Finding Perfect Wife

Finding Perfect Wife
Eps. 84 Berkunjung Ke Kantor



Dr. Ammar melajukan mobilnya menuju ke rumah Afsha. perjalanan kali ini terasa menyenangkan karena pria itu sudah lama menunggu perjalanan tersebut.


Entahlah kenapa pria itu hari ini terlihat bersemangat sekali.


Dua jam kemudian dr. Ammar tiba di rumah Afsha.


Tok-tok


Langsung saja pria itu mengetuk pintu setelah turun dari mobilnya.


Klak


Pintu terbuka dan pria itu berharap Afsha yang keluar.


“Tuan, apa anda mencari nona ?” ya, yang membukakan pintu adalah Fatma.


Fatma pun menjadi hafal pada tamu pria yang bertamu saat ini setelah beberapa kali bertemu ke sana.


“Ya, apa dia ada ?” tanya dr. Ammar.


“Maaf tuan, nona masih ada di kantor dan belum pulang.”


dr. Ammar menghela nafas panjang. Seharusnya dia memang menelepon gadis itu terlebih dulu. Salahnya juga yang tidak memberitahu pria kedatangannya pada Afsha.


“Tuan, anda bisa menemui nona di kantor.” ucap pelayan itu bisa melihat raut kekecewaan tamunya.


“Dimana kantor Afsha ?” tanyanya singkat. Ia sama sekali tidak mengetahui di mana kantornya.


Fatma lalu menjelaskan dimana letak kantor itu pada pria yang baru ya ketahui jika itu adalah tunangan nona mudanya.


“Baiklah, aku akan ke sana.” jawabnya singkat. dr. Ammar berpikiran tak ada salahnya juga menemui gadis itu di kantor sekaligus berkunjung ke kantor tuan Abizar.


dr. Ammar lalu kembali masuk ke mobilnya. Ia menuju ke jalanan dan mengarahkan mobilnya menuju ke kantor Afhsa.


Di tengah jalan sebelum sampai ke tempat tujuan dia melihat penjual bunga segar dan berhenti di sana.


“Tolong sebuket bunga mawar merah, nona.” ucap dr. Ammar ada florist di sana. “Tolong bunga nya yang barusan dipetik kalau ada.” tambahnya.


“Semua bunga di sini barusan dipetik pagi ini, tuan dan kami tak pernah menginapkan bunga lebih dari sehari untuk dijual.” jawab florist tersebut menjelaskan.


dr. Ammar hanya mengangguk saja menanggapinya.


Ia sangat berharap Afsha nanti akan menyukai hadiah kecilnya itu yang juga tak ia persiapkan sebelumnya.


Ia kembali melajukan mobilnya sesuai dengan arah yang ditunjukkan oleh pelayan Afsha. 2 km dari rumah dan kantor itu ada di seberang jalan di sisi barat jalan.


“Pasti di sini, tempatnya.”


dr. Ammar menghentikan mobilnya di sebuah bangunan besar, tinggi, megah yang ada diantara bangunan kantor lainnya di sana dan terlihat paling menonjol sendiri.


“Jurangan minyak ya, tak heran.” gumam dr. Ammar mengagumi bangunan tersebut dan berdecak kagum.


Di detik berikutnya pria itu segera tersadar dari lamunannya lalu mengetuk pintu.


Klak


Pintu terbuka dan seorang pria asing keluar dari sana.


“Ada yang bisa dibantu, tuan ?”


“Aku ingin bertemu dengan tuan Abizar atau nona Afsha.” jawab dr. Ammar pada pria berambut klimis yang mengenakan setelan biru gelap.


“Maaf, tuan Abizar sedang tidak ada di tempat. Lalu apakah anda sudah ada janji dengan Nona Afsha ?”


Peraturan di sana emang harus membuat janji terlebih dulu jika ingin bertemu jadi tidak bisa sembarangan bertemu dan itu berlaku untuk semua tamu.


“Bilang saja dr. Ammar mencarinya.”


“Maaf, tuan jika memang tak ada janji di sini maka harus bikin janji dulu baru bisa bertemu.” jawab staf tadi dengan sopan.


Tak ingin kedatangannya yang jauh-jauh dan melelahkan ini sia-sia belaka, terpaksa ia pun mengatakan yang sebenarnya.


“Maaf, aku adalah tunangan dari nona Afsha.” akunya terpaksa karena tak ingin kembali pulang dengan tangan hampa.


Pria tadi menganukan kepalanya sekaligus baru mengetahui tamu depannya adalah tunangan nona besar.


“Baik silahkan tuan masuk dan duduk dulu.” staf tadi kemudian segera pergi setelah mempersilakan tamunya masuk.


Ia memberitahu tentang kedatangan tunangannya pada nona Afsha.


“Apa ? dr. Ammar kata mu ?” ucap Afsha dengan mata yang membulat besar tak percaya dengan ucapan staf nya.


Tanpa bertanya lagi keluar dari ruangannya menuju ke ruang tamu.


“Kau... ?! Kenapa kau mencariku sampai kemari ?” ucap Afsha melihat sosok pria yang di tatapnya itu tersenyum lebar padanya.