Finding Perfect Wife

Finding Perfect Wife
Eps. 98 Belum Mendapat Restu



dr. Ammar mengemudikan mobil menuju ke rumah dengan hati yang bercampur aduk.


Jujur, dia kesal sekali dengan ibunya yang membatalkan pernikahannya secara sepihak. Bisa saja tadi ia membiarkan ibunya saja dan meninggalkannya.


Tapi apa, dia malah lebih berat pada ibunya dan pulang mengikutinya. Semoga saja wanita itu tak membuatnya kecewa lagi.


“Ibu, kenapa membatalkan pernikahan sepihak tanpa bertanya lebih dulu padaku?” tanya dr. Ammar dengan menuntut.


Masih dengan raut muka yang terlihat kesal, Nyonya Fatima lalu menatap putranya.


“Aku tidak mau mempunyai besan yang ternyata adalah pria yang pernah melukai hatiku. Mungkin saja ia nanti akan melukaimu atau bisa saja Afsha yang akan melukaimu.” terangnya panjange lebar dan kaku seperti biasanya.


“Haah.” dr. Ammar membuang nafas panjang.


Seketika dadanya terasa sesak sampai-sampai ia harus melonggarkan dasinya sedikit agar bisa bernafas.


“Aku sudah menuruti permintaan ibu untuk segera menikah dan disaat aku serius akan menikah kenapa malah Ibu sekarang yang mencoba membatalkannya?! ” protesnya tak terima.


Karena ia tak bisa sembarangan menitipkan hatinya pada seorang wanita.


“Banyak wanita di luar sana. Kau bisa mencari lainnya. Mau pilih model apa kau bisa.” timpal Nyonya Fatima.


dr. Ammar diam saja menahan amarahnya yang akan tersulut kembali. Ia masih punya hati dan tahu posisi sebagai seorang putra yang berbakti pada orang tua dan tak membantah ucapan ibunya.


Ia memilih diam selama perjalanan bahkan sampai tiba di rumah pun dia tak mau bicara dengan ibunya.


Malam hari setelah seharian pria itu menenangkan pikirannya dia meraih ponselnya dan menghubungi Afsha.


“Halo Afsha.” ucapnya setelah telepon tersambung.


“Kau tidak meneleponku seharian.”


Afsha memang sdari tadi menunggu telepon dari pria itu karena tadi pagi dia pergi tanpa menjelaskan apapun padanya.


“Bagaimana hubungan kita selanjutnya? Apakah akan berakhir sampai di sini saja? Jika emang begitu aku bisa apa lagi, mungkin kita memang tak berjodoh.”


Afhsa mengucapkannya dengan lancar dan tenang meskipun hatinya semrawut. Setelah lama berpikir maka ia pun siap melepaskan pria itu dengan berat hati jika memang ia minta demikian.


“Kau ini biacara apa?! Tadi sebelum pulang aku sudah berpesan padamu pernikahan kita akan tetap berlangsung, apapun masalahnya. Tentu saja Aku akan memperjuangkan mu menjadi istriku. Tapi aku butuh waktu untuk meyakinkan ibuku. Aku harap kau bisa mengerti itu.”


dr. Ammar bersikeras pada pendiriannya. Karena berat baginya mencari atau memulai hubungan yang baru dengan wanita lain.


Setiap hari di saat waktu luang sepulang kerja, pria itu mengajak ibunya bicara baik-baik.


“Ibu, bagaimana jika aku tak bisa pindah ke lain hati dan akan tetap meneruskan pernikahan ini?” ucap dr. Ammar di ruang keluarga.


Ia menatap ibunya yang sedang duduk minum teh.


“Ammar, sudah Ibu bilang berapa kali. Ini sudah kesedihan kalinya selama 3 minggu ini kau menanyakan hal yang sama padaku. Dan jawabanku juga sama. Tidak!” ucapnya tugas sembari menaruh cangkir teh yang dipegangnya ke meja.


Ia lalu segera pergi dari sana karena tak ingin membahas hal itu lagi.


Satu bulan berlalu dan selama itu pula ia tidak pernah berhenti meminta restu pada ibunya. Namun sampai saat ini hatinya masih terasa sakit atas sikap penolakan ibunya.


“Afsha, bersabarlah pasti akan ada jalan keluar untuk masalah kita.” ucap dr. Ammar di sambungan telepon.


“Ya, ku harap ini tak akan lama.” timpal Afsha ditelepon dengan nada sendu.


Setiap hari ia jadi memikirkan masalahnya.


Tiga bulan berlalu dan hingga detik ini Nyonya Fatima belum juga memberikan restu kepada putranya untuk menikah dengan Afsha.


“Apakah memang semuanya harus berakhir di sini?” gumam Afsha di kamar di suatu malam hari.


Ia merasa lelah dengan hubungannya yang seolah digantung tanpa kejelasan yang pasti.