Finding Perfect Wife

Finding Perfect Wife
Eps. 48 Aroma Daging Kambing



Setelah kejadian itu Afsha setiap hari rutin minum obat dengan ancaman dari dr. Ammar jika tidak minum ia akan menghubungi ayahnya. Maka Afsha pun menurut saja dan rutin meminum obat itu.


“Jangan lupa besok akan ada acara makan malam bersama di rumah ini.” ucap dr. Ammar di pagi hari sebelum berangkat kerja, mendatangi para pelayan yang ada di sana termasuk Afsha. “Untuk daftar makanan yang akan dihidangkan besok dan lain sebagainya kalian bisa tanyakan langsung pada Nyonya Fatima.” tambahnya sebelum beranjak pergi dari sana.


“Baik, tuan.” jawab semua pelayan yang ada di sana.


dr. Ammar kemudian segera masuk ke mobilnya karena ia tak mau sampai terlambat sampai ke rumah sakit.


Tiga pelayan lainnya segera menanyakan pada nyonya rumah apa saja yang harus mereka beli dan persiapkan untuk besok.


“Afsha kenapa kau masih di sana ? Cepat bantu kami.” ucap Kak Fajar memanggil Afsha yang masih diam, berdiri mematung.


“Ya, kak.” ia pun segera bergabung dengan yang lainnya. “Sebenarnya ada acara apa kak besok itu ?” tanyanya pada kak Cala penasaran.


“dr. Ammar di angkat menjadi dokter senior di rumah sakit yang mengepalai pskiater lain yang ada di sana.”


Afsha kelihatan terkejut mendengarnya, “dr. Ammar yang seperti itu seorang dokter yang berprestasi ?” jawabnya tersenyum meremehkan tak percaya saja dengan pencapaian pria itu.


“Jangan salah, dr. Ammar itu sangat terkenal di rumah sakit Aspetar bahkan dia banyak menerima pasien VVIP. Dan hebatnya lagi pasien yang tak bisa ditangani oleh dokter lain bisa sembuh di tangannya.” kak Cala memuji pria tersebut.


“Oh ya ?” lagi-lagi Afsha tak percaya mana cerita tersebut.


“Sudahlah kita harus bekerja sekarang atau nyonya akan memarahi kita.” Kak Cala mengingatkan lagi pekerjaan yang menanti di depan mereka.


Afsha dan pelayan lainnya kemudian terlihat sibuk. Ada yang berbelanja, menata peralatan untuk acara besok dan lain sebagainya.


“Kau ikut aku berbelanja di pasar saja.” ucap Kak Amla karena melihat Afsha sudah selesai membantu yang lainnya.


“Ya, kak.”


Afsha mengikuti wanita itu pergi ke pasar untuk membeli semua bahan yang diperlukan dalam memasak hidangan.


“Ugh...” Afsha serasa mau muntah saat mereka baru memasuki pasar dengan bau yang bercampur aduk menjadi satu.


“Tak apa, kak.” jawabnya meskipun ia menahan rasa mual seperti diaduk-aduk perutnya karena sebenarnya Ini baru pertama kalinya dia pergi ke pasar.


Afsha terlihat sering menutup hidungnya saat mereka berjalan melewati pedagang yang menjual bahan dengan bau menyengat.


“Kita beli daging kambing dulu.” Kak Amla berhenti di penjual daging, bahan terakhir yang harus dibelinya.


Afsha ikut berhenti dan berdiri agak jauh dari tempat penjual tadi sambil menenteng empat kantong plastik besar yang berisikan barang belanjaan mereka.


“Oh bau daging kambing ini benar-benar hanya membuatku mual tapi juga pusing.” berulang kali ia menoleh ke belakang menunggu Kak Amla yang masih mengantri.


“Ayo kita pulang sekarang.” ajak Kak Amla beberapa menit kemudian lalu berjalan di samping Afsha yang terus menutup hidungnya selama perjalanan kembali ke rumah.


Sesampainya di rumah, Afsha buru-buru lari ke kamar mandi.


“hoek.” disana ia menumpahkan semua isi perutnya yang ia tahan sedari tadi.


Gadis itu kemudian keluar dari kamar mandi dan membantu pelayan lainnya menyiapkan bahan masakan sambil memakai masker karena benar-benar tak tahan dengan bau daging kambing bercampur bahan lain yang sangat menyengat.


Hingga sore hari setelah semuanya selesai, Afsha duduk di taman depan karena ingin mirip udara yang bebas dari aroma daging kambing.


Di saat dia sedang menghirup segarnya udara yang bersih di luar, tiba-tiba dr. Ammar datang.


“Afsha bawa ini dan taruh di dapur.” pria itu kebetulan melihatnya dan menghampirinya sembari menyerahkan bungkusan daging padanya.


“Ugh, apa ini daging kambing ?”


Afsha tak mau membawanya begitu tercium aroma daging kambing dari kantong plastik yang dibawa oleh dr. Ammar.


“pfft.” langsung saja ia kembali mual dan muntah, parahnya lagi ia muntah di baju dr. Ammar.