Finding Perfect Wife

Finding Perfect Wife
Eps. 39 Air Mata Bawang



“Astaga bagaimana ini ?” Afsha mengambil seragam putih dr. Ammar yang sudah bolong bahkan kepalanya pun muat masuk ke lubang itu.


“Afsha apa kau sudah selesai menyetrika baju ?” suara kak Zaitun berjalan dari luar dan akan masuk ke ruangan.


“Gawat, jangan sampai Kak Zaitun mengetahui ini.”


Afsha menyembunyikan baju yang berlubang itu di bawah keranjang baju agar tak ada yang mengetahuinya.


“Ada apa kak ?” Afsha mencoba untuk tenang dan bersikap wajar, kembali menyetrika.


“Rupanya masih satu keranjang setrikaan lagi punya mu.” kak Zaitun menatap dua keranjang yang sudah selesai di setrika. “Setelah selesai mengerjakan ini kau bantu kak Cala di dapur lepas bawang merah.” terangnya kemudian segera berlalu dari sana dan meninggalkan gadis itu seorang diri di sana.


“Bawang ? Apakah banyak bawang yang harus di kupas sampai harus dua orang yang mengerjakannya ?” gumamnya merasa aneh saja karena untuk mengupas bawang satu orang saja sudah cukup.


Afsha segera menyelesaikan setrikaannya. “Lalu bagaimana dengan ini ?” ia kembali melihat seragam dr. Ammar yang rusak.


Ia pun berpikir keras bagaimana caranya supaya dr. Ammar tak mengetahuinya.


“Mungkin jika satu baju hilang maka dia pun tak akan tahu.” gumamnya melihat tumpukan seragam putih ada 10 pasang lebih. “Ya, pasti pria itu tak akan menyadarinya.”


Afsha kemudian memasukkan seragam yang rusak tadi dalam sebuah kantong plastik lalu menyimpan di kamar dan akan membuangnya ke tempat sampah saat tak ada melihatnya.


“Beres.” Afsha keluar dari kamar dr. Ammar setelah menata semua setrikaan baju pria tersebut. “Kak Cala tunggu aku.”


Afsha masuk ke dapur untuk membantu kak Cala yang sudah mengupas bawang merah satu mangkuk.


“Kak mana biar kubantu.” Afsha meminta bawang untuk dikupas.


Kak Cala kemudian mengambilkan bawang yang ada dalam kantong plastik besar dan menyerahkannya pada Afsha.


“5 kg bawang merah ?” pekiknya terkejut. “Apa ada hajatan atau untuk apa mengupas bawang merah sebanyak ini ?” tanyanya masih penasaran saja.


“Apa ?” Afsha kembali merasa siap menghabiskan 5 kg bawang merah untuk satu minggu ? Lalu apa yang dimaksud hingga memerlukan bawang sebanyak itu.


Kak Cala kemudian menjelaskan jika bawang merah itu hanya dimasak saja melainkan lebih banyak yang digoreng karena dr. Ammar dan nyonya Fatima merupakan penyuka bawang goreng. Dan di setiap masakan harus ada bawang gorengnya.


“Jadi begitu rupanya.” Afsha kemudian segera membantu dan mulai mengupas bawang merah.


Sungguh gadis itu sama sekali tak pernah melakukan pekerjaan rumah seperti itu.


“hiks... hiks...” baru mengupas lima butir bawang saja Afsha sudah menangis. “Kak Cala mataku pedas. Aduh bagaimana ini.” Ia termasuk mengusap air matanya namun kan matanya dingin malah semakin bertambah pedih karena bekas memegang bawang merah tadi dan belum dicuci.


“Berhenti dulu sebentar baru lanjutkan mengupas lagi.” kak Cala memberikan saran dan Afsha segera berhenti mengupas untuk break sejenak.


15 menit kemudian gadis itu kembali mengambil beberapa bawang merah dan mulai mengupasnya kembali.


“hiks... hiks....” Afsha kembali meneteskan air mata saat mengupas dan hal itu terus-menerus terjadi sampai ia selesai mengupas.


“Akhirnya selesai juga.” Afsha merasa lega dan akhirnya bisa berhenti menangis.


“Sekarang kau istirahat saja nanti jika ada yang perlu dikerjakan lagi aku akan memanggil mu.” ujar Kak Cala sembari membawa bawang merah yang sudah selesai dikupas tadi keluar.


Afsha mengangguk dan ia pun masuk ke kamar untuk beristirahat dengan matanya yang bengkak karena lama menangis.


Sore hari dr. Ammar pulang dan segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Pria itu pun kemudian menuju ke almari pakaiannya untuk mengambil baju.


“Astaga siapa yang menyetrika bajuku ? Semuanya masih kusut seperti tak disetrika saja.” dr. Ammar mengembalikan satu baju yang ternyata masih kusut kemudian mengeluarkan baju lain yang ternyata semuanya juga kusut. “Pekerjaan tidak becus seperti ini apakah ini pekerjaan Afsha ?”


Ia pun memakai baju kusut tersebut dan tanpa bertanya pada pelayan lainnya ia berjalan menuju ke kamar Afsha untuk menanyakan hal itu.