
Nyonya Fatima mengangkat kepalanya setelah menunduk lama dan menatap Afsha.
“Bagaimana pendapat orang nanti, menantuku ternyata seorang pelayan ?” batinnya masih tak bisa menerima status wanita yang diperkenalkan oleh putranya.
Afsha hanya diam saja melihat tatapan aneh nyonya Fatima yang berulang kali menatapnya dari ujung kaki sampai ke ujung kepala.
“Apa ada yang salah dengan penampilan ku ?” batin Afsha kembali kikuk ditatap sedemikian rupa.
“Tenang saja, ibu tak akan melakukan apapun padamu.” ucap dr. Ammar lirih melihat wajah kikuk Afsha.
Afsha hanya mengangguk saja meresponnya.
Nyonya Fatima memperhatikan mereka berdua, “Sepertinya memang Ammar menyukai dia. Sebenarnya aku tak masalah siapapun wanitanya tapi ternyata seorang pelayan. Duh, bagaimana ini ?”
Karena ternyata Nyonya Fatma sudah mengenal Afsha sebelumnya, maka mereka bertiga pun kemudian mengobrol ringan.
“Ya, kalian mengobrol dulu sebentar aku mau ke belakang.” ucap Nyonya Fatima 2 jam kemudian.
Wanita itu pergi dari sana menuju ke ruang belakang. Selama mengobrol dengan Afsha dan juga dr. Ammar, dia menunjukkan jika sebenarnya kurang setuju karena status Afsha.
Di dalam rumah ia bertemu dengan kak Cala yang saat itu sedang membersihkan ruang tengah.
“Cala kemari sebentar.” panggilnya.
Pelayan itu menyandarkan sapu yang dipegangnya ke dinding kemudian merapat ke nyonya besar.
“Maaf nyonya, apa ada sesuatu ?”tanya kak Cala langsung karena ia hafal bekerja di selama selama 10 tahun lebih dan pasti wanita itu akan menyuruhnya melakukan sesuatu.
“Duduklah dulu.”
Kak Cala kemudian duduk di kursi dan berharap dia tak mendapatkan masalah.
“Aku bukan ingin memarahimu tapi meminta bantuan padamu.” ucap Nyonya Fatima melihat raut ketakutan pelayannya itu.
“Ya, nyonya apa yang bisa kubantu ?” jawab pelayan itu bernafas lega karena memang sebelumnya ia mengira akan mendapatkan hukuman atau di marahi.
“Kemari sebentar. Begini.... bla-bla.” ucap wanita itu panjang lebar.
Kak Cala manggut-manggut saja mendengarnya.
“Ya sudah kau boleh pergi sekarang dan lanjutkan kerjamu.”
“Baik, nyonya.” Kak Cala kemudian mengambil kembali sapunya dan menyapu lantai.
Di ruang tamu terlihat Afsha sedang mengobrol dengan dr. Ammar.
“Aku mau pulang saja. Cepat antar aku pulang setelah ini.” ucap Afsha singkat.
Ia merasa tak nyaman dan tak betah berada di sana karena berulang kali Nyonya Fatima membahas statusnya.
Di bagian belakang rumah berkumpul empat pelayan yang beristirahat sejenak setelah melakukan pekerjaan harian mereka.
Mereka duduk di lantai dan bersandar ke dinding dan sedang mengobrol ramai, membahas Afsha.
“Aku benar-benar masih tak percaya jika tunangan dr. Ammar adalah Afsha, mantan pelayan di rumah ini.” celetuk kak Fajar terlihat tak suka saja dengan kabar bagus itu.
Ternyata tak hanya wanita itu saja yang kurang suka pada hubungan Afhsa dengan dr. Ammar.
“Aku juga merasa tak terima seorang dr. Ammar yang terhormat nantinya akan menikah dengan pelayanan rendahan seperti Afhsa.” timpal Kak Zaitun.
“Bahkan dengan tetangga sebelah saja masih mendingan dia daripada Afsha.” kak Fajar ikut menimpali.
Tetangga sebelah seorang gadis yang juga ada hati pada dr. Ammar. Dia bekerja sebagai guru di sekolah menengah, namun dr. Ammar tak menyukainya.
Mereka berempat masih ramai membahas Afsha.
Afsha dan dr. Ammar kemudian berpamitan pada ibunya. Namun sebelum pulang ia ingin ke toilet karena kebanyakan minum air saat merasa gugup tadi.
Terang saja dulu kemari sebagai pelayan dan sekarang kemari sebagai tunangan dr. Ammar. Terlebih Nyonya Fatima terlihat sering memojokkan Afsha.
“Tunggu sebentar. Aku mau ke toilet.” ucapnya saat di luar rumah.
“Ya, baiklah. Pergilah dan cepat kembali aku akan menunggumu di sini.”jawab dr. Ammar lalu memilih untuk duduk di mobil.
Afsha lalu berlari kembali masuk ke rumah lewat pintu lain menuju ke toilet.
“Lega rasanya.” gumamnya setelah keluar dari toilet.
Saat kembali dia bertemu dengan empat pelayan.
“Afsha.” panggil mereka berempat secara serempak.
“Kakak semua, apa kabar.”
Afhsa kemudian menghampiri mereka berempat dan memeluk mereka satu per satu.
“Lama tak bertemu aku rindu pada kalian meskipun aku sudah berada di rumah namun tetap teringat saat berada di sini.” ucap Afsha sembari tersenyum lebar.
“Ya, kami juga rindu pada mu.” ujar kak Amla menekuk wajah dan tersenyum palsu di balik punggung Afsha.
“Afsha, kau kerja apa setelah keluar dari sini ? Apakah membantu orang tuamu di sawah ?” tanya kak Cala.
“Tidak kak, aku kerja di kantor. Kantor kecil maksud ku.” jawabnya tak mau sombong ataupun pamer.
Tapi tiga pelayan yang ada di sana hanya mengangguk saja dan tersenyum meremehkan.