
Afsha dan dr. Ammar menatap ke arah pintu mendengar suara tersebut.
“Ibu...” panggil dr. Ammar sembari menyembunyikan pakaian miliknya yang rusak tadi dari ibunya.
“Semoga saja nyonya Fatima tidak memberikan hukuman padaku setelah mengetahui kesalahanku.” batin Afsha menelan salivanya dengan susah payah juga mulai berkeringat dingin. Karena ia pernah mendengar cerita dari pelayan lainnya jika Nyonya Fatima sampai marah, wanita itu tak akan segan-segan memberikan hukuman dan jenis juga skalanya bervariasi tergantung dari besar kecilnya kesalahan yang dilakukan.
Nyonya Fatima menghampiri mereka berdua dan menatap dua insan itu saling bergantian.
“Apa yang kau lakukan malam-malam begini di kamar dengan putraku ? Apa kau menggodanya ?” wanita itu menatap dengan mata lebarnya memelototi Afsha.
“A-aku tidak melakukan apapun dengan tuan, nyonya. Anda salah paham.” jelas Afsha pengen gugup dan bercucuran keringat.
“Lalu kenapa kau kemari Ammar ?” wanita itu beralih menatap putranya dengan curiga dan punya pikiran jika bertanya itu ada affair dengan Afsha.
dr. Ammar terlihat sudah berpikir dan menyiapkan jawaban sebelumnya untuk ibunya itu yang pasti akan bertanya padanya.
“Aku hanya memarahinya saja ibu karena pekerjaannya tidak becus. Dia menyetrika bajuku dan semuanya masih kusut.” terangnya tanpa membahas perihal bajunya yang rusak karena tak ingin ibunya itu campur tangan atau sesuatu yang tak diinginkan maka terjadi pada Afsha.
“Jadi begitu, pantas saja aku mendengar teriakan mu dari kamar.”
“Kenapa dr. Ammar tak bilang pada Nyonya Fatima jika aku merusak bajunya juga ?” batin Afsha merasa aneh saja karena terkesan pria itu menutupinya namun justru itu membuat posisinya aman.
“Maaf, ibu.” dr. Ammar memegang bajunya yang rusak sembari mengopernya ke belakang agar ibunya tak melihat itu.
“Kau pelayan baru sudah bekerja di sini selama 2 bulan kenapa masih saja banyak kesalahan dalam bekerja ? Jika begitu lebih baik pecat dia cari pelayan baru.” tanyanya menuntut dengan nada tajam.
Afsha ketika terkejut mendengar keputusan nyonya besar yang tentu saja tak bisa diterimanya. Mau makan dan tinggal di mana dia jika dipecat dari sini ?
“Nyonya tolong jangan pecat aku. Aku janji tak akan membuat kesalahan lagi dalam bekerja.” ucapnya sembari memohon.
“Ammar bagaimana menurutmu apa kau akan memakai pelayan ini atau mencari pelayan baru ?” wanita itu menyerahkan keputusan sebenarnya pada putranya.
“Tak perlu bu, aku akan memotong gajinya selama satu minggu bekerja itu sudah cukup.”
Afsha bernafas lega setidaknya dia tak dipecat meskipun gajinya harus dipotong kembali yang penting baginya dia tak diusir dari sana.
“Ya sudah jika begitu aku kembali dulu.” wanita itu berjalan keluar namun tak sengaja melihat sesuatu yang dipegang oleh putranya yang terkesan seperti disembunyikan darinya, tapi ia tetap bisa melihat kain putih dalam genggaman tangan dr. Ammar.
“Apa ini ?” tanpa bertanya lebih dulu Nyonya Fatimah mengambilnya dari tangan dr. Ammar yang ternyata adalah seragam putranya dan lebih terkejut lagi saat melihat pakaian itu rusak, tepatnya terbakar bekas setrika.
“Apa ini juga kerjaan mu ?” nyonya Fatima membuka lebar baju itu menunjukkan ke Afsha yang hanya diam menunduk tak berani menjawab.
"Ini gawat bagaimana bisa ibu melihatnya ?” dr. Ammar tak bisa berbuat apapun lagi jika Ibunya sudah mengetahui hal itu.
“Kenapa diam saja ? Jawab !” bentak wanita itu karena Afsha tak berucap sepatah kata pun. “Jawab !” ulangnya lagi dengan nada yang lebih tinggi bahkan sampai membuat pelayan yang ada di sebelah kamar Afsha bergidik ngeri mendengarnya.
“Maaf, nyonya. Aku bersedia mengganti ataupun dihukum karena kesalahanku.” akhirnya Afsha mengakui juga kesalahannya yang membuat wanita tersebut semakin marah.
Ia menghitung berapa sisa gaji Afsha jika ia memotongnya lagi dan ternyata itu minus.
“Aku akan memberikan hukuman saja padamu karena gajimu sudah habis terpotong.” seringai kecil wanita itu. “Ikut aku sekarang.”
“Ba-baik nyonya.” Afsha yang tak tahu mau diajak ke mana segera keluar kamar mengikuti wanita tersebut.
dr. Ammar ikut keluar kamar dan terlihat cemas mengikuti mereka berdua dan dia bisa menebak apa hukuman yang akan diberikan oleh ibunya.