Finding Perfect Wife

Finding Perfect Wife
Eps. 73 Mengkonsumsi Obat Lama



Afsha berhenti sebentar saat melewati ayahnya. Ia menatap ayahnya dengan curiga.


“Apa ayah barusan menelepon dr. Ammar ?” tanyanya saat melihat pria itu Menatap layar ponsel dan memasukkan ke saku baju dengan cepat setelahnya.


“Tidak, ayah tidak menelepon siapapun hanya melihat pesan masuk saja.” jawabnya kemudian segera berlalu dari sana sebelum putrinya itu kembali melemparkan pertanyaan padanya.


Afsha pun kemudian masuk ke kamar. Di sana dia duduk dan menelepon seseorang.


“Baiklah dokter sampai ketemu besok di rumah sakit.” ucapnya setelah percakapan terakhir dan menutup teleponnya.


Afsha menghubungi dokter lamanya yang biasa mengurusi sakitnya dan di sebuah rumah sakit di Doha untuk bikin janji dengannya.


“Sedang apa ya dia ?”


Afsha tiba-tiba kembali teringat pada dr. Ammar.


“Oh, kenapa aku tiba-tiba memikirkan dia lagi ?”


Ia pun cepat-cepat menghapus bayang pria itu dari pikirannya dan memilih untuk segera tidur karena sudah malam.


Sementara di rumah dr. Ammar, pria itu dan duduk di kamar menyiapkan obat untuk Afsha.


“Akhirnya aku selesai membungkusnya juga dan tinggal mengirimnya besok.” pria itu menata paket berisi obat yang sudah selesai di bungkusnya ke tepi meja sembari membayangkan Afsha.


“Entah kenapa rumah ini sekarang rasanya sepi tanpa kehadiran dia. Tak ada lagi yang ku goda di sini.” gumam dr. Ammar tanpa sadar memikirkan kembali Afsha.


*


*


Keesokan paginya dr. Ammar berangkat kerja seperti biasa namun dia berhenti di tengah jalan di depan sebuah ekspedisi.


“Aku mau mengirimkan ini.” pria itu mengeluarkan paket yang di bawahnya kemudian menyalahkan pada petugas di sana. “Tolong pakai layanan kilat sehari sampai.” tambahnya.


“Ya, tuan.” petugas menerima paket itu lalu memberikan resi pada dr. Ammar.


dr. Ammar lalu kembali masuk ke mobilnya dan segera melanjutkan menuju ke rumah sakit Aspetar dan dalam kesibukan seperti hari-hari biasanya setibanya di ruangannya.


Di waktu yang bersamaan, Afsha pergi ke rumah sakit tempat biasanya dia berobat. Ayahnya tak mengetahui itu karena sudah berangkat lebih dulu ke kantor.


cit


Afsha memarkir mobil di rumah sakit setibanya di sana dan langsung masuk ke ruang periksa.


“Nona Afhsa lama sekali anda tidak kemari menemuiku.” ucap dokter yang merawatnya.


Dokter memeriksa keadaan Afsha dan menyatakan kondisinya lebih baik daripada sebelumnya.


“Ini obatnya dan minum rutin seperti biasanya nona, Afsha.”


“Baik, dokter.” Afsha menerima obat tersebut dan setelahnya segera kembali ke kantor.


Sore hari kemudian di rumah Afsha.


ding-dong


Fatma yang sedang bersin-bersih ruang tamu segera mau buka pintu saat mendengar bel pintu rumah berdering.


“Benar ini rumah nona Afsha ?” ucap seorang kurir turun dari mobil box dengan mengantarkan paket Afsha.


“Benar.”


“Tolong tanda tangan di sini.”


Fatma menerima paket itu setelah menandatanganinya dan meletakkan paket itu di kamar nona Afsha.


Satu jam kemudian Afsha pulang dan tiba di rumah.


“Lelahnya.” ucapnya sembari duduk di tempat tidur setelah masuk ke kamarnya.


“Apa itu ?” tatapannya tertuju pada sebuah paket yang ada di meja.


“Dari dia.” Ia pun menaruh kembali tanpa membuka paket tersebut ke meja karena tahu pasti apa isinya jika pengirimnya dr. Ammar.


Malam hari meskipun merasakan adanya gejala penyakitnya kambuh, Afsha meminum obatnya.


“Aku tidak mau minum obat dari pria itu.” ia mengambil obat dari Dokternya yang dulu dan segera meminumnya.


Satu minggu berlalu. Seperti yang sudah dr. Ammar bilang sebelumnya untuk tidak meminum obatnya yang lama karena tidak sesuai dan ada beberapa bahan yang tak cocok dengan kondisi Afsha.


“Kenapa kepalaku pusing sekali ?” Afsha sampai duduk di sebuah kursi karena merasa kepalanya berat sekali.


“Afsha, ada apa dengan mu ?” tanya ibu yang tak sengaja lewat di depannya dan melihat putrinya itu berwajah pucat.


“Aku tak apa-apa ibu, hanya kepalaku pusing saja. Entah kenapa.”


“Afsha !” teriak ibunya Afsha saat melihat putrinya itu langsung tak sadarkan diri begitu selesai bicara.