Finding Perfect Wife

Finding Perfect Wife
Eps. 57 Telepon Dari Ayah Afsha



Dr. Ammar sedang menunggu telepon tersambung.


“Kenapa tidak diangkat ?” gumamnya setelah menungu sampai nada dering terakhir. “Jam berapa sekarang ?”


Ia kemudian beralih menatap ke jam yang tergantung di dinding. “Mungkin beliau sedang istirahat.” gumamnya melihat waktu yang ternyata sudah pukul 22.00.


“Mungkin besok saja.” gumamnya kemudian menaruh kembali ponsel ke meja.


dr. Ammar lalu lebih memilih untuk tidur.


Keesokan paginya dr. Ammar bangun pagi seperti biasanya kemudian bersiap untuk berangkat kerja.


“Oh ada yang terlupa.” ia mencoba pengingat dan ternyata ponselnya masih ada di kamar.


dr. Ammar mengambil ponselnya yang ada di meja dan memasukkannya dalam tas. Ia sama sekali tak ingat pada rencananya untuk menghubungi tuan Abizar Cailey karena jadwalnya yang cukup padat.


Dua jam kemudian


“dr. Ammar ada satu pasien yang ingin mendaftar menjadi pasien VVIP namun di jam sekarang. Apa bisa ?” tanya Yusuf segera menyampaikan pesan sebelum ada pasien lain yang masuk.


dr. Ammar diam tak langsung menjawab, karena jam untuk pasien VVIP adalah di jam istirahat dan juga setelah jam kerjanya usai.


“Bilang saja pada pasien itu untuk datang satu jam lagi.” ucap dr. Ammar sembari melihat daftar pasiennya.


“Baik dokter.”


dr. Ammar kembali pada kesibukannya masih berkutat dengan banyaknya pasien yang datang.


Di lain tempat di kota Doha.


Abizar Cailey sedang sarapan pagi sambil memeriksa ponselnya.


“Ada panggilan masuk dari nomor tak dikenal.” gumamnya memeriksa ada sebuah panggilan masuk di jam 22.00. “Siapa jam segini telepon ?”


Abizar terlihat ragu dan berpikir apakah akan menelepon balik nomor tersebut atau tidak.


“Tapi aku khawatir ini hanyalah penelepon iseng.” pria itu menatap istrinya yang duduk di sampingnya dengan bingung.


Ya, sejak ditayangkannya berita tentang hilangnya Afsha di surat kabar, banyak sekali penelepon iseng dan beberapa lainnya telepon tidak jelas.


“Coba saja ayah.” desak ibunya Afsha.


karena desakan istrinya maka pria itu mencoba menghubungi nomor tak dikenalnya itu.


“Semoga saja kali ini bukan nomor penipu dan sejenisnya.”


dr. Ammar berdiri dan akan keluar dari ruangan periksa tepat di saat ponselnya berdering.


“Telepon dari siapa ?” gumamnya lalu membatalkan keluar dan meraih ponselnya. “Ini kan nomor...” melihat nama ayahnya Afsha yang muncul, ia pun segera mengangkatnya.


“Halo, tuan Abizar Cailey.”


“Ya, halo. Maaf anda meneleponku semalam di saat aku sedang istirahat. Siapa anda dan apakah anda ada urusan denganku ?” tanya pria itu langsung ke pokok permasalahan agar tidak kecewa untuk yang kesekian kalinya.


“Maaf, aku lupa untuk menelepon anda pagi ini. Aku dr. Ammar dari kota As Sani dan menelepon anda untuk mengabari jika putri anda Afsha Cailey ada bersamaku.”


Abizar Cailey sampai bergetar tangannya mendengar kabar tersebut juga berkeringat dingin.


“Benarkah kau menemukan anakku ?” ucapnya dengan suara parau yang gemetar dan mata yang melebar karena senang.


Ia benar-benar tak percaya akhirnya ada seseorang yang menemukan putrinya.


“Jika begitu tolong berikan alamat lengkapmu aku akan menjemput dia sekarang juga.”


dr. Ammar diam sejenak karena tak mungkin Afsha akan mau begitu saja dijemput oleh ayahnya terlebih lagi ia tak tahu jika dirinya memberitahu tuan Abizar. Seperti apa nanti marahnya dia ?


“Tuan Abizar mungkin anda tak bisa menjemputnya sekarang karena suatu hal. Aku akan berikan alamatku bacakan untuk kita bicara lebih dulu.” jawab pria itu akhirnya mengambil keputusan.


Abizar Cailey tertegun, “Kenapa aku tak bisa membawa putriku ?”