
“A-Afsha... apa aku salah lihat ?” ucap Kak Amla terbata-bata menatap Afsha yang dulu hanyalah seorang pelayan kecil di sana namun kini berubah menjadi tunangan tuannya.
“Kak Amla.” sapa Afsha dengan renyah. Kali ini dia tak bisa lagi tidak menyapa wanita yang pernah menjadi rekan kerjanya itu.
“Kau-kau apakah mau kembali bekerja di sini ?” tanyanya karena tak yakin dengan perkiraannya jika gadis itu adalah tunangan dr. Ammar.
Afsha diam. Dia bingung mau menjawab apa meskipun menunjukkan wajah senyum.
“Bi, dia bukan kembali untuk bekerja seperti dulu tapi untuk bertemu dengan ibu.” timpal dr. Ammar dengan cepat sebelum terjadi kesalahpahaman.
Bahkan dr. Ammar segera menarik Afsha untuk berjalan lagi dan langsung masuk ke rumah saja daripada membahas hal lainnya.
Kak Amla hanya geleng-geleng kepala saja saat melihat mereka berdua masuk ke rumah.
“Jadi benar, Afsha adalah tunangan dr. Ammar ? Tapi bagaiman bisa dokter keturunan orang kaya seperti dia mau menjalin hubungan dengan seorang pelayan rendahan seperti Afsha ?” gumamnya syok berat dan masih tak menyangka juga tak percaya begitu saja.
Dengan muka penuh penasaran pelayan itu kemudian masuk ke rumah. Di sana dia kembali bekerja dan bertemu dengan tiga pelayan lainnya.
“Kalian tahu tuan hari ini kemari membawa tunangannya. Tapi Kalian pasti akan terkejut jika mengetahui siapa tunangannya.” ucap Kak Amla bercerita dengan berapi-api.
“Siapa ?” tanya tiga pelayan yang ada di sana penasaran sekali sampai menghentikan pekerjaan mereka sejenak.
“Afsha.”
Sontak tiga pelayan lainnya yang ada di sana terkejut semua.
“Afsha siapa yang kau maksud ?” tanya kak Cala karena ia kenal hanya satu Afsha saja.
“Siapa lagi jika bukan Afsha yang sebelumnya pernah menjadi pelayan di sini bekerja bersama kita.” jawab Kak Cala dengan penuh penekanan di setiap katanya.
“Astaga.” mereka bertiga benar-benar syok dan terkejut mendengarnya.
Afsha duduk di ruang tamu bersama dr. Ammar setelah pria itu memanggil Ibunya dan menunggu kedatangannya.
Ia menatap dr. Ammar yang sedari tadi terlihat tenang-tenang saja.
“Semuanya akan baik-baik saja tak perlu cemas begitu. Ada aku di sini.”
Tak lama kemudian Nyonya Fatima keluar dari sebuah ruangan menuju ke ruang tamu.
Manik matanya langsung bersi tetap dengan gadis yang duduk di samping putranya.
“Kau... ?” Nyonya Fatima terlihat heran kenapa putranya membawa kemari pelayan yang dulu pernah bekerja di sana.
“Ammar apa maksud mu membawa kembali pelayan ini ke rumah ?” tanya wanita itu terlihat bingung dan beralih menatap putranya dengan menuntut.
Afsha juga terlihat gugup kemudian menatap pria yang duduk di sampingnya.
“Ibu dia memang apa yang pernah bekerja di sini sebagai pelayan dan dia adalah tunanganku yang kumaksud.” jelas dr. Ammar singkat.
Nyonya Fatimah benar-benar terkejut sampai-sampai ia berdiri sempoyongan dan segera duduk ke kursi sebelum jatuh.
“Ammar, aku tak tahu apa yang kau pikirkan. Kenapa kau mau pertunangan dengan seorang pelayan seperti dia.”
dr. Ammar terlihat tenang dengan ucapan ibunya karena sudah ia duga sebelumnya reaksinya akan seperti itu.
“Bagaimana ini.” batin Afsha tak berucap sepatah kata pun dan mulai berkeringat dingin.
“Ibu, bukankah ibu sebelumnya sudah janji padaku akan menuruti permintaanku. Apa ibu sudah lupa itu ?” ucapnya mengingatkan lagi.
“Ouh.” Nyonya Fatima sampai memijat kepalanya yang terasa pusing teringat dengan janji yang sudah ia lupakan. “Itu kau...” ucapannya tertahan.
Tak mungkin dia akan membatalkan janjinya.
“Jadi janji waktu itu maksudnya ini ?” batinnya baru menyadari perilaku aneh putranya beberapa waktu yang lalu.