Finding Perfect Wife

Finding Perfect Wife
Eps. 51 Mengaku Sebagai Kekasih



dr. Ammar yang tidak tahu ke mana temannya itu pergi memilih untuk duduk dan menunggunya kembali tanpa mencari keberadaannya. “Mungkin dia ke toilet lagi.” gumamnya setelah menatap ke depan dan kembali duduk karena tak menemukan temannya.


dr. Pasha terus mengikuti Afsha yang berjalan masuk ke rumah, tepatnya menuju ke dapur.


“Kenapa aku merasa pria ini seperti mengikuti ku ?” batin Afsha mendengar suara langkah kaki yang terus mengikuti kemanapun dia pergi. “Atau mungkin hanya perasaanku saja.” batinnya sembari mempercepat langkah kakinya kemudian masuk ke dapur.


dr. Pasha berhenti di depan pintu dapur yang terbuka, menatap Afsha yang sedang mencuci piring kotor dan lainnya.


“Apa aku masuk ke sana sekalian untuk berkenalan dengannya saja.” batin dr. Pasha tak sabar ingin bicara dengan gadis yang dilihatnya daripada sekedar mengaguminya dari kejauhan saja.


Tepat di saat ia akan melangkahkan kakinya seseorang menariknya dari belakang.


“Pasha?!” suara seorang wanita memanggil namanya yang membuatnya berbalik.


“Tante Fatima ?” balasnya menyapa ibunya dr. Ammar tersebut.


“Sedang apa kau disini ?”


“Tante aku mau...” dr. Pasha malu untuk mengucapkannya terlebih jika sampai Afsha mendengarnya. Maka ia pun mengajak wanita itu bergeser agak jauh dari sana.


“Tante... aku tertarik pada gadis itu.” ucapnya berterus terang sembari menunjuk Afsha yang membuat Nyonya Fatima menautkan kedua alisnya.


“Hey, apa tante tidak sama dengar ? Kau tertarik pada pelayan rendahan seperti dirinya ?” tentu saja itu diucapkannya dengan suara pelan agar Afsha tak mendengarnya.


“Aneh sekali... apa tante tidak tahu jika gadis itu putri dari keluarga terpandang ?” batinnya merasa aneh saja. “Jadi


dr. Ammar merasakan identitas dari gadis itu dari ibunya.” tersenyum tipis.


“Tidak tante, aku sama sekali tidak mempermasalahkan status sosial. Bolehkah aku mendekatinya ?” tanya dr. Pasha lagi.


“Tentu saja boleh. Siapa juga yang mau menantu seperti dia.”


dr. Pasha Seperti mendapat angin segar saja karena rupanya wanita itu malah mendukungnya.


Setelah percakapan mereka berakhir, dr. Pasha kemudian memberanikan diri masuk ke dapur dan mencoba untuk bicara dengan Afsha.


“Oh tidak tuan, aku bisa mengerjakannya sendiri. Terima kasih atas tawaran bantuannya.” tolak Afsha pada pria asing di sampingnya meskipun dia masih ingat pria itulah yang ditabraknya sewaktu berjalan terburu-buru tadi.


Meskipun Afsha menolak tawaran bantuannya pria itu masih berdiri di sana.


“Nona bolehkah aku berkenalan denganmu ?”


Afsha mengerutkan keningnya kenapa tiba-tiba ada pria yang ingin berkenalan dengannya dan pastinya pria itu berprofesi sebagai dokter atau petugas medis.


“Aku dr. Pasha, nona Afsha.” ucap pria itu memperkenalkan dirinya yang membuat Afsha terkejut Bagaimana bisa karena itu mengetahui namanya padahal dia sama sekali tidak mengenalnya.


“Ya, dr. Pasha salam kenal.” jawab Afsha menaruh cuciannya sebentar dan menatap pria di sampingnya kemudian meneruskan kembali pekerjaannya.


Mereka berdua kemudian mengobrol panjang lebar dimana dr. Pasha banyak mengajukan pertanyaan pada Afsha.


“Nona maaf apa kau sudah punya kekasih ?” tanya pria itu di tengah obrolan mereka.


Tepat di saat Afsha akan menjawabnya tiba-tiba dr. Ammar masuk ke dapur setelah mendengar suara temannya dari sana.


“dr. Pasha sudah kubilang dia itu kekasihku.” pria itu menghampiri temannya tersebut dan menariknya menjauh dari Afsha.


Ia terlihat kesal bukankah dia tadi sudah bilang dan mengaku sebagai kekasihnya Afsha, bahkan temannya itu tadi memberinya ucapan selamat atas hubungan mereka. “Tapi kenapa dia masih bersih keras juga untuk mendekati Afsha ?”


“Santai saja dr. Ammar, aku hanya bertanya saja padanya tidak lebih.” jawabnya sembari tersenyum kecut lagi-lagi ada yang mengganggunya.


“dr. Ammar apa yang kau--”


dr. Ammar segera menarik Afsha dan memotong perkataannya dengan cepat.


“Maaf dr. Pasha ada yang ingin ku bicarakan berdua saja dengan kekasihku.” pria itu menatap temannya yang ditangkap oleh dr. Pasha yang membuatnya segera keluar dari sana.


“Oh malangnya aku, kapan aku bertemu dengan ms. Right ku ?” ratap dr. Pasha berjalan menuju ke teras.