
Afsha pingsan di saat dr. Ammar kebetulan melewati gambarnya setelah keluar dari dapur untuk mengambil air minum.
“Kenapa pintu kamarnya terbuka ?” gumam dr. Ammar berhenti tepat di kamar Afsha. “Oh astaga !” melihat Afsha pingsan.
Ia pun segera masuk ke kamar Afsha. “Kenapa aku selalu bertemu dengannya di saat pingsan ?” desaunya sembari menangkap Afsha kemudian membaringkannya ke tempat tidur.
Dari luar terlihat kak Cala sedang melintasi kamar Afsha setelah wanita itu kembali dari toilet.
“Kenapa pintunya terbuka ?” gumamnya masuk ke kamar Afsha untuk mengeceknya. “dr.Ammar ...apa yang terjadi pada Afsha ?” pelayan itu terkejut melihat Afsha yang pingsan.
“Entahlah aku sendiri juga tidak tahu kenapa dia sering pingsan.”
“Apa tuan memerlukan bantuan ku ?” kak Cala menawarkan bantuan namun di tolak oleh dr. Ammar. “Kau istirahat saja, sudah bukan jam kerja mu.”
Kak Cala pun kemudian meminta izin untuk kembali ke kamarnya karena tidak dibutuhkan di sana.
“Aneh sekali dengan dr. Ammar. Baru kali ini dia mau meluangkan waktunya untuk seorang wanita terlebih pada seorang pelayan. Apakah dia....” wanita itu jadi mempunyai pikiran negatif. “Ah tidak mungkinlah dr. Ammar suka pada pelayan kecil seperti Afsha.”
Kak Cala mengesampingkan pikirannya itu karena rasa kantuknya lebih mendominasi sehingga membuatnya segera tertidur beberapa saat setelahnya.
“Apa reaksi obat dari ku membuatnya pingsan ?” pikirnya menyimpulkan sendiri karena beberapa reaksi yang ditimbulkan pada beberapa pasien memang seperti itu. “Jika begitu tak ada yang perlu dikhawatirkan.”
dr. Ammar bangkit kemudian melangkahkan kakinya keluar dari kamar Afsha.
“dr. Ammar kemari kau !”
Pria itu pun nanti melangkahkan kakinya tepat di pintu setelah mendengar suara Afsha yang memanggilnya.
“Ya, kau kemarilah !” ucapnya dengan nada tinggi mengulangi kalimatnya karena tak ada respon.
“Aku ? Kau memanggil ku ?”
“Tentu saja kau, siapa lagi ? Tak ada orang lain di sini selain dirimu.”
dr. Ammar berjalan pelan menghampiri gadis yang entah kali ini berubah karakter menjadi siapa karena nada bicara serta tatapan matanya sudah berubah.
“Semoga saja dia bukan gadis menyebalkan yang memukul ku tempo hari.” batinnya berharap tidak berhadapan dengan Safa yang membuatnya cukup kewalahan. “Ya, ada apa Afsha kau memanggilku ?”
“Kau sudah lupa padaku ? Aku Safa bukan Afsha.” jawabnya tak senang pria itu begitu mudah melupakan dirinya.
“Oh, dia si menyebalkan itu rupanya. Jadi aku harus berhati-hati kali ini.” menghela nafas panjang sambil bergumam lirih. “Tidak, tentu saja aku tidak lupa padamu.”
“Aku senang kau tidak lupa padaku.” Safa tersenyum tipis tapi tetap terlihat saja tetap menakutkan. “dr. Ammar aku ingin kau membantu ku.”
dr. Ammar hanya berdiri di dekat Safa dan tak berani mendekat padanya lagi, khawatir ia akan kena bogem lagi.
“Ya, bantuan apa yang kau minta ? Katakan saja.”
“Aku ingin kau membuatku bertahan di tubuh ini lama. Kau bisa kan dokter ?” ucap Safa ingin menguasai tubuh itu dan meninggalkan tiga kepribadian lainnya.
dr. Ammar mencoba bicara dengan pelan meskipun sebenarnya ia tak setuju dengan permintaan Safa yang mencoba mengambil alih menguasai Afsha.
“Tentu saja bisa. Aku sudah berikan obat pada mu tadi. Kau minum secara teratur saja nanti tiga kebalik kepribadian lain di tubuh akan hilang sendiri secara otomatis setelah rutin mengkonsumsi obat dariku.” jawabnya memberikan solusi dengan sedikit berbohong jika sebenarnya obat yang diberikannya akan mereduksi tiga kepribadian lemah serta menghilangkannya secara perlahan.
“Dimana obatnya, coba berikan padaku !” pintanya tak sabar.
“Tunggu sebentar.” dr. Ammar kemudian mencari botol obat yang ada di kamar Afsha dan menemukan obat darinya lalu memberikannya pada Safa.
“Oh...” Safa segera meminum obat tersebut namun dia merasakan pusing hebat dan membuatnya pingsan dalam hitungan detik.