
“Afsha !” pekik wanita itu mencoba membangunkan putrinya. “Afsha.” mengurangi ucapannya karena tak ada respon.
“Ibu, ada apa ?” tanya Ayah segera keluar senang mendengar teriakan istrinya.
“Afsha pingsan.”
Abizar kemudian segera membawa putrinya itu ke kamar.
“Kenapa dia pingsan ? Bukankah kondisinya dulu sudah membaik ?” gumamnya setelah membaringkan Afsha di tempat tidur.
“Aku tidak tahu ayah dia bilang tadi kepalanya pusing dan langsung pingsan.”
“Coba ambilkan obat Afsha, bu.”
Ibu mengambil botol obat yang ada di meja kemudian menyerahkannya pada suaminya.
“Ini... kan obat yang lama ?!” pekik Abizar saat memeriksa kemasan botol yang juga di hafalnya itu.
“Anak ini, keras kepala sekali dia.” gerutunya menaruh kembali obat itu. “dr. Ammar bilang dia tak boleh mengkonsumsi obatnya yang lama tapi tetap saja.”
Pria itu pun kemudian teringat jika dr. Ammar sebelumnya berniat mengirimkan obat untuk Afsha.
“Ibu, beberapa hari yang lalu apa ada paketan dari dr. Ammar ?”
“Yang menerima paket di sini biasanya Fatma, biar ku tanyakan pada dia.” ibunya Afsha keluar dari kamar dan menuju ke ruang tengah untuk mencari pelayan itu dan menanyakannya.
Lima menit kemudian wanita itu kembali masuk ke kamar Afsha.
“Bagaimana ibu, apa Fatma menerima paketan ?” tanya Abizar langsung saat melihat istrinya masuk.
“Fatma bilang dia menerima paketan tersebut tapi sudah memberikannya pada Afsha.” jelasnya. “Biar ku cari dulu, ayah.”
Ia mencari di lemari biasanya fotonya itu menyimpan sesuatu.
“Ayah, apa ini paketan yang kau maksud ?” menunjukkan sebuah paket berbungkus coklat dengan nama pengirim dr. Ammar.
Abizar berdiri dari tempat duduknya untuk melihat paket tersebut. “Anak ini, bahkan dia tidak membuka paketnya.” terlihat kesal dan menyerahkan kembali paketan itu pada istrinya.
“Ayah, apa yang harus kita lakukan ?” tanya ibu terlihat khawatir.
Ia pun mengambil ponselnya dan menghubungi pria itu.
Kring
Ponsel dr. Ammar berdering saat dia sedang bekerja.
“Siapa yang meneleponku di saat aku masih sibuk begini.” gumam pria itu melirik ponselnya yang berdering dan Jangan malas mengambilnya. “Tuan Abizar ?”
Ia pun segera mengangkatnya asal mengetahui siapa peneleponnya.
“Halo, tuan Abizar apa ada sesuatu ?” ucap pria itu setelah mengangkatnya.
“dr. Ammar maaf mengganggu jam kerjamu. Afsha tidak minum obat darimu Dan dia tetap minum obatnya yang lama, parahnya lagi sekarang ini dia pingsan.” jelas nya dengan suara bergetar.
dr. Ammar hanya bisa menarik nafas panjang pada sifat kekeras kepalaan Afsha yang tak kunjung sembuh juga.
“Aku tidak tahu apa yang harus kami lakukan. Apakah aku harus membawanya ke rumah sakit sekarang atau bagaimana ?” ucap Abizar lagi masih dalam keadaan kalut.
Jika sudah pada tapi pesan karena salah minum obat bisa di pastikan tak sembarang dokter bisa menanganinya.
“Tuan Abizar, anda tenang dulu di sana dan tunggu aku datang.” jawab dr. Ammar terpaksa turun tangan. Karena sebenarnya dia sangat mencemaskan sekali keadaan gadis itu.
Panggilan berakhir setelahnya. dr. Ammar melihat jumlah daftar pasiennya saat ini. “Masih banyak pasien.” gumamnya lalu beralih menatap jam dinding. “Hampir siang.”
Ia berpikir sejenak jika berangkat sekarang mungkin sore nanti sudah sampai di rumah.
Langsung saja pria itu menghampiri Yusuf. “Setelah dua pasien lagi, tutup saja daftar antriannya. Aku ada urusan mana ada yang tak bisa aku tinggalkan.”
“Baik, dokter.” Yusuf sendiri merasa aneh baru kali ini dia melihat dr. Ammar meninggalkan pekerjaannya.
Tiga puluh menit kemudian pria itu keluar dari rumah sakit dan melakukan perjalanan menuju ke rumah Afsha.
“Padahal aku sudah mengantri lama tapi sekarang malah tutup.” protes seorang pasien pada asisten dr. Ammar.
“Maaf, nyonya. dr. Ammar ada urusan mendadak dan besok masih buka seperti biasanya. Anda bisa datang kembali esok hari.” ucap Yusuf menjelaskan tak hanya pada satu pasien itu tapi pada semua pasien yang ada di sana yang juga terlihat kecewa.