.
“Hasan... bagaimana keadaanmu belakangan ini ?” dr. Ammar melihat pasiennya itu terlihat lebih berantakan dari hari biasanya.
“Aku baik-baik saja dokter hanya saja aku tak bisa tidur setelah dua hari yang lalu aku bertemu dengan my x-girl.”
Ya, Hasan adalah pasien broken heart yang menjadi linglung setelah putus dengan kekasihnya. Sudah berapa psikiater yang merawatnya namun tak ada yang bisa membantunya selain dr. Ammar yang dengan sabar dan telaten mengobati pasien tersebut hingga Kondisinya sudah hampir pulih seperti sekarang ini.
Setelah percakapan panjang, Hasan pun keluar dari ruang periksa dengan hati yang lebih lega. Tak lama setelahnya masuk beberapa pasien yang juga membawa masalah berat dan dr. Ammar bisa menanganinya.