Finding Perfect Wife

Finding Perfect Wife
Eps. 30 Teringat Pada Safa



dr. Ammar tiba di rumah sakit. Ia pelajaran terburu-buru karena hampir saja terlambat.


“Astaga apa yang bisa dilakukan gadis itu ?” dr. Ammar turun dari mobil dan berhenti sebentar menatap sepatu hitamnya. “Masih kotor seperti ini.” umpatnya kesal yang membuatnya terpaksa harus membersihkannya sendiri.


“ck.” ia kemudian mengambil tisu basah yang ada di mobil dan mengambil beberapa kemudian duduk di kursi yang ada di tempat parkir. Ia melepas sepatunya dan membersihkannya.


Dari arah lain tampak pria yang mengenakan baju serba putih menghampirinya setelah turun dari mobil.


“Sedang apa kau Ammar ?” tanya pria itu menatap sepatu yang dipegang oleh dr. Ammar.


Dr. Ammar melongok ke atas melihat siapa yang memanggilnya, “Pasha ?”


“Tumben sekali kau membersihkan sepatumu sendiri. Bukankah banyak pelayan di rumahmu ?”


“Ya, itu masalahnya ada pelayan baru di rumahku dan kau tahu itu semua pekerjaannya tak ada yang becus. Aku menyesal mempekerjakannya di rumahku. Sekarang aku sendiri yang kerepotan.” jelasnya panjang lebar sembari merutuk seseorang.


“Pecat saja dia. Cari lagi Line baru yang lebih berkompeten, simpel bukan ?”


dr. Ammar mendengar penjelasan dari temannya itu. Ya, dr. Pasha adalah dokter bedah di rumah sakit Aspetar. Mereka berdua tergolong dekat karena sering terlihat bersama di waktu luang mereka.


“Benar juga katamu. Tapi... tapi kasihan juga jika aku memecatnya mau makan apa dia nanti di luar sana ? Apa ada orang yang mau mempekerjakan nya ?” timpalnya setelah berpikir dan ternyata merasa iba pada Safa meskipun gadis itu menyebalkan.


“Kau ini, tumben sekali kabar baik hati pada seorang pelayan.” timpal dr. Pasha yang merasa aneh saja ada temannya itu karena biasanya ia teruskan tegas dan langsung memberikan hukuman pada pelayan yang dianggap bekerja tak becus.


“Sudahlah jangan bahas itu lagi. Masalah itu akan ku pikirkan nanti.” dr. Ammar berdiri dan segera memakai kembali sepatunya. “Lumayanlah.” ia tersenyum pecah menatap sepatunya yang sudah bersih, setidaknya lebih bagus pekerjaannya daripada pekerjaan Safa.


“Kau tak ada jadwal operasi kali ini ?”


“Ada, 20 menit lagi ada pasien yang akan operasi.” timpal dr. Pasha kemarin melirik jam yang melingkar di tangannya.


“Jika begitu ayo kita masuk.”


dr. Ammar segera melangkahkan kakinya dari tempat parkir masuk ke rumah sakit dengan dr. Pasha yang mengikutinya.


“pagi dr. Ammar.” sapa asistennya saat pria itu duduk di kursinya.


“Ya, pagi Yusuf.” jawabnya singkat membalas sapaan dari asistennya itu dengan datar tanpa ekspresi. Entah kenapa hari ini mod-nya buruk dan ia tak ingin banyak bicara. “Panggil pasiennya untuk segera masuk.”


“Baik, dokter.”


Yusuf segera memanggil satu pasien untuk masuk ke ruang periksa.


“Pagi dr. Ammar.” sapa seorang pasien wanita berusia sekitar 55 tahun.


“Ya, nyonya Maryam apa yang anda keluhkan saat ini ?” seketika pria itu bisa menyulap dirinya yang sedang tidak mood menjadi terlihat ramah, ceria dan tentu saja sopan di depan pasiennya.


“Dokter hari ini aku merasa bersalah sekali pada putriku yang berusia 20 tahun karena lagi-lagi dia melakukan semua hal yang Bagiku tak ada yang benar meskipun dia melakukan dengan sepenuh hati.”


Deg


dr. Ammar merasa masalah yang diutarakan oleh Nyonya tersebut mirip dengan masalah yang dihadapinya saat ini dimana dia juga merasakan hal yang sama pada Safa seperti yang Nyonya itu rasakan.


“ehm...simple saja nyonya anda tak perlu stres pada putri anda karena usianya memang masih muda dan labil. Cobalah anda memberikan sedikit pengertian pada foto ganda dengan memberinya pujian meskipun tidak suka.” jelas dr. Ammar panjang lebar dengan lancar seperti air mengalir.


Mereka mengobrol selama hampir kurang lebih satu jam lamanya baru pasien itu keluar dari ruang periksa.


“dr. Ammar apakah pasien berikutnya sudah boleh masuk ?” tanya Yusuf setelah melihat pasien tadi keluar dari sana.


“Tunggu satu jam lagi baru panggil pasien berikutnya.” setelah minyak demikian ia pun segera keluar dari ruangan itu masuk ke ruangan lain untuk sejenak menenangkan pikirannya.


Ya, pria itu teringat pada apa yang ia ucapkan pada pasien pertamanya tadi yang membuatnya teringat pada Safa yang mirip dengan posisi putri nyonya tadi yang selalu disalahkan.


“Apa aku salah memperlakukan gadis itu ?” Safa kali ini benar-benar telah mengganggu pikiran dr. Ammar hingga membuatnya tak bisa konsentrasi saat bekerja.