
Beberapa saat kemudian mobil melaju menuju ke Palm Tree Island.
“la... la... la...” Afsha bersenandung riang selama di perjalanan.
“Baguslah aku senang jika kau senang.” ucap dr. Ammar menoleh ke samping menatap Afsha. “Sebentar lagi pasti kau akan lebih senang lagi.” tersenyum lebar.
Afsha merasa aneh saja dengan senyuman pria itu yang tak lazim.
“Kenapa tertawamu sangat mengerikan sekali ?” Afsha sampai berhenti bersenandung.
“Apa masalah dengan senyumanku ?” bukannya berhenti tersenyum pria itu malah melebarkan senyumnya. “Jangan bilang kau mulai terpukau padaku.” sindirnya dengan percaya diri.
“Oh My God.” Afsha langsung memegang kepalanya yang terasa berat. “Kasihan sekali nanti wanita yang menjadi istrimu.” balas menyindir karena sedikit pun ia tak ada rasa dengan pria tersebut.
Dan ucapan dari Afsha pun membuat mereka berdua kembali berdebat seperti biasanya tiada hari tanpa berdebat bagi mereka.
“Betapa beruntungnya nanti wanita yang akan menjadi istriku menikah dengan pria tampan dan juga sukses seperti diriku ini.”
dr. Ammar menarik kerah bajunya dan mengangkatnya ke atas dengan pongkak.
“Ya, ya, ya... semoga yang jadi istrimu nanti orangnya super, super, super sabar sekali.” balas Afsha singkat dan mengena membuat pria itu tak melanjutkan debat mereka.
Ia pun segera mengalihkan pandangan menatap jalanan di luar jendela.
"Aku harap aku tidak bertemu lagi dengan pria ini setelah ini.” batin Afsha melirik dr. Ammar sebentar lagi lalu kembali menatap jalanan di luar jendela.
60 menit kemudian mereka tiba di Palm Tree Islands.
“Akhirnya kita tiba juga di sini.” ucap Afsha melompat turun dari mobil sambil merentangkan kedua tangannya ke atas menghirup udara bebas.
Di depan mereka terlihat pulau buatan yang sengaja dibuat di tengah lautan dengan bentuk pohon kurma.
Di sana terdapat Villa mewah, hotel berbintang lima, pusat perbelanjaan dan juga perkantoran.
“Hey, tunggu aku !” teriak dr.Ammar melihat Afsha yang sudah berjalan cepat mendahului dirinya. “Padahal aku hanya berhenti sebentar untuk mencari keberadaan tuan Abizar.” gumamnya lirih nyaris tak terdengar.
Afsha cuek dan terus saja berjalan meninggalkan pria tersebut.
“Disini sepertinya teduh.” tiba-tiba Afsha berhenti setelah melihat pohon kurma di tepi pantai.
Ia pun kemudian duduk di atas pasir putih dengan tatapan lepas memandang ombak yang berbuih di depannya.
“Indah sekali resort ini.” gumam Afsha lagi menatap Palm Tree Island yang terlihat seperti sebuah kunci mengapung di tengah laut jika dilihat dari kejauhan.
dr. Ammar melihat situasi dan mendapati Afsha sedang menikmati pemandangan kala itu dan merupakan waktu yang bagus baginya untuk bicara dengan tuan Abizar.
dr. Ammar dalam sambungan telepon setelah tersambung. “Tuan apakah anda sudah ada di lokasi ?”
“Halo, dr. Ammar. kami sudah berada di tempat ini dari 2 jam yang lalu. Sekarang di mana aku bisa menemuimu ?” balas Abizar berada di area yang sama namun Sudah masuk ke Palm Tree Island menikmati menu masakan di sana.
“Baiklah tuan aku akan mengabari anda nanti di mana posisi tepatnya kami berada. Sekarang aku akan mencari kesempatan terlebih dulu.” ucap
dr. Ammar sebelum panggilan mereka berakhir.
dr. Ammar kemudian menghampiri Afsha dan mengajaknya berkeliling melihat semua resort yang ada di sana agar tidak kecewa.
Hingga 1 jam setelahnya mereka berdua berhenti.
“Kakiku sampai pegal rasanya.” gerutu Afsha setelah duduk dan bersandar di salah satu pohon kurma yang ada di sana.
“Kau pasti haus aku akan mencarikan minuman untukmu baru nanti kita lanjut jalan lagi.”
seloroh dr. Ammar memanfaatkan kesempatan yang ada dan tersenyum dalam hati.
dr. Ammar segera pergi dari sana namun dia tak langsung menuju ke sebuah toko yang menjual minuman dan malah berhenti di sebuah tempat yang sepi.
“Halo tuan....” dr. Ammar segera mengeluarkan ponselnya kemudian menghubungi tuan Abizar sekaligus memberikan lokasi keberadaan mereka saat ini.
“Baik, aku akan ke sana.” jawab Abizar segera bersiap dan menunggu pesan selanjutnya.
ding
Suara notifikasi pesan masuk pada ponsel Abizar yang langsung diperiksa olehnya."
Tiga puluh menit berlalu namun dr. Ammar belum kembali juga.
"Dasar dia membohongi diriku ! Awas kau nanti dr. Ammar.”
Lima menit setelahnya terdengar suara derap langkah kaki menuju ke tempat dimana Afsha berada.
“Afsha...” panggil suara seorang pria yang sangat akrab di telinga.
Afsha pun menoleh dengan hati-hati mendengar suara yang sangat mirip sekali dengan suara ayahnya.
deg
Benar sekali bahwa yang datang adalah ayahnya. Tubuh Afsha terasa kaku, ia juga mendengar degup jantungnya yang tak beraturan.