Finding Perfect Wife

Finding Perfect Wife
Eps. 67 Mengantar Afsha Pulang



Afsha berhenti sejenak kemudian menatap dr. Ammar.


“Apa ?!” ucapnya dengan ketus. “Lepaskan !” menarik tangannya kemudian berlari ke depan rumah untuk menunggu taksi yang lewat.


“Keras kepala sekali dia.” desau


dr. Ammar lalu mengejar Afhsa.“Tunggu !”


Ia berhasil meraih tangan Afsha dan menariknya membuatnya berhenti.


“Kenapa kau terus mengikutiku ? Pergi sana !” bentak Afsha dengan marah.


Ia tak tahu kenapa pria yang tak mau membantunya saat ada masalah kini mau mengantarkan dirinya.


“Aku sudah bilang kemarin akan mengantarmu.”


Jangankan merespon perkataan dr. Ammar, melihat saja Afsha tak mau.


“Aku juga sudah bilang berkali-kali padamu aku tidak mau kau antar.” jawabnya masih ketus dan menarik tangannya lagi.


Namun kali ini dr. Ammar mengeratkan pegangan tangannya.


“Auwh... lepaskan tangan ku, sakit !” Afsha berusaha mengguncangnya dengan keras sembari menariknya namun tetap saja pria itu tak melepaskan tangannya.


Malahan kini ia menariknya untuk berjalan mengikutinya.


“Aku akan melepaskan tanganmu jika kau sudah duduk di mobil.” balas dr. Ammar tak kelas kalah keras kepalanya dengan Afsha.


Ia menarik paksa Afsha yang terus meronta kemudian berjalan cepat masuk ke mobil.


Klak.


dr. Ammar segera mengunci pintu mobil agar gadis itu tak bisa keluar bahkan ia pun segera menginjak gas dalam, tak memberikan jeda waktu sedikit pun bagi Afsha untuk kabur darinya lagi.


“Kau ini...” decak Afsha kesal karena pria itu mengangkut bahkan sampai ia pun hampir membentur dinding kaca mobil yang ada di depannya. Untungnya ia segera menarik seatbelt dan memasangnya. “Apa maksud mu melakukan ini padaku ?” ucapnya tak terima dengan perlakuan pria tersebut.


dr. Ammar sambal pedas hanya tersenyum saja menatapnya.


ck


Afsha hanya berdecak saja menatapnya dan tak mengajaknya bicara lagi sembari mengalihkan pandangan.


“Aku hanya ingin membantumu saja mengantarmu pulang.”


“Tapi kenapa kemarin tak membantuku saat ibumu memarahiku ?” dengan masih kesal Afhsa kini menatap ke


Namun pria itu hanya diam saja dan kini ia tampak merasa bersalah meskipun itu terpaksa ia lakukan demi kebaikan Afsha sendiri.


“Atau jangan-jangan kau merencanakan semua ini supaya aku diusir dari rumahmu ?” ucap Afhsa tiba-tiba saja terlintas pikiran seperti itu.


“Tentu saja tidak.” protesnya keras. “Mana mungkin aku merencanakan seperti, itu buruk sekali pikiranmu padaku.” cerocosnya tak mau disalahkan.


Afsha pun akhirnya diam karena menurutnya percuma jika menanggapi perkataan pria tersebut yang akan membuatnya emosi dan semakin emosi saja.


“Hey kita sudah keluar dari kota As Sani. Tunjukkan padaku jalan menuju ke rumahmu.” ucap


dr. Ammar yang tidak direspon oleh Afsha.


Gadis itu hanya menggelengkan kepala dan malah menatap pemandangan jalan di luar kaca.


“Afsha cepat katakan setelah ini kita harus ke mana.” ucap


dr. Ammar saat sudah melewati pintu gerbang masuk kota Doha.


Tak ada respon dan dr. Ammar baru menyadari jika gadis itu ternyata tertidur.


“Well, bagaimana ini ?” pekiknya bingung sembari memerankan laju mobilnya untuk berpikir.


Ia sampai menampilkan mobilnya sebentar setelah menemukan ide secepat kilat.


“Benar tuan Abizar kan public figure, tinggal search saja pasti sumber informasi mengenai pria itu akan muncul.”


dr. Ammar kemudian mengeluarkan ponselnya dan langsung mencari profil data pria tersebut.


“Benar saja di sini ada alamat rumahnya.”pekiknya senang tanpa bantuan dari Afsha pun ia bisa tiba di sana nanti.


Karena tak mau salah jalan dan belum mengenal daerah itu maka ia pun menggunakan layanan maps pada ponselnya untuk menelusuri alamat yang tadi ditemukannya dari internet.


“Semiga saja segera sampai dan tidak nyasar.” pria itu mengikuti arah yang diucapkan oleh maps.


Hingga 25 menit kemudian dia berhenti di depan sebuah rumah mewah bercat kuning.


“Hey, Afsha bangun. Kita sudah sampai di rumahmu.” pria itu mematikan mobil lalu membangunkan Afsha.


“Kau ini mengganggu tidurku saja.” keluh Afsha membuka matanya dengan malas. Dan ia pun terkejut seketika melihat mereka sudah tiba di rumahnya. “Bagaimana bisa kau tiba di rumahku ?!”


dr. Ammar hanya tersenyum lebar sembari mengangkat alisnya ya kemudian membuka pintu mobil dan segera keluar dari sana. Bahkan ia sudah membunyikan bel pintu rumah saat Afhsa baru keluar dari mobilnya.