
Selama satu jam lebih Abizar pun menemani mereka berdua mengobrol.
“Aku pergi dulu kalian berdua lanjutkan mengobrol nya.” tiba-tiba Abizar menyudahi percakapan dan angkat kaki dari sana.
“Ayah mau kemana ?” tanya Afsha Sebelum saya itu benar-benar menghilang dari pandangannya.
“Ayah mau ke kantor, ada urusan yang belum selesai.” jawabnya singkat dan berhenti sebentar lalu keluar rumah.
Selepas kepergian Abizar, tinggallah Afsha dan dr. Ammar sendiri. Suasana kembali hening seperti sebelumnya.
“Aku...” ucap mereka berdua secara bersamaan.
“Kau dulu yang bicara.” ucap Afsha mengalah dan mempersilahkan pria itu untuk bicara duluan.
“Sekarang kau adalah kekasih ku dan kita menjalani hubungan LDR.” dr. Ammar menegaskan kembali hubungan mereka.
Afsha termenung mendengar perkataan pria itu.
“Hey, a-aku belum menjawab setuju tapi kau sudah memutuskannya sendiri.” sangkal Afhsa.
“Kau sudah menjawabnya tadi dan kurasa tak perlu mengulanginya kembali.” jawab dr. Ammar bersikeras pada pendiriannya.
“Kau ini benar-benar menyebalkan sekali ! Sembarangan mengambil keputusan dan seenaknya sendiri !” Afsha kesal dan marah-marah bahkan ia sampai melayangkan pukulan ke dr. Ammar.
Tapi sekuat apapun Afhsa, dr. Ammar dengan mudah bisa menangkis pukulannya. Malahan kini ia yang tertarik maju dan tak bisa menahan tubuhnya.
“Ah.” Afsha jatuh menindih dr. Ammar di sofa. “Kau...”
Baru kali ini ia pun melihat sosok wajah itu dari dekat. Melihat mata lebar pria itu, hidung mancung juga bibirnya yang tebal menawarkan undangan untuknya.
deg
Jantungnya kembali berdegup kencang tak beraturan dan rasanya mau meledak saja terlebih saat pria itu malah merengkuh tubuhnya dalam dekapan pelukannya.
Saat mata mereka kembali beradu, Afsha segera memejamkan matanya.
“Afsha aku...” dr. Ammar ingin kembali merasakan bibir merah Afsha setelah merasakan untuk yang kedua kalinya.
Ia pun mendekatkan wajahnya.
“Afsha... apa yang sedang kau lakukan...” ucap ibu yang tiba-tiba datang ke ruang tamu.
Afsha dengan cepat turun dari tubuh dr. Ammar dan duduk sejauh mungkin dari pria itu.
Begitu pula dengan dr. Ammar yang mencoba untuk bersikap tenang.
“Oh, ada dr.Ammar rupanya. Aku tidak tahu kedatangan mu.” ucap ibu juga terlihat salah tingkah melihat kejadian barusan.
“Ibu, apa yang Ibu lihat barusan adalah salah paham. Kami tak sengaja terjatuh di sofa.” ucap Afsha menjelaskan sebelum Ibunya bertanya dan berpikir yang bukan-bukan pada mereka.
“Ya, ibu tahu itu dan ibu tiba-tiba ada urusan.” balasnya sembari tersenyum tipis lalu segera pergi dari sana.
“Ini semua salah mu.” Afhsa menyalahkan dr. Ammar.
“Kau yang mulai duluan memukul ku. Aku hanya berusaha melindungi diriku.” dr. Ammar benar-benar terlihat tak merasa bersalah sama sekali.
Afsha pun hanya diam saja menghindari pertengkaran kembali terjadi di antara mereka.
Lima belas menit kemudian dr. Ammar berpamitan pada ibunya Afhsa dan Afsha.
“Ingat sekarang kau adalah kekasih ku. Dan beri aku waktu untuk melamar mu agar aku tidak menjadi tunangan palsu mu lagi.” ucap dr. Ammar saat dia sudah duduk dalam mobilnya, menatap Afsha yang berdiri di samping mobilnya.
“Heh, kau terus seenaknya sendiri. Harusnya jika kau kekasihku maka kau harus bertanya dulu padaku apa mauku atau cincin seperti apa yang ku inginkan.”
dr. Ammar tersenyum tipis berhasil membawa gadis itu dalam perangkatnya.
“Barusaja kau mengaku sendiri jika kau adalah kekasihku. Dan oke kau cari model cincin seperti apa yang kau inginkan lalu kirimkan gambarnya padaku.” ucapnya dengan tersenyum lebar.
“Astaga, kau ini memang sungguh keterlaluan !” umpat Afsha baru menyadari kekhilafannya.
“Aku pulang dulu. Jangan lupa minum obatnya secara teratur.” ucap dr. Ammar lagi.
Ia pun segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah Afsha menuju ke rumahnya.
“Sial ! Bodohnya aku bisa masuk perangkapnya.” gerutu Afsha mengutuk perbuatan pria itu.
Namun entah kenapa lain di bibir lain di hati. Setelah bertemu dengan pria itu hatinya terasa tenang sekali terlebih di saat dr. Ammar menyatakan mereka sebagai sepasang kekasih sekarang.
“Oh, apa yang kupikirian !” Afsha berjalan kembali masuk ke rumah dengan wajah yang memerah memikirkan semua kejadian tadi.