
“klik.” suara seseorang membuka pintu kamar.
“Siapa lagi yang mencariku ?” gumam Afsha yang baru saja memejamkan mata di atas tempat tidur menatap ke arah pintu. “dr. Ammar ?” ia pun terkejut sekali begitu melihat yang datang bukanlah Kak Cala ataupun lainnya namun pria menyebalkan yang selalu dihindarinya.
dr. Ammar masuk kamar dan berhenti tepat di depan Afsha yang kini duduk.
“Ada apa dr. Ammar, apa masih ada pekerjaan yang belum selesai dan harus kukerjakan sekarang ?” ucap Afsha sekaligus mempertanyakan maksud kedatangan pria tersebut kamarnya.
“Lihat ini.” dr. Ammar memegang dan menunjuk baju yang dipakainya saat ini.
“Ya, ada apa dengan bajumu tuan ?” Afhsa mengerutkan keningnya karena baju itu bersih dan tak ada kotoran sama sekali di sana.
“Kau masih tidak mengerti juga rupanya ?” dr. Ammar pun kesal karena gadis di hadapannya hanya menetap baju dikenakannya saja tanpa mengerti maksudnya.
Afsha menggelengkan kepalanya yang membuat pria itu semakin bertambah kesal saja.
“Kau ini bisa tidak bekerja dengan becus sedikit saja !” bentaknya sampai Afsha menutup telinganya karena terdengar begitu melengking di telinganya. Bahkan suara itu pun terdengar sampai ke kamar sebelah.
“Kenapa tuan marah lagi ?” dari kamar sebelah kak Amla yang mendengar teriakan dari Tuhannya akhirnya merapatkan telinganya ke dinding untuk mencari tahu apa penyebab kemarahan tuannya tersebut.
“Ini lihat ini !” dr. Ammar kembali menunjuk baju yang dipakainya. “Apa kau bisa menyetrika dengan benar ? Lihat ini masih kusut. Bahkan seragamku juga seperti ini semua.” ucapnya lagi masih dengan nada tinggi dan lupa jika Afsha mengidap skizofrenia.
“Ma-maaf tuan, aku sudah berusaha sebaik mungkin dan menyetrikanya serapi mungkin.” jawab Afsha mencoba untuk tenang dan mengutuk dalam hati kenapa bekerja pada tuan pemarah seperti dia.
“Aku tahu kau masih muda mungkin karena itu kau tidak bisa mengerjakan dengan sempurna tapi bukan kakak sudah di sini hampir 2 bulan ? Dan Seharusnya aku sudah Mmhir mengerjakan semua pekerjaan rumah di sini.” ucapnya menuntut.
dr. Ammar yang kesal mengepalkan tangannya kencang dan melayangkan pukulan ke lemari di sampingnya hingga semua barang jatuh dari sana, tepatnya sebuah kantung plastik tepat di atas kakinya.
“Astaga jangan sampai pria ini melihat isi dari kantong plastik itu.” Afsha terkejut saat melihat barang yang disimpannya itu yang belum sempat dibuangnya jatuh. “Aku harus segera mengambilnya sebelum ketahuan.” lirihnya berjongkok sembari mengambil kantong plastik tersebut.
“Kau ini kenapa tak mendengarkan ucapanku dan malah sibuk sendiri.” dr. Ammar semakin gusar dengan sikap Afsha yang terkesan mengabaikan dirinya. Ia pun mengambil kantong plastik itu dari tangan Afsha.
“Tuan, tolong kembalikan itu padaku.”
“Oh, jadi ini barang berhargamu ya ? Aku ingin melihat seperti apa barang berhargamu ini.”
dr. Ammar terlihat semakin marah dan mengeluarkan isi kantong tersebut.
“Oh, tidak tamatlah aku.”
dr. Ammar ya sebenarnya ingin mengerjai Gadis itu malah semakin kesal saja saat mengambil baju putih itu yang seperti miliknya dan terlebih baju itu rusak saat ia membukanya.
“Afsha !!” bentak dr. Ammar menggema sampai ke halaman depan dan ke seluruh isi rumah bahkan sampai terdengar ke kamar Nyonya Fatima.
Afsha memejamkan mata sambil menutup kedua telinganya bersiap untuk menerima amarah ataupun mungkin hukuman untuknya.
“Ada apa ini ?” suara melengking pria itu sampai mengundang Nyonya Fatima keluar dari kamarnya dan masuk ke kamar Afsha.