Finding Perfect Wife

Finding Perfect Wife
Eps. 35 Mencoba Obat



Pagi-pagi sekali dr. Ammar memanggil Afsha sebelum dia berangkat ke rumah sakit.


“Ada apa tuan anda memanggilku ?” ucap Afsha yang segera muncul di hadapan pria itu.


Pria itu tak menjawab dan malah mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya. “Ini untuk mu.” mengeluarkan sebuah botol kecil dan memberikannya pada Afsha.


“Obat ?” Afsha menatap botol obat yang ada di tangannya.


“Ya, itu obat untuk sakit mu.”


dr. Ammar kemudian pergi berlalu dari sana tanpa menunggu balasan Afsha.


“Terimakasih.” Afsha terlalu senang dan menatap lama botol yang ada di tangannya. “Kemana dia ?” hingga tak menyadari jika tuannya sudah pergi dari sana dan berada di mobil.


“Tuan.” Afsha mengejar mobil di depan untuk berterima kasih namun sayang mobil itu sudah meluncur keluar rumah saat dia tiba disana.


“Afsha kenapa kau mengejar


dr. Ammar, apa ada sesuatu yang mendesak ?” tanya kak Amla saat berpapasan dengan gadis itu setelah membersihkan teras depan.


“Sebenarnya bukan masalah urgent kak. Aku hanya ingin berterima kasih padanya saja karena telah memberiku obat.” jelas Afsha sambil menunjukkan obatnya.


“Obat ? Kau sakit apa ?” Kak Amla malah balik bertanya karena penasaran pada sakit yang diderita oleh Afsha padahal dia terlihat baik-baik saja.


“Ah ya... aku sakit...” Afsha baru menyesal kenapa ia memberitahukan hal itu pada Kak Amla dan obatnya bingung harus bilang apa. “Vertigo, ya aku sakit vertigo.” tambahnya mengarang cerita bohong.


“Oh... masih muda kau sudah punya penyakit vertigo.” Kak Amla langsung percaya saja pada cerita Afsha.


“Ya, kak.” Afsha pun segera pergi dari sana sebelum menerima pertanyaan lagi dari Kak Amla.


Afsha berjalan masuk ke kamar untuk menyimpan obatnya. Ia pun membacanya sebentar sebelum meminumnya.


“Kandungan obat dalam obat ini sangat berbeda dengan kandungan obat ku. Dan lagi ada satu kandungan yang masuk dalam daftar larangan dokter tercantum di sini.” Afsha pun mengurungkan niatnya untuk minum obat tersebut karena takut akan mengalami reaksi yang tak diinginkan.


Padahal obat dari dr. Ammar bukanlah obat biasa dan obat itu diraciknya sendiri dimana banyak pasien yang cocok dengan obatnya dan banyak dari mereka yang sembuh.


“Aku simpan dulu saja.” Afsha keluar dari kamar setelah menyimpan obat tersebut dan melanjutkan pekerjaannya memotong ranting di depan.


Sore hari dr. Ammar pulang. Secara kebetulan ia berpapasan dengan Afsha. “Bagaimana apa obatnya sudah kau minum ?”


“Ya, a-aku sudah meminumnya tadi dr. Ammar.” jawabnya bohong karena tak enak hati mau berkata jujur. “Terimakasih sudah memberi ku obat.” lanjutnya udah segera berlalu dari sana karena tak mau berlama-lama dekat ataupun melakukan kontak dengan pria tersebut.


dr. Ammar pun hanya mengangguk saja kemudian masuk ke kamarnya dan segera berganti baju.


“jeder !” dua jam berikutnya di malam hari tiba-tiba setelah angin berhembus kencang muncullah petir yang menyebar disertai hujan lebat.


“Cuaca kali ini memang ekstrem.” gumam dr. Ammar yang sedang duduk di sebuah kursi dekat jendela dan juga membuat resep obat baru untuk pasien barunya.


Sedangkan di kamar Afsha, ia terlihat duduk di sudut ruangan dengan gemetar setelah mendengar kilat yang menyambar selama satu jam lamanya.


“Apa sebaiknya aku coba saja minum obat dari dr. Ammar ?” Afsha berdiri menuju ke kotak obat.


Namun baru saja ia akan mengambilnya dan belum sempat meminumnya kepalanya terasa pusing sekali setelah mendengar perir yang menggelegar.


“Argh...” Afsha merasa kepalanya semakin sakit dan ya sampai tak tahan lagi menahan rasa sakitnya hingga membuatnya pingsan.