
Kak Cala hanya diam saja dan tak berani berkata-kata lagi melihat muka dr. Ammar seperti gunung merapi yang mau meletus.
“Mentang-mentang di sini sebelumnya dia adalah seorang pelayan lalu kalian memperlakukannya dengan buruk hanya karena sekarang statusnya berubah menjadi tunangan ku ?” ucap dr. Ammar masih menatap tajam pada pelayan di depannya yang hanya menunduk tak bersuara.
Kak Cala semakin gemetar mendengar pernyataan yang dinyatakan oleh dr. Ammar dan memang benar adanya itu.
“Memang penampilan bisa menipu seseorang. Kalian tidak tahu bukan jika Afsha status aslinya bukanlah orang biasa tapi dia putri seorang pengusaha kaya di kotanya sana.” jelas dr. Ammar akhirnya terpaksa mengungkap jati diri Afsha.
Kak Cala sampai mengangkat kembali mukanya menatap dr. Ammar setelah penjelasannya tersebut.
Ia penasaran, sebenarnya siapa Afsha itu. Namun takut menanyakannya. Takut akan kembali kena marah.
“Ya, kau boleh pergi sekarang.” ucap dr. Ammar setelah puas mengungkapkan semua amarah dan kekesalannya pada pelayannya.
“Baik, tuan.”
Kak Cala pun segera pergi dari sana sebelum tuan mudanya itu kembali marah atau berubah pikiran padanya.
Sekarang pria itu keluar dari ruangan pelayan. Masih terlihat marah Ia pun menuju ke kamar ibunya.
“Ibu !” panggilnya ketika sampai di kamar ibunya.
Nyonya Fatima yang baru saja masuk ke kamar setelah mandi berbalik menata putranya.
“Ada apa denganmu ?” tanyanya melihat mimik muka dr. Ammar yang marah.
“Ibu, apa yang ibu lakukan pada Afsha ?” tanya dr. Ammar dengan menuntut.
Nyonya Fatima tetap duduk tenang di tempatnya meskipun aura putranya seperti gunung yang mau meledak.
“Jangan pura-pura di depanku seperti itu, ibu. Aku tahu semua apa yang sudah ibu lakukan pada Afsha meskipun ibu tak mau mengakuinya. Itu ibu bukan, yang memberi obat tidur Afsha ?!” ucapnya langsung.
Wanita itu seketika shock dan kaku seketika tubuhnya mendengar perkataan putranya.
“Ammar, ibu sungguh tak mengerti pembicaraanmu itu. Demi gadis pelayan itu kau berani menuduh ibumu sendiri yang bukan-bukan.”
Nyonya Fatima tetap tak mau mengakui perbuatannya di depan putranya sendiri, demi menjaga nama baiknya.
“Asal ibu tahu saja. Afsha itu bukan pelayan sungguhan, identitasnya palsu. Dia menyamarkan identitasnya yang sebenarnya adalah putri dari seorang pengusaha terkenal di kota Doha.” ia merasa muak karena tak hanya pelayan saja yang merendahkan Afsha tapi ibunya juga.
Padahal meskipun jika identitas asli Afsha bukanlah putri dari seorang pengusaha terkenal maka ia akan tetap mencintai gadis itu tanpa memandang statusnya.
“Apa kau bilang ? Afsha putri pengusaha kaya raya ?” tanya nyonya Fatima langsung berubah kembali raut mukanya.
Mendengar kata kaya maka ia pun seketika berubah pikirannya pula pada Afsha.
“Ibu tidak pernah melakukan apapun pada tunangan mu itu. Jika ibu tahu sejak awal, maka aku akan langsung menikahkan kalian berdua saja.” jawabnya sembari tersenyum kecil.
Seharusnya dr. Ammar senang dengan perubahan sikap ibunya yang kini menerima Afsha. Namun pandangannya tetaplah sama pada ibunya, sosok wanita materialistis yang gampang berubah pikiran hanya karena harta. Dan itu membuatnya cukup jengah.
dr. Ammar lalu segera keluar dari kamar ibunya karena merasa sudah cukup apa yang perlu dia sampaikan padanya.
“Jadi benarkah Afsha adalah putri dari pengusaha kaya raya ? Jika benar begitu adanya maka Lebih baik aku akan menikahkan mereka secepatnya.” gumam nyonya Fatima tersenyum lebar dengan mata yang berkilat-kilat.